Sembilan

1.6K 53 1
                                        

Satu minggu telah berlalu dan aku melewati beberapa hari belakangan ini dengan penuh kegeraman. Jessi terus mengeluh tiap hari kepadaku kalau perutnya sakit. Bukan hanya itu saja, dia juga lebih manja kepadaku beberapa hari ini. Aku memaklumi kalau dia terus mengeluh sakit kalau sedang menstruasi seperti ini, tapi kelakuan manjanya itu yang membuatku geram.

Setiap pulang sekolah, Jessi langsung menempel padaku. Kalau aku belum pulang, Jessi pasti menungguku di depan pintu. Padahal dia tau kalau di depan pintu selalu banyak orang karena warnetku sedang ramai-ramainya. Terlebih lagi Jessi hanya mengenakan tanktop tipis dan celana pendek. Dan aku yakin kalau dia pasti tidak memakai bh. Aku bisa membayangkan mata laki-laki yang lewat memandangi tubuhnya dengan bebas. Jujur, aku tak suka itu, tapi Jessi masih ngeyel tak bisa aku peringatkan. Dia selalu bilang 'malas' atau 'sakit' setiap saat aku memperingati soal memakai bh.

Sore ini aku baru pulang sekitar jam 5. Saat aku memarkirkan motor di garasi, Jessi sudah menyambutku sambil berlari lalu melompat memelukku. Saat tubuhnya itu aku peluk, aku sadar kalau Jessi sedang tak memakai bh.

"Dari jam berapa nungguin disini?" tanyaku.

"Jam 3 tadi."

"Pulang sekolah langsung nunggu disini?" Aku bertanya sambil menatap tajam ke arahnya.

"Kenapa sih? Galak banget. Emang ga boleh nungguin kakak sendiri?" jawabnya sambil memutar matanya malas. Setelah itu dia melepaskan pelukannya lalu berlalu masuk ke dalam rumah.

***

Sudah jam 8 malam namun Jessi belum masuk ke dalam kamarku semenjak tadi sore. Bahkan aku terakhir melihatnya itu saat dia hendak mandi tadi sekitar jam 6. Heran. Tak seperti biasanya dia seperti ini. Apa dia marah? Apa dia masih datang bulan? Ah! Kalo mengingat soal datang bulan hal itu membuatku sedikit jengkel juga. Gara-gara itu juga aku gagal bersetubuh dengan Jessi.

Cklek

"Kak." Jessi tiba-tiba masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Kepalanya mengintip sambil tersenyum.

"Apa?" jawabku.

"Laper."

Aku baru teringat kalau Jessi belum makan. Salahku juga tadi ketika pulang dari kampus nggak membelikan dia makanan terlebih dahulu dan memilih langsung pulang karena sudah sangat capek.

Jessi membuka pintu lalu masuk. Tanpa permisi dia naik ke atas kasurku lalu menggulung tubuhnya di balik selimut bersamaku. Tangannya langsung melingkar di pundakku lalu dia memelukku dengan erat.

"Mau makan..." ucapnya dengan nada sangat manja.

"Iya, iya. Mau makan apa?" tanyaku sambil mengusap pucuk kepalanya.

"Hmm..." Jessi terlihat berpikir sambil menatapku. "Ayam krispi?"

"Boleehhh..." Aku mengambil hp ku yang ada di nakas meja lalu memesankan ayam krispi kesukaan Jessi lewat aplikasi online. "Udah aku pesen ya."

"Yeaayy..." Jessi melepaskan pelukannya lalu turun dari kasurku. "Aku ke kamar dulu ya. Mau belajar matematika," ucapnya sebelum beranjak keluar dari kamarku.

Saat Jessi hampir keluar, aku memanggilnya. Rasa penasaranku ini seperti ingin dipuaskan dengan jawaban Jessi secara langsung. Jessi berhenti lalu berbalik menghadapku sambil tersenyum.

"Kamu masih dapet?" tanyaku.

Jessi menggeleng lalu membuka pintuku. Tepat sebelum pintu ditutup, kepala Jessi mengintip dari sela-sela pintu.

"Abis makan ke kamarku ya," ucap Jessi sambil mengedipkan satu matanya lalu menutup pintu dengan rapat. Untuk sepersekian detik jantungku seperti berhenti berdetak. Kedipan mata itu membuat hatiku berantakan. Sungguh! Seandainya Jessi bukan adik kandungku, pasti sudah aku nikahi dia.

Pikk-usiskoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang