Aku mendekati Jessi secara perlahan dan penisku semakin dekat dengan wajahnya. Alis Jessi bertaut melihat penisku yang semakin dekat dengan wajahnya. Kepalanya mundur sedikit menjauh saat penisku hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
"Kamu mau coba ngemut? tanyaku sambil memajukan sedikit penisku ke wajahnya.
Jessi semakin memundurkan kepalanya. "Hmm... nggak deh."
"Kenapa?"
Jessi membuang pandangannya menghindari tatapan mataku. Matanya meredup seakan menjelaskan kalau Jessi sedang ragu. Senyum yang tadi terlihat pun mulai pudar dari bibirnya.
"A-aku... aku ga bisa," jawab Jessi tanpa melihat ke arahku.
"Tapi mau coba nggak?"
Jessi menatapku kembali. Rona merah sudah nampak jelas di pipinya. "Maaf," katanya kemudian.
Aku mengedikkan bahuku lalu memilih untuk duduk di tepi kasur. Jessi pun beranjak dari posisi tengkurap menjadi ikut duduk di sampingku. Dari ujung kamar Jessi, aku bisa melihat pantulan bayangan kita berdua dari cermin besar yang ada di sana. Lucu rasanya melihat kita berdua telanjang seperti ini dalam satu ruangan. Tapi lekuk tubuh Jessi ini membuatku lupa kalau dia adalah adikku. Kumohon, untuk malam ini saja. Bolehkah aku menyetubuhi adikku?
"Jadi nggak?" Jessi berucap membuyarkan lamunanku. Mataku beralih dari cermin besar itu menuju ke matanya yang sayu. Jessi tersenyum manis sambil menggigit bibir bawahnya sedikit. Aku tak bisa menahannya. Wajahku lantas mendekat perlahan mengikis jarak antara kita berdua. Mata Jessi menutup perlahan. Terpaan nafas bisa aku rasakan menerjang bibirku ketika bibir kita sudah sangat dekat. Dengan perlahan bibir kita saling bertemu lagi, hanya saling menempel. Tak ada kuluman tak ada lumatan. Kita menikmati momen untuk beberapa saat sampai Jessi memberi jarak.
"Mau coba kocokin?" tanyaku. Mata Jessi mulai berbinar kembali dan raut wajahnya terlihat antusias dengan tawaranku. Jessi mengangguk mengiyakan.
Aku meraih tangan kanan Jessi lalu menuntunnya ke penisku. Saat mulai mendekat dengan penisku, aku bisa merasakan dia sedikit menahan tangannya. Aku mengasumsikan itu hanya respon Jessi yang masih tak terbiasa dengan penisku ini. Aku tersenyum ke arahnya agar Jessi tenang. Sekejap mata kita saling bertemu hingga Jessi menatap penisku kembali lalu dengan sendirinya dia memegang penisku secara perlahan.
"Nah, pegangnya gitu." Tangan Jessi yang mungil itu tak cukup untuk menggenggam penisku yang sangat besar ini. Mungkin hanya setengahnya saja yang bisa ia raih dengan tangan mungilnya itu.
"Biar gampang, coba kamu duduk di sini aja," kataku sambil menunjuk tempat kosong di antara kedua kakiku. Jessi mengangguk lalu berpindah duduk bersimpuh di antara kedua kakiku. Kini wajahnya kembali dekat dengan penisku.
"Pake dua tangan, Jessi."
Jessi mengangguk dan mulai menggunakan kedua tangannya untuk menangkup penisku. Dengan kedua tangan Jessi, penisku dapat digenggamnya sempurna.
"Coba kamu naik turunin."
"Naik turunin gimana?"
Aku menuntun tangannya untuk mulai mengurut penisku naik turun secara perlahan. Saat tangannya mulai terbiasa, aku melepaskan tanganku. Jessi kini bergerak dengan sendirinya. Sementara aku menikmatinya sambil terus memandangi wajah Jessi yang terlihat sangat antusias dengan apa yang dia lakukan.
"Pelan-pelan aja ya. Jangan kasar-kasar."
"Iya."
Tangannya mulai terbiasa dan bergerak secara teratur dengan tempo perlahan. Kepalanya meneleng ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Matanya mengamati penisku sedari tadi. Pandangan itu seakan tak ingin terlepas dengan objek yang ada di depannya. Sesekali Jessi juga tersenyum ketika mendengarku mengerang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pikk-usisko
FanfictionAku punya adik, namanya Jessica. Dia baru berumur 16 tahun sekarang, dan aku sendiri seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk mengerjakan skrip dan menjalankan sebuah usaha kecil pemberian dari orang tua ku.
