Jessi masih tersenyum menatapku dengan mata sayu, tapi mata itu seakan memberikan ancaman kepadaku. Dia memang tersenyum, tapi raut wajahnya terlihat sangat marah saat itu.
"Sekarang udah nakal banget ya Kakakku ini," ucap Jessi sembari mengusap-usap pipiku pelan. Aku hanya bisa diam dan memandangi Jessi. Lidahku benar-benar kelu, sama sekali tidak bisa menjawab ucapan Jessi. Belum sempat aku merespon ucapan itu, Jessi langsung berbalik dan memunggungiku.
"Jess," panggilku pelan. Jessi tak menjawab.
"Jessi, kamu... kamu liat?"
"Aku kebangun karena denger suara berisik. Kirain ada orang nangis atau apa, ternyata lagi enak-enak toh," sindir Jessi dengan nada yang sangat tidak mengenakan.
Tanganku memegang pundak Jessi, tapi dia langsung menyentakkan pundaknya hingga tanganku terlepas. Aku mendekat ke Jessi dan mencoba memeluknya, tapi dai menghindari pelukanku dan menyingkirkan tanganku.
"Gausah deket-deket. Aku nggak suka," ucap Jessi.
"Jess, maaf. Aku..."
Jessi membalik tubuhnya jadi menghadap ke arahku. "Apa?" tanya Jessi dengan nada jutek. Wajahnya terlihat sangat kesal menatapku.
"Aku... kebawa suasana, Jess. Maaf."
"Yaudah. Mulai sekarang aku nggak mau 'main' lagi sama kamu. Kamu main aja sama Freya." Jessi kembali memunggungiku. Aku hanya bisa menghembuskan nafasku kasar.
"Kamu cemburu?" tanyaku.
Jessi hanya diam.
"Jess," panggilku karena pertanyaanku tadi tak ada responnya.
"Hmm?" Jessi berdehem menjawab panggilanku.
"Kamu cemburu?"
Jessi menggelengkan kepalanya. "Ngapain cemburu?" jawabnya kemudian.
Aku menarik pundaknya hingga dia terlentang. Dari wajah sampingnya itu aku bisa melihat wajahnya sedikit merona merah. Saat Jessi sadar sedang aku perhatikan, dia membuang wajahnya menghindari tatapan mataku.
"Kamu cemburu ya?"
Jessi menyentakkan pundaknya, lalu kembali memunggungiku tanpa menjawab. Fix. Dia cemburu, tapi ini salahku juga sih.
Aku makin mendekat dengan Jessi hingga dadaku menempel di punggungnya. Setelah itu tanganku langsung memeluk erat tubuhnya. Jessi meronta ingin melepaskan pelukanku, tapi aku masih terus bertahan untuk memeluknya hingga rontaan itu berhenti.
"Maaf ya, Jess. Maaf udah bikin kamu cemburu," bisikku di telinganya. Jessi hanya berdehem merespon ucapanku. Dia kembali meronta, namun aku malah semakin mendekap erat tubuh Jessi.
"Biar kamu mau maafin aku, kamu mau minta apa?" tawarku, karena kulihat Jessi masih marah denganku.
"Aku pengen jalan-jalan yang jauh banget," ucap Jessi pelan.
"Jauh? Kemana emang?" kutanya balik. Sesekali aku mengusap pipinya dengan punggung tanganku.
"Puncak? Bandung? Semarang? Jogja?" Nada jutek yang tadi terus keluar dari mulut Jessi kini sudah berubah menjadi antusias. Aku yang mendengar itu jadi sedikit lega. Bahkan aku bisa melihatnya sedikit tersenyum saat menjawab pertanyaanku.
"Jauh banget sampe Jogja. Yang deket-deket aja dulu ya. Puncak gimana?" tawarku. Aku masih mengusap lembut pipinya dengan punggung tanganku.
"Kapan? Besok?" tanya Jessi, lalu dia membalik tubuhnya menghadap ke arahku. Dia langsung memelukku dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pikk-usisko
FanfictionAku punya adik, namanya Jessica. Dia baru berumur 16 tahun sekarang, dan aku sendiri seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk mengerjakan skrip dan menjalankan sebuah usaha kecil pemberian dari orang tua ku.
