Dua Belas

1.7K 45 1
                                        

Aku sedang berada di dapur sekarang. Sepanjang perjalanan dari mall, Jessi terus merengek ingin cepat-cepat pulang dan makan. Katanya, perutnya sudah lapar dan bunyi terus. Lagian aku sudah menawarinya makan di mall, tapi dia bersikukuh ingin makan masakanku. Maka dari itu, kini aku sedang sibuk memotong bahan makanan. Sementara Jessi sudah masuk kamarnya sedari tadi. Entah apa yang dia lakukan di sana.

Saat sedang memotong wortel, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutku. Suara tawa kecil terdengar dan aku tau suara siapa itu. Jessi memelukku dari belakang.

"Masak apa?" tanya Jessi. Kepalanya mengintip melihat apa yang sedang aku lakukan.

"Katanya kamu pengen sayur sop sama ayam goreng? Untung di kulkas masih ada ayam yang udah aku ungkep kemarin," kujawab..

"Iiihhhh... kamu kok baik banget sama aku sih?"

Tanganku berhenti memotong ketika pertanyaan itu terlontar. Kepalaku menoleh menatap Jessi yang sedang senyum-senyum sendiri. Sungguh, rambut pendeknya itu membuat pesona Jessi jadi jauh berbeda. Dia kini terlihat sangat dewasa di mataku.

"Baik banget? Menurut lo?" ucapku dengan nada sinis. Jessi malah makin tertawa dengan jawabanku.

"Ada yang bisa dibantu nggak?" Jessi melepaskan pelukannya lalu berdiri tepat di sebelahku. Matanya kini menatap sekitar pantry mencari sesuatu yang bisa dikerjakan.

"Serius mau bantu? Tumben?" jawabku.

"Dih." Jessi menyikutku pelan. "Giliran lagi gini disindir. Pas lagi males malah diomelin terus. Mageran lah, ngrepoti lah," gerutu Jessi. Bibir bawahnya itu sedikit maju seolah sedang mencibirku terang-terangan.

"Hadehhh..." Aku menuju ke kulkas lalu mengeluarkan ayam ungkep dari dalam wadah, kemudian ayam itu aku letakkan di sebelah kompor.

"Bisa goreng ayam, 'kan?" kutanya pada Jessi.

"Bi-bisa..." Jessi menjawab dengan nada ragu. Seingatku, dia belum pernah menggoreng ayam selama ini.

"Kamu goreng ayam, ya? Terserah mau kamu goreng berapa."

Aku kembali ke pantry dan melanjutkan memotong bahan-bahan makanan, sementara Jessi bergeser ke depan kompor. Tangannya mulai sibuk membuka dan menyiapkan ayam tersebut pada saringan minyak. Setelah itu dia hanya terdiam.

"Kenapa?"

"Cara nyalain kompor gimana?" tanya Jessi dengan polos. Dia masih bengong di depan kompor sambil sesekali menatapku.

"Hadeeehhhhhhhh...."

***

Setengah jam telah berlalu sambil repot mengajari Jessi memasak, akhirnya semua masakan matang. Aku dan Jessi bekerja sama untuk menyajikan semua masakan ini di meja makan. Setelah itu, mulailah kita makan bersama. Jessi duduk di hadapanku. Ada satu kebiasaan kecil yang aku suka dari Jessi ketika makan. Dia selalu menungguku untuk menyuap nasi pertamaku sebelum dia mulai makan. Dia tak akan pernah mau menyentuh makanannya sebelum aku menyuap nasiku terlebih dahulu. Beda cerita jika aku masih repot menyiapkan hal lain dan menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu.

"Kak, aku besok ngajak temenku kesini boleh nggak?" tanya Jessi di tengah-tengah makan.

"Hmm?" Kepalaku sedikit miring. "Siapa?" tanyaku kemudian.

"Freya namanya. Dia temen sekelasku," jawab Jessi.

Freya? Aku belum pernah mendengar nama itu. Lagi pula Jessi juga tidak pernah menceritakan tentang teman atau kegiatan sekolahnya selama ini. Aku harap dia baik-baik saja dan mempunyai banyak teman di Sekolah.

"Boleh. Mau nginep dia?"

"Iya. Sekalian ngerjain tugas sekolah. Rencananya dia kesini besok Jum'at. Nanti dia pulang bareng aku sekalian," jelas Jessi.

Pikk-usiskoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang