Tujuh

1.9K 63 5
                                        

Aku sedang tiduran di kasur sambil menatap kosong langit-langit kamarku. Jam sudah menunjukkan pukul 11malam tapi Jessi belum muncul. Aneh, aku sekarang malah mengharapkan Jessi untuk tidur bersamaku. Kalau beberapa minggu yang lalu mungkin aku akan merasa risih dan terganggu, kini malah terasa kebalikannya. Seakan ada yang kurang kalau Jessi tidak tidur bersamaku.

Aku menjadi gelisah karena sudah jam setengah 12 Jessi tak kunjung muncul. Padahal aku tahu kalau dia pasti sedang berada di kamarnya. Entah mengerjakan tugas atau sudah tertidur. Karena rasa penasaranku ini, aku memutuskan untuk turun dari ranjang lalu pergi ke kamar Jessi.

Tok Tok Tok

"Masuk," sahut Jessi dari dalam menyuruhku untuk masuk.

Aku membuka pintu itu perlahan lalu mengintip sedikit melihat apa yang Jessi lakukan di dalam sana. Jessi terlihat sedang duduk di meja belajarnya dengan tangan kanan memegang pulpen dan lampu belajarnya yang belum padam. Aku yakin kalau Jessi sedang belajar atau mengerjakan tugas saat itu.

"Kenapa?" tanya Jessi sambil memandang ke arahku.

"Gapapa. Kamu ngapain?"

"Ngerjain tugas."

Mulutku lalu membulat ber -oh- ria lantas memilih duduk di tepi ranjangnya. Jessi terlihat cuek dan melanjutkan kegiatannya mengerjakan tugas.

Dari belakang seperti ini, walaupun sebagian tubuhnya tertutup oleh sandaran kursi, aku masih bisa melihat lekuk tubuh Jessi dengan jelas. Bau shampo kesukaannya bisa tercium menggelitik indra penciumanku walaupun aku sedikit berjarak dengan posisinya sekarang. Bau itu, aku suka. Padahal aku juga tau merk apa shampo itu, tapi entah kenapa kalau Jessi yang memakainya seakan menggodaku untuk terus menciumi aroma itu.

Jessi meletakkan kedua tangannya di kepala lalu sedetik kemudian dia mendesah panjang. Desahan itu terdengar seperti rasa frustasi yang muncul ketika Jessi tak bisa melakukan sesuatu. Karena aku merasa kasihan, aku pun menghampirinya.

"Susah ya? PR apa sih?" tanyaku sambil mendekat berdiri tepat di belakang Jessi.

"Matematika," jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya.

"Mau aku bantu?"

Kepala Jessi menengadah menghadap ke arahku dengan senyum yang sudah terukir di wajahnya. Setelah itu matanya menyipit dan mengangguk antusias seperti anak kecil. Untuk sepersekian detik jantungku menjadi tak karuan melihat ekspresi Jessi seperti itu. Apakah perasaanku pada Jessi perlahan mulai berubah? Aku harap biar seperti ini saja perasaanku pada Jessi, aku tak ingin lebih, batinku.

"Mana yang ga paham?" Aku mencondongkan tubuhku mendekat ke pekerjaan Jessi. Karena posisiku ini, aroma shampo Jessi semakin tercium menusuk indra penciumanku. Sedetik aku terperangah dan tak fokus ketika Jessi menjelaskan materinya. Aku menggelengkan kepala lalu kembali fokus ke Jessi.

"Bisa nggak?" tanya Jessi.

"Bisa. Tapi aku baca-baca dulu bukumu. Mana buku paket sama catetanmu?"

Jessi mengeluarkan sebuah buku dari tumpukan buku di meja belajarnya lalu menyodorkan ke arahku. "Nih buku catetanku." Lalu Jessi membungkuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Tak lama kemudian dia menyerahkan sebuah buku paket kepadaku.

"Oke, aku baca-baca dulu ya."

Jessi tiba-tiba berdiri dan meringkasi tugas serta alat tulisnya yang berserakan di meja belajar. Aku memicingkan mataku melihat itu. Bukannya dia belum selesai mengerjakan tugas?

"Heh, mau kemana? Tugasmu belom selesai, 'kan?" tanyaku sambil menahan pundaknya.

"Gantian. Kamu duduk sini, aku di kasur," jawab Jessi sambil tersenyum memamerkan gigir ratanya.

Pikk-usiskoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang