Hari Sabtu pun tiba. Aku sudah berjanji pada Jessi untuk menemaninya pergi ke mall untuk memangkas rambutnya. Padahal aku sudah memperingatinya berulang kali kalau rambut pendeknya itu nanti akan menjadi masalah dengan Mamaku, namun Jessi terus ngotot dan bersikukuh untuk memotong rambutnya lebih pendek dari sekarang. Menurutku rambutnya sekarang saja sudah pendek. Seumur-umur baru kali ini Jessi potong sebahu seperti ini.
"Kamu beneran mau potong lebih pendek dari ini?" tanyaku sesampainya di parkiran mall.
"Beneran," jawab Jessi singkat lalu dia turun dari mobil. Aku menyusulnya.
"Kamu lagi patah hati apa gimana kok potong pendek banget?"
Jessi menatapku lalu tersenyum. "Patah hati sama siapa? Aku nggak lagi deket sama siapa-siapa."
"Terus alesan potong pendek kenapa?" tanyaku lagi.
"Pengen aja. Dari kecil loh aku ga dibolehin Mama buat potong pendek. Mumpung sekarang bisa, kenapa enggak dicoba?"
Aku berdecak kesal lalu menggandeng tangan Jessi. Kemudian kita berjalan masuk ke lobby mall beriringan.
Sesampainya di depan salon yang ada di dalam mall itu, aku sempat menghentikan langkahku sehingga membuat Jessi ikut berhenti lalu menatapku dengan wajah bingung.
"Kenapa?" tanya Jessi.
"Kamu yakin?"
Jessi mencubit pinggangku pelan. Ekspresinya berubah menjadi gemas sampai giginya yang rata sedikit renggang itu terlihat seakan ingin menerkamku.
"Bawel banget. Aku yakin!" sungut Jessi lalu melepaskan gandengan tanganku. Jessi masuk ke dalam salon itu sendiri.
"Jess, tunggu!"
***
Jessi sudah duduk di depan cermin dengan seorang perempuan berdiri di belakangnya. Si penata rambut itu sempat bertanya kepada Jessi apakah sudah yakin dengan model rambut pilihannya. Dan Jessi menjawab dengan yakin sambil mengangguk antusias. Raut antusiasnya itu terlihat sangat gemas dari pantulan cermin di depannya. Tanpa sadar bibirku tersenyum sendiri melihat Jessi seperti itu.
"Pacarnya ya, Mas?" tanya si penata rambut sambil menoleh padaku.
"Eh, eng-"
"Iya, Kak. Pacarku," jawab Jessi memotong ucapanku.
Tunggu...
"Mirip ya," ucap si penata rambut. Jessi melirikku lewat cermin lalu senyum-senyum sendiri melihatku sedang menatapnya tajam. Aku sempat mengepalkan tangan ke arahnya tapi dia malah semakin cekikikan.
Si penata rambut itu mulai memotong rambut Jessi secara perlahan. Bunyi dentingan gunting dan suara rambut terpotong itu membuat dadaku sedikit bergetar. Jantungku berdegup kencang dan berharap agar hasil potongan rambut itu akan cocok nantinya dengan Jessi.
"Harusnya aku nggak ngajakin kamu ya. Biar surprise gitu," ucap Jessi.
"Aku bakal marah besar sih kalo kamu pulang-pulang udah rambut pendek," jawabku lalu terdiam sejenak. "Abis aku marahin terus aku aduin ke Mama."
Jessi melotot menatapku. Dagunya berkerut dan terangkat sedikit. "Awas aja!" bisiknya kemudian.
Setelah menunggu selama hampir setengah jam sambil deg-deg an, akhirnya Jessi selesai. Aku berdiri dan berjalan mendekati Jessi sebelum si penata rambut itu melepas jubah penutup di badan Jessi. Si penata rambut tersenyum sambil melihatku. "Cocok banget, Mas. Pacarnya jadi keliatan lebih fresh dan dewasa gini," ucapnya.
Jessi memutarkan kepalanya ke kanan kiri melihat hasil potongannya. Dia sempat menyuruhku mengambil cermin kecil yang ada di meja bawah cermin. Aku mengambil cermin itu lalu memposisikan di belakang kepala Jessi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pikk-usisko
FanfictionAku punya adik, namanya Jessica. Dia baru berumur 16 tahun sekarang, dan aku sendiri seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk mengerjakan skrip dan menjalankan sebuah usaha kecil pemberian dari orang tua ku.
