Delapan Belas

1.8K 60 1
                                        

Pagi hari ini aku terbangun karena kurasakan ada yang menyentuh dan mencolek-colek wajahku sedari tadi. Karena itu aku jadi terusik dan membuka mataku secara perlahan. Pemandangan yang menyambutku adalah wajah Jessi yang sedang tersenyum sambil tangannya mencolek-colek pipiku.

"Pagi," sapa Jessi.

Aku tersenyum menjawab sapaannya. Aku baru sadar kalau Jessi sedang menutup tubuh kita dengan selimut.

"Sekarang jam berapa?" tanyaku. Jessi hanya menggeleng merespon itu.

Aku mencoba membuka selimut ini, namun dengan cepat Jessi langsung menahan tanganku.

"Jangan dibuka," pinta Jessi. Setelah itu dia memelukku dengan erat.

"Kenapa emang? Aku cuma mau lihat ini jam berapa, Jess."

"Kalo kamu tahu ini jam berapa, emang mau ngapain?" tanya Jessi sambil memelukku.

"Nyuruh kamu mandi buat sekolah, terus bikinin sarapan.".

"Hehehe." Jessi terkekeh, lalu dia melepaskan pelukannya. Setelah itu selimut yang menutupi ini perlahan dia buka. Aku langsung terbelalak ketika menyadari jam di kamarku sudah menunjukkan pukul 8 pagi!

"Kamu mending bikinin aku surat ijin aja buat aku kasihin ke guruku besok. Atau nggak, kamu chat wali kelasku dulu buat ijin," jelas Jessi. Dia masih senyum-senyum sendiri menandakan kemenangan kalau dia bisa bolos untuk hari ini.

"Hadeehhh... Yaudah deh terserah. Mana ambilin hpku dulu. Aku kabarin wali kelasmu."

Jessi tersenyum penuh kemenangan sambil mengambil hpku yang ada di nakas sebelah kasur. Dengan berat hati aku mulai menyusun kata-kata yang rasional, yang sekiranya akan diterimah oleh wali kelas Jessi sehingga memberikan izin pada adikku untuk tidak masuk hari ini. Selama aku mengetik di hpku, kulihat wajah Jessi tak pernah lepas menatap wajahku. Senyum tipis dengan matanya yang sedikit sipit itu terus menatapku hingga aku merasa grogi.

"Kenapa sih? Ada yang aneh di wajahku?" Aku mengusap wajahku, mencari apa yang sedari tadi dilihat oleh Jessi.

"Nggak ada. Aku cuma mau liat wajahmu doang emang nggak boleh?"

"Nggak." Aku membalik tubuhku menjadi memunggungi Jessi. Namun baru sedetik aku memunggunginya, Jessi dengan santainya naik ke atas tubuhku sambil cekikikan. Bisa kurasakan dadanya yang kencang itu menggencet lenganku karena posisinya. Aku pun merasa terganggu, jadi langsung saja aku menarik dan memeluknya dengan erat. Chat yang hendak aku kirim ke wali kelas Jessi punkuurungkan. Hpku langsung aku letakkan di nakas sebelah meja.

"Kamu nggak laper?" tanyaku masih sambil memeluknya dengan erat. Aku bisa merasakan kepala Jessi mendongak mencoba menatapku. Aku menunduk dan pandangan kita saling bertemu. Sinar matahari yang menyusup lewat sela gorden seakan memantulkan cahayanya langsung ke wajah Jessi, membuat wajah adikku ini jadi nampak merah merona. Entah karena malu atau nafsu.

"Laper sih. Mau makan apa emang?" Jessi balik bertanya. Tanganku mulai mengusap pucuk kepalanya dan merapikan anak rambutnya. Sekelebat di kepalaku kepikiran untuk mencoba masakan Jessi. Seingatku selama ini dia belum pernah memasak, bahkan menyalakan kompor saja aku belum pernah lihat. Apa ini waktunya aku manja ke adikku?

"Jess," panggilku. Jessi hanya berdehem dengan mata belum terlepas dari wajahku. "Gimana kalo hari ini kamu yang masak sarapan? Sekali-kali aku yang manja gitu, ke kamu. Masak, kamu mulu yang manja?"

"Hah?!" Alis Jessi berkerut dan memandang wajahku dengan penuh tanya. "Aku aja nggak bisa nyalain kompor, apalagi masak," sangkalnya langsung. Sepertinya aku harus memberinya hadiah agar dia mau inisiatif untuk belajar memasak. Tak selamanya aku bisa merawat Jessi, tak selamanya aku bisa membuatkannya sarapan. Kalau mandiri saja dia tidak bisa, sewaktu-waktu kita berpisah, gimana keadaannya nanti?

Pikk-usiskoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang