Empat Belas

2.7K 67 2
                                        

Sepulang dari mengantar Freya, Jessi langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucap sepatah katapun. Aku merasa ada yang janggal pada kelakuan Jessi kali ini. Kalau dia malu, harusnya aku juga ikut menanggung malu itu. Tapi, kenapa Jessi seperti malah marah kepadaku? Bukannya dia yang menggodaku terlebih dahulu? Bukannya dia yang memaksa untuk 'bermain' di tempat parkir itu sembari menunggu Freya? Sial! Kenapa aku jadi bingung seperti ini? Cepat-cepat aku naik dan menuju kamar Jessi. Aku mengetuk kamar itu, namun tak ada jawaban dari dalam kamar Jessi. Aku mencoba membuka pintunya, ternyata terkunci dari dalam.

"Jessi... Aku mau ngomong." Aku berteriak memanggil Jessi. Namun hasilnya masih nihil. Tak ingin ambil pusing, aku memilih untuk beristirahat di kamarku saja. Lagian masih jam 2 siang. Waktu yang pas untuk tidur siang.

Saat aku baru saja menyalakan ac kamarku, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Jessi muncul dari balik kamar itu dengan mata menatap tajam ke arahku. Dari raut mukanya itu terlihat jelas kalau Jessi sedang marah. Tapi kenapa dia marah padaku?

"Kenapa?" tanyaku dengan tenang. Jessi tak menjawab dan memilih untuk berjalan mendekatiku. Saat Jessi tepat berada di depanku, dia berkacak pinggang.

"Udah dibilangin main cepet! Kenapa kamu lama-lamain?" tanya Jessi dengan penuh penekanan. Tunggu... Kenapa jadi aku yang salah disini?

"Maksudmu?"

"Aku 'kan udah bilang kalo main cepet. Kenapa sampe Freya dateng kamu malah masih ngerjain aku kayak gitu?"

Aku menghela nafas dan membuang pandanganku dari Jessi. Adikku ini masih berkacak pinggang di depanku. Aku yakin matanya masih menatap tajam ke arahku.

"Duduk dulu sini." Aku menepuk tepi kasur untuk mengisyaratkan Jessi duduk. Jessi menurut dan duduk di sampingku. "Kita inget-inget lagi ya. Sekarang aku tanya. Siapa yang godain dulu?"

Jessi membuang pandangannya menghindari tatapanku. "A-aku..." jawab Jessi dengan ragu.

"Siapa yang ngotot mau gituan di parkiran?" tanyaku lagi.

Jessi menghela nafasnya lalu kembali menatapku dengan tatapan yang sudah berubah menjadi lembut. "Aku..." jawab Jessi kemudian.

"Siapa yang maksa gituan di tempat umum?" Aku bertanya lagi.

"Iya iyaaaa akuuu..." rengek Jessi. Tatapan tajam itu benar-benar pergi dan berubah menjadi takut. Jessi jadi merasa bersalah kali ini.

"Kamu kenapa sih kok marah-marah? Mau mens ya?"

Jessi menunduk lalu mengeluarkan hpnya dari dalam saku celana. Dia terlihat seperti membuka aplikasi lalu mengangguk kepadaku. Bibirnya terlihat cemberut melengkung ke bawah.

"Wah, bakal repot lagi nih buat seminggu kedepan," gumamku.

"Apa?" tanya Jessi.

"Ah, enggak. Gak pa-pa." Aku menggaruk belakang kepalaku yang tak gatal sambil membuang wajahku.

"Yaudah, aku mau belajar dulu." Jessi bangkit lalu keluar dari kamarku.

***

Selama seminggu ini aku melewati hari-hari dengan penuh rengekan Jessi. Saat perutnya sakit, saat moodnya jelek, saat Jessi tiba-tiba marah, semua itu aku lalu dengan penuh kesabaran. Dari senin sampai hari Jum'at ini benar-benar penuh dengan ulah Jessi yang membuatku semakin kerepotan. Ini semua karena siklus datang bulannya itu.

Saat aku sedang makan di kantin kampus, tiba-tiba hpku berdering. Aku cepat-cepat mengambil hpku dari saku celana dan mengangkat telepon itu yang ternyata dari Jessi.

"Pulang jam berapa?" tanya Jessi di ujung sana.

"Agak sorean. Kenapa?" tanyaku.

"Kalo mau beli makan, beliin dua sekalian. Ada Freya di rumah."

Pikk-usiskoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang