Jessi menarik tanganku ke salah satu bilik toilet. Ternyata toilet perempuan sangat berbeda dengan toilet laki-laki. Banyak bilik yang tertutup rapat dari ujung bawah sampai atas. Berbeda dengan toilet laki-laki yang biasanya masih ada lubang di bagian bawah biliknya. Ditambah tidak ada urinoir di dalam kamar mandi perempuan. tapi perempuan mana juga yang memakai urinoir?
Jessi menarikku lalu memasukkanku ke dalam salah satu bilik toilet tersebut. Dia mendorongku hingga aku duduk di atas kloset, kemudian dia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Jessi berbalik ke arahku lalu melepas outernya itu sehingga pundak dan lengannya yang putih jadi tersaji di depan mataku. Jessi mencari tempat gantung di balik pintu kloset namun dia tidak menemukannya. Akhirnya dia memilih untuk meletakkan kemeja itu di belakangku.
Tangan Jessi meraih bagian bawah tanktopnya lalu bersiap untuk membuka kain itu, namun aku menahannya.
"Kamu yakin?" bisikku.
Jessi mengangguk. Kemudian tanganku ditepis lalu dia mulai melepaskan tanktop itu. Payudara yang terbungkus bra warna hitam itu sempat bergetar ketika bagian bawah tanktop melewati gundukan daging itu. Jessi kembali meletakkan tanktopnya di belakangku bersamaan dengan kemejanya tadi.
Glek
Aku menelan ludah susah payah. Melihat Jessi telanjang sebenarnya sudah menjadi makanan sehari-hariku, namun melihat dia telanjang di luar rumah seperti ini rasanya seperti lebih menggelitikku. Adrenalin dan nafsu birahi seakan mulai berpacu deras di aliran darahku. Jessi dengan santainya melucuti pakaiannya, sementara aku mulai takut dan deg-deg an.
"Jess, udah! Di rumah aja please..." bisikku.
"Ssstt... diem!"
Tangan Jessi mulai menuju ke punggungnya, terdengar bunyi klik lalu bra itu terlihat mengendur. Jessi membungkukkan sedikit badannya sehingga tali bra yang berada di pundaknya meluncur ke sikunya. Payudara kecil milik Jessi menyambut pandanganku kemudian. Entah kenapa puting Jessi sudah terlihat mencuat di sana. Kecil dan mancung. Payudara itu adalah kesukaanku. Bra Jessi akhirnya terlepas dari tangannya lalu dia meletakkan benda itu bersama dengan pakaian yang lainnya.
Jessi tersenyum kepadaku lalu naik ke atas pangkuanku. Tangannya langsung melingkar di leherku sehingga wajah kita berdekatan. Aku sempat memundurkan kepala ketika Jessi berniat menyosor bibirku. Alis Jessi langsung bertaut meresponku.
"Jess, di rumah aja nggak sih? Aku janji bakal nurutin kamu apa aja. Yang penting kita pulang dulu ya?" bujukku.
"Aku nggak jamin kalo di rumah masih ada mood nya apa nggak," jawab Jessi. Bibirnya kembali mendekat ke arah bibirku namun aku menahan kepalanya.
"Jess, aku takut kalo ketahuan."
"Nggak bakal ketahuan kalo kamu ngga bawel kayak gini," ucap Jessi sembari memencet hidungku. Kemudian bibirnya langsung menyosor bibirku.
Cuph
Bibir kita bertemu. Aku diam, Jessi pun diam. Bibir kita hanya saling menempel tanpa ada gerakan lumatan. Nafsuku seperti menggelitik untuk memulai melumat bibir tipis itu, namun aku tak mau tergesa buru-buru hingga Jessi akhirnya memberi jarak.
"Setelah kamu cium kemaren, aku jadi ketagihan pengen lagi," bisik Jessi. "Tapi aku bingung mintanya gimana."
"Bingung kenapa?" tanyaku.
"Malu."
Pipinya mulai merona merah dan aku bisa merasakan suhu tubuhnya mulai meningkat. Mata Jessi menghindari tatapanku yang lurus menatap matanya. Dari gelagatnya ini terlihat jelas kalau adikku sedang malu. Tumben?
"Bilang tinggal bilang," ucapku.
"Emang kamu mau?" Jessi menoleh menatapku kembali.
"Mau."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pikk-usisko
FanfictionAku punya adik, namanya Jessica. Dia baru berumur 16 tahun sekarang, dan aku sendiri seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk mengerjakan skrip dan menjalankan sebuah usaha kecil pemberian dari orang tua ku.
