Baru saja aku masuk ke dalam kamar, rasa penasaranku menggelitik untuk menguping pembicaraan Jessi dan Freya. Dengan perlahan aku kembali membuka pintu, lalu menempelkan telinga pada pintu kamar mereka. Sayup-sayup aku bisa mendengar percakapan mereka di dalam.
"Kayaknya mending aku nggak ikut aja kesini deh, Jess. Jadi ganggu waktu kalian berdua," ucap Freya.
"Nggak gitu, Frey. Kamu kenapa bilang gitu? Kamu nggak ganggu kok." Jessi membalasnya.
Terjadi jeda sejenak. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Kini yang memenuhi rongga telingaku hanya suara jangkrik malam yang sedari tadi berbunyi nyaring, hingga tiba-tiba Jessi membuka pintu. Dia terlihat kaget melihatku, begitu pula aku.
"Kamu ngapain disini?" tanya Jessi dengan mata menatap tajam ke arahku.
"Freya gimana?" kutanya balik. Jessi hanya menghembuskan nafasnya panjang merespon pertanyaanku. Kemudian aku melihat Freya di belakang Jessi sedang menatapku dengan raut muka cemberut. Aku tak bisa menjelaskan apa maksud pandangannya itu.
"Maaf, Kak," ucap Freya dengan lirih, namun aku masih bisa mendengarnya. Lantas Jessi menutup pintu kamarnya.
"Biarin aja. Nanti aku yang ngurus soal Freya. Udah, kamu tidur aja sana. Aku mau ambil minum terus tidur."
Jessi lantas berlalu melewati aku menuju ke dapur. Aku mengikutinya dari belakang dan berhenti tepat ketika dia di depan kulkas.
"Freya nggak marah, 'kan? Aku denger tadi dia kayak marah gitu," kataku sambil mendekat ke Jessi.
"Enggak. Kamu tidur aja. Udah jam segini loh." Jessi melirik ke arah jam dinding. Ternyata sudah jam 12 malam.
"Yaudah deh." Kemudian aku pergi ke kamar dan menggulung tubuhku dengan selimut. Aku mencoba memejamkan mata, tapi seakan ucapan Freya berputar-putar di kepalaku. Apa maksud maafnya tadi? Apa aku sungguh membuatnya tidak nyaman? Apa aku sudah mengganggunya? Jujur saja, aku merasa tidak enak. Memikirkan ini semua membuatku jadi susah untuk memejamkan mata, hingga aku tersadar sudah jam 2 pagi.
Tok tok tok
Pintu kamarku diketuk dari luar. Kemudian aku melihat sebuah kepala yang mengintip dari balik pintu itu. Karena lampu kamar sudah aku matikan, aku dengan samar-samar melihat orang yang mengintip itu masuk dan mendekat ke arahku. Rambut pendek dengan kaos putih oversize nya yang aku kenal dan membuat aku menarik kesimpulan kalau dia adalah Jessi.
"Kenapa, Jess?" tanyaku. Dia tak menjawab dan langsung masuk ke dalam selimut memeluk tubuhku dengan erat.
"Freya udah tidur. Aku pindah kesini karena takut," ucap Jessi dengan lirih. Aku membalas pelukannya.
"Yaudah. Cepetan bobok ya. Besok mau jalan-jalan lagi, 'kan?"
Jessi mengangguk dan memejamkan matanya. Lalu aku mengusap pucuk kepalanya hingga dia tertidur. Aku pun menyusulnya setelah itu.
***
Matahari menyeruak masuk ke dalam kamar lewat kaca besar pembatas kamar dan taman belakang. Karena aku lupa menutup tirai sebelum tidur, aku sampai merasa kepanasan karena sinar matahari yang masuk langsung mengenai tubuhku. Aku membuka mata dan mencari keberadaan Jessi. Seperti dugaanku, dia sudah hilang dari sebelahku. Sambil meregangkan otot, aku meraih hpku yang berada di nakas sebelah meja. Saat melihat jam, aku sedikit terkejut. Ternyata sudah jam 9 pagi! Cepat-cepat aku turun dari kasur dan pergi ke dapur untuk membuatkan Freya dan Jessi sarapan. Tapi saat aku baru keluar dari kamar, aku melihat mereka berdua sedang duduk di samping kolam renang. Mereka bermain air sambil mengayun-ayunkan kakinya di dalam kolam.
"Jessi, Freya," panggilku. Mereka serempak menoleh ke arahku. "Udah sarapan?" kutanya.
"Udah," jawab Jessi. Freya hanya diam ketika Jessi sudah menjawab. Aku sedikit lega karena mereka sudah sarapan. Setelah itu aku pergi ke dapur untuk membuat sarapan untukku sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pikk-usisko
FanfictionAku punya adik, namanya Jessica. Dia baru berumur 16 tahun sekarang, dan aku sendiri seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk mengerjakan skrip dan menjalankan sebuah usaha kecil pemberian dari orang tua ku.
