Pertemuan tak Terduga

59 5 4
                                        

Hyora memindai lift dengan cepat, mencari apapun untuk melindungi dirinya dan Johnny yang terjebak.

"Sepertinya aku harus mengirimkan surat pengunduran diri ke Choonhee unnie" Hyora menatap Johnny

"Hah?" Johnnya bingung dengan kalimat Hyora di situasi seperti ini

"Kau harus selamat agar aku tidak dipecat"

Terdengar panel besi berderit dari langit lift. Hyora dan Johnny langsung menatap ke asal suara. Johnny masih terdiam mencoba memahami, sedangkan Hyora, badannya seakan otomatis bergerak untuk melindungi Johnny.

DUAK.

Sepertinya pria itu gagal membuka paksa atap lift. Hyora mengarahkan perlahan agar Johnny berlindung di belakangnya. Walaupun saharusnya dirinya yang melindungi Hyora, Johnny seakan tersihir untuk menuruti Hyora.

DUAAAK.

Walaupun gagal di percobaan pertama, laki-laki itu berhasil di percobaan kedua.

"Mari buat ini cepat selesai?" ucap laki-laki itu setelah berhasil mendarat dengan mulus walaupun melompat dari langit-langit lift.

"Dari awal ini pertarungan yang sangat tidak adil" jawab Hyora mencoba bernegosiasi. Kalaupun apa yang terjadi pada Johnny dan Hyora saat ini ada dalam series, mereka benar-benar bodoh membiarkan dirinya memilih lift dan terjebak.

"Kau lihat, apakah aku peduli?"

Johnny terdiam, tetapi Hyora tau kalau sesuatu sudah terjadi. Pekerjaan lamanya memaksakan Hyora untuk sensitif pada senjata api. Laki-laki itu benar-benar tidak peduli. Ia baru saja menembak Hyora. Karena peredam suara, Johnny tidak tau apa yang terjadi.

"Kau tau -uhuk" Hyora terbatuk. Tubuhnya memberi tanda kalau dirinya sedikit lagi akan jatuh "Kalau orang di belakangku ini cukup terkenal" Hyora menahan tenggorokannya agar tidak terbatuk

"Lalu?" jawab laki-laki itu

Johnny baru tersadar. Ia baru menyadari kalau pria di hadapan mereka saat ini baru saja menembak Hyora. Kakinya melemas, tetapi ia memaksa dirinya untuk tetap berdiri tegak. Mengikuti permainan Hyora. Bukan saatnya, bukan saatnya Johnny panik.

"Dimana dia, ada kemungkinan memiliki sasaeng" jawab Hyora

Kalimat Hyora berhasil mengkerutkan wajah laki-laki itu. Hyora benar, bagaimana ia terlupa soal itu.

"Dan, walaupun kamu baru. Aku tau, kamu tau kalau tempat kerjamu itu tidak suka itu" kali ini Hyora tersenyum licik. Hyora tau kalau kalimatnya ini menang telak. "Kondisi yang tidak bagus bukan?"

Laki-laki itu kembali mengarahkan pistolnya pada Hyora. Johnny sedikit menggertak terkejut, kedua tangan Hyora terangkat, telapak tangannya menghadap ke laki-laki itu untuk memberikan gestur agar tenang.

"Ah" walaupun hampir tidak terdengar keras, erangan Hyora terdengar oleh Johnny. Pandangan Johnny jadi terfokus pada punggung Hyora.

Hyora memegangi sisi kanan perutnya, saat itu Johnny tersadar, Hyora terluka. Seakan keapalanya terpukul keras dengan tongkat, Johnny gagal melindungi Hyora. Harga dirinya terluka.

"Benar" Johnny memegangi bahu Hyora, sedikit menarik Hyora agar posisinya bertukar. Hyora tidak menolak, kalau terlalu banyak bergerak, dia akan lebih cepat pingsan.

"Sasaeng memang menyebalkan. Kukira karena kau bicara dengan Bahasa Korea, kau tau, kalau artis seperti aku paling tidak diikuti 3 orang. Minimal" Johnny mencoba melebih-lebihkan kebohongannya

"Lalu kalian mau apa?" laki-laki itu mengarahkan pistolnya bergantian ke arah Hyora dan Johnny.

"Tinggalkan kami" jawab Hyora merintih "Anggap saja hari ini tidak terjadi"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 31, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Manajer-nimTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang