Sembilan Belas

588 38 0
                                        

"Hari ini mau kemana?" Jessi bertanya saat aku hendak menginjak pedal gas, meninggalkan rumah. Baru jam 12 siang, dan sekarang waktu yang tepat untuk makan siang walaupun perutku sebenarnya masih cukup terisi setelah sarapan tadi.

"Hmm... Aku masih kenyang, Jess. Ada saran gak?"

"Nonton aja gimana?"

Nonton? Ide bagus. Kebetulan sedang ada film yang sedang trending sekarang. Semoga saja tidak kehabisan tiket nantinya.

Aku langsung mengiyakan saran Jessi dan mengarahkan mobilku ke mall terdekat. Sesampainya disana, Jessi langsung menggandeng tanganku ketika turun dari mobil. Oh iya. Outfitnya hari ini menurutku lucu. Dia memakai celana pendek dan kemeja milikku. Karena ukuran kemeja milikku lumayan besar untuk tubuh Jessi, sehingga celana pendek yang sedang dipakai itu jadi ketutupan jika dia sedang berdiri. Di balik kemeja itu ada tanktop warna hitam yang menjadi dalamannya. Karena lucu, aku membolehkan dia memakai kemejaku. Soal mix and match outfit memang Jessi juaranya.

"Siapa yang mau antri tiket? Siapa yang mau antri beli snack?" Helai-helai rambut Jessi tertiup udara pendingin sentral saat di pintu masuk bioskop.

Aku yang berjalan di sampingnya menoleh menatap ke antrian snack dan tiket. Karena antrian snack lebih sepi daripada tiket, aku memilih untuk mengantri di antrian tiket. Biar Jessi bisa lebih dulu mencari tempat duduk untuk menunggu.

Setelah dua tiket sudah berada di tanganku, aku mencari keberadaan Jessi. Mataku mengitari seisi lobby bioskop, namun sama sekali aku tak mendapati dimana Jessi berada. Saat kutelusuri lagi lebih teliti, ternyata dia sedang berdiri di dekat pintu masuk dengan seseorang yang belum pernah aku kenal. Aku lantas mendekat.

"Dicariin kirain kemana, Jess." Aku berdiri di sebelah Jessi dan menunjukkan tiket yang tadi aku beli.

"Eh, sorry. Aku ketemu sama temenku ini, Kak," sahut Jessi sambil matanya melirik ke orang yang ada di depannya. Jessi lantas mengenalkan temannya itu padaku.

"Kenalin. Namanya Ci Jesslyn."

Perempuan itu mengulurkan tangannya, Aku langsung menyambutnya dengan senyum tipis.

"Jesslyn, Kak."

"Temen sekolahnya Jessi?"

Jesslyn menggeleng. "Bukan. Aku udah kuliah. Temen ngedance nya Jessi."

Aku mengangguk dua kali sambil membulatkan mulutku ber-oh ria merespon itu.

"Tangannya mau sampe kapan salaman terus?"

Deg

Aku baru sadar kalau tanganku masih berjabat dengan Jesslyn. Karena sindiran itu aku langsung cepat-cepat melepas tangan Jesslyn sambil terkekeh. Sorot mata Jessi berubah sedikit tajam ke arahku, dan aku tahu kalau dia sedang cemburu. Sementara Jesslyn menutup mulutnya dengan kekehan pelan keluar dari sana.

"Kamu mau nonton juga? Atau baru kelar?" kutanya. Basa-basi sedikit sambil mencairkan suasana.

"Mau nonton juga, Kak. Kalian juga mau nonton? Nonton apa?"

Aku menunjukkan tiket yang barusan aku beli ke Jesslyn. Setelah melihat itu, alisnya sedikit terangkat. Jesslyn buru-buru mengambil tiket bioskop yang baru dibeli.

"Sama, aku juga nonton itu. Kursi kita juga sebelahan."

"Kok kebetulan banget gitu?" sahut Jessi.

Jesslyn tersenyum. "Gak tau." Kemudian dia kembali memasukkan tiket itu ke dalam tas kecilnya.

"Sambil nunggu mending cari tempat duduk aja buat ngobrol." Jessi yang sedari tadi asik menyedot minuman yang dibawa akhirnya membuka suara, lalu disambut anggukan dariku dan Jesslyn pertanda setuju dengan usulnya. Sebelum berjalan, Jessi menyodorkan popcorn dan satu gelas minuman yang dia bawa kepadaku. Aku pun mengambil itu dan tangannya langsung menggamit lenganku.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 6 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Pikk-usiskoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang