Enam

1.6K 44 4
                                        

"Jessi, burgermu di meja makan ya!" teriakku di balik pintu kamar mandi. Aku bisa mendengar bunyi gemericik dari dalam sana yang menandakan Jessi sedang mandi.

Saat aku baru berbalik, tiba-tiba aku mendengar pintu kamar mandi itu terbuka dan kepala Jessi muncul dengan rambut panjangnya yang basah. Bibirnya tersenyum lebar hingga lesung di pipinya terlihat jelas. Sorot mata itu pun bisa menjelaskan apa yang akan diucapkannya setelah ini.

"Sini ikut mandi," ajak Jessi sambil melambaikan tangan.

Aku menggeleng lalu berbalik berniat untuk meninggalkannya pergi ke kamar. Tapi baru dua langkah, tanganku ditahan oleh Jessi. Tangan basah itu berhasil membuatku sedikit tersentak dan kaget karenanya.

"Jessi!"

Aku berbalik dan mendapati Jessi sedang telanjang bulat dengan tubuh yang basah kuyup sedang memegangi tanganku. Entah kenapa saat aku melihat Jessi yang sedang basah begini, libidoku tiba-tiba langsung naik tinggi. Tubuh yang mengkilap basah dan terkena pantulan cahaya itu membuat aku berusaha menahan gejolak nafsu birahi yang mulai keluar dari dalam tubuhku. Aku menelan ludah melihat pemandangan itu.

"Ayoooo mandiii..." rengek Jessi dengan nada manja.

"Kamu mandi dulu aja. Nanti gantian."

"Ish! Aku sengaja mandi pake air dingin loh ini, biar kamu ikut mandi juga. Tau kan kalo aku paling ga suka mandi pake air dingin?" protes Jessi. Mukanya mulai beringsut menjadi cemberut.

Memang, Jessi paling benci jika harus mandi dengan air dingin. Saat menyadari Jessi mandi pakai air dingin, aku lumayan terkejut dengan itu. Bahkan Jessi pernah berangkat sekolah dalam keadaan belum mandi karena aku lupa membeli gas saat itu. Daripada harus menunggu dan terlambat, Jessi memilih berangkat sekolah hanya dengan membasuh muka lalu pergi aku antar ke sekolah. Sebenci itu Jessi mandi dengan air dingin.

"Jessi, kamu udah gede. Mau berapa kali aku ingetin kalo kamu udah gede?" kataku memperingati dia.

"Iya tauuu. Tapi kita udah lama banget nggak mandi bareng."

"Iyalah! Kita mandi bareng kan cuma pas kamu masih segini nih!" kataku sambil mengangkat tangan sepinggang, seolah tangan itu menggambar tinggi Jessi waktu dulu. "Sekarang kamu udah segini!"

Jessi berdecak kesal lalu memutarkan bola matanya malas. Tanpa banyak bicara lagi, dia meraih kedua tanganku lalu menariknya secara paksa masuk ke dalam kamar mandi. Aku sempat menahan tarikan itu ketika di ambang pintu, tapi karena dia menarik dengan sekuat tenaga, akhirnya aku kalah dan berakhir masuk ke dalam kamar mandi.

"Buka baju!" perintah Jessi. Matanya menatap tajam ke arahku seperti mengintimidasi. Aku yang ditatap seperti itu entah kenapa menjadi takut dan akhirnya memilih untuk menurut. Seakan tatapan mata itu punya sihir kuat yang tak bisa aku lawan. Apa Jessi pernah belajar gendam?

"Celana sekaliaaannn. Apa harus aku yang bukain?"

"Nggak, nggak usah!"

Aku mundur beberapa langkah lalu memegang karet celanaku. Sekejap aku melirik Jessi mencoba memastikan, tapi dia malah melihatku dengan tatapan tajam seakan menungguku menarik celana ini hingga terlepas. Mungkin tatapan itu akan melunak kalau aku segera melepaskan celanaku, tapi aku ragu. Sungguh!

"Cepet lepas! Aku udah kedinginan!"

Aku berusaha mengatur detak jantungku lalu dengan hembusan nafas panjang, aku melepas celanaku. Terlihat Jessi sedikit tersenyum saat melihat celanaku sudah terlepas dan penisku menggantung bebas menjulang ke bawah. Aku benar-benar mati-matian menahan penis ini agar tak menegang ketika berada di depannya. Semoga dia tak menggodaku selama di kamar mandi ini.

Pikk-usiskoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang