Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Jessi terus menggodaku. Sesekali dia mengusap pahaku, kadang lenganku, kadang dia juga memanggil dengan nada yang sangat menggoda. Saat aku melirik dan melihat wajahnya, Jessi menatapku dengan ekspresi yang siap menerkam kapan saja.
"Jess, ini masih di jalan ya. Nanti sampe rumah aja," kataku mencoba memperingati Jessi.
"Aku udah nggak sabar," sahutnya.
"Bentar lagi sampe rumah. Sepuluh menit lagi, Jess."
"Cepetan pokoknya!"
Setelah perjalanan yang menguras fokus dan kesabaranku, akhirnya kita sampai rumah. Jessi langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Aku membuka bagasi mobil terlebih dahulu dan membawa barang-barang. Setelah itu aku menyusul Jessi masuk ke dalam rumah.
Saat hendak ke kamar, aku bertemu dengan Jessi di lorong, dia sedang menenteng handuk di lengan kirinya.
"Aku mandi dulu ya? Abis ini langsung gantian kamu yang mandi," kata Jessi sambil mengedipkan satu matanya.
"Emang air panasnya udah?" kutanya. Seketika itu Jessi langsung berhenti dan menggeleng sambil tersenyum ke arahku.
"Hadeehhh.... Kalo gitu aku aja yang mandi dulu. Aku bikinin air panas sekalian." Aku pun cepat-cepat pergi ke dapur dan menyiapkan air panas untuk Jessi, lalu aku pergi mandi.
Seusai mandi, aku melihat Jessi sedang duduk di meja makan yang fokus menatap layar hpnya, dengan perlahan aku mendekatinya. Namun baru beberapa langkah aku mendekat, Jessi terlihat panik dan cepat-cepat menyembunyikan hpnya.
"Kenapa sih?" tanyaku penasaran.
"Gak pa-pa."
Kemudian Jessi bangkit dan pergi begitu saja masuk ke dalam kamar mandi. Melihat itu, aku jadi teringat kalau belum menuangkan air panas ke dalam bak mandi untuk Jessi.
"Jessi, air panasnya belom!" teriakku dari balik pintu.
Cklek
Jessi membuka pintu kamar mandi dengan tubuh yang sudah telanjang bulat. Dia menatapku dengan datar dan keluar begitu saja dari dalam kamar mandi tanpa berusaha menutupi tubuhnya. Entah kenapa melihat Jessi telanjang bulat seperti ini rasanya menggelitik birahiku, padahal sudah jadi makanan sehari-hari melihat Jessi telanjang seperti ini. Berapa kali pun Jessi telanjang, aku pasti akan sange juga kalau melihatnya.
"Kenapa malah bengong?" tanya Jessi membuyarkan lamunanku. Aku yang sedari tadi melihat Jessi yang telanjang jadi cepat-cepat menuangkan air panas ke bak mandi. Setelah itu aku menyuruh Jessi untuk mandi.
"Huuffttt... untung nggak kelepasan," batinku. Aku cepat-cepat pergi ke kamar untuk ganti baju dan bersiap tidur.
---
Cklek
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Jessi membuka pintu kamarku tanpa mengetuk terlebih dahulu. Aku bisa melihat dia sedang tersenyum sambil menyembulkan kepalanya dari celah pintu. Tanpa berucap apapun, dia masuk dan menutup pintu, setelah itu berjalan mendekati aku yang sedang santai di atas kasur.
"Kenapa?" kutanya. Senyumnya belum pudar sedari tadi.
"Hadiahku mana?"
Ah iya. Hadiah Jessi. Aku baru ingat.
Aku menyibakkan selimutku dan menepuk-nepuk bagian kasurku yang kosong, mengisyaratkan Jessi untuk mengisi tempat kosong itu. Jessi tersenyum lebar hingga giginya yang sedikit renggang itu terlihat. Setelah itu dia melompat ke atas kasur dan langsung memelukku dengan erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pikk-usisko
FanfictionAku punya adik, namanya Jessica. Dia baru berumur 16 tahun sekarang, dan aku sendiri seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk mengerjakan skrip dan menjalankan sebuah usaha kecil pemberian dari orang tua ku.
