CofA Ending

577 57 18
                                        

Suasana malam itu penuh warna dan riuh rendah suara manusia yang bergembira. Lampion-lampion kertas menggantung di sepanjang jalan, berayun pelan ditiup angin malam yang sejuk. Musik latar festival mengalun lembut, bercampur dengan suara gelak tawa anak-anak, denting permainan karnaval, dan suara tawar-menawar yang riuh dari para pedagang.

Di tengah keramaian itu, dua sosok menarik perhatian di atas panggung utama—Bitna dan Eugene, berdiri berdampingan sebagai MC malam itu. Bitna tampil anggun dengan outfit simpel tapi mencolok, sementara Eugene dengan gaya santainya tetap terlihat karismatik. Keduanya bergantian melempar candaan dan menyapa pengunjung, menghidupkan suasana dengan gaya khas mereka.

Tak jauh dari panggung, di antara deretan stan makanan, terdapat sebuah stan kecil yang dihias seadanya. Di sanalah Jaeve dan Willy berdiri, membagikan tester makanan dari stan mereka—makanan fusion buatan mereka sendiri, hasil eksperimen yang pernah hampir membuat dapur sekolah kebakaran. Tapi malam ini, tak ada semangat dari Jaeve seperti biasanya.

Wajah Jaeve murung, tubuhnya agak membungkuk, dan cara dia menyodorkan tester pun seolah sedang menjalani hukuman. Beberapa orang lewat tanpa mengindahkan tawarannya. Sebagian hanya tersenyum canggung dan melangkah pergi.

Sebaliknya, Willy tampak bersinar. Dengan senyum yang menawan dan gaya bicara yang ramah, dia dengan mudah menarik perhatian pengunjung, membuat testernya cepat habis. Setiap pujian dari pengunjung hanya membuat Jaeve makin tenggelam dalam awan mendungnya.

Dari balik stan sebelah, terdengarlah suara khas milik Yoa, penuh tenaga dan tanpa filter.

“Woiii Jaeve! Nawarinya yang bener dong! Liat tuh Willy!”

Bentakan itu membuat beberapa pengunjung menoleh, bahkan ada yang hampir menjatuhkan piringnya.

Jaeve hanya melirik malas ke arah Willy, lalu mendengus.“Padahal lo juga bikin orang takut beli,” gumamnya pelan, menyindir Yoa.

Yoa sudah siap melancarkan serangan balik, matanya menyala seperti kembang api siap meledak, tapi Kamal, pacarnya, dengan sigap menenangkan. Ia menarik tangan Yoa sambil berbisik, “Udah, biarin aja. Jangan bikin heboh lagi.” Yoa hanya mendengus dan kembali fokus melayani pembeli.

Namun tiba-tiba suara dari panggung menggelegar, memecah kegaduhan kecil itu.

“Mari kita sambut… COFA BAND feat. DANADYAKSA!!” seru Bitna dengan suara penuh semangat.

Kepala Jaeve otomatis menoleh ke arah panggung, matanya membelalak. “Nalen…” ucapnya nyaris tak terdengar, seolah nama itu cukup untuk menyalakan kembali sesuatu yang sudah lama padam dalam dirinya.

Sorotan lampu panggung membelah malam saat sosok Nalen muncul, menggenggam gitar listriknya dengan percaya diri. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, dan matanya menyapu penonton sebelum akhirnya berhenti pada Jaeve.

Saat tatapan mereka bertemu, Nalen mengedipkan sebelah matanya—gaya khasnya sejak dulu yang selalu berhasil membuat Jaeve kesal… namun senang. Tapi kali ini, tidak ada kemarahan. Hanya keheningan dan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

Jaeve, yang sejak awal shift belum tersenyum sama sekali, kini tersenyum kecil—tulus dan hangat. Senyuman yang hanya pernah ia berikan pada seseorang tertentu.

Tanpa sadar, saat seorang pengunjung mendekat untuk mengambil tester, Jaeve malah menyodorkan seluruh nampan ke tangan orang itu. “Ambil aja semuanya.”

Pengunjung itu kebingungan. “Eh? Ini… semua?”

Tapi Jaeve sudah melangkah pergi, meninggalkan stan dan Willy yang memanggil,

“Eh! Jaeve! Lu mau ke mana?”

Namun Jaeve tak menoleh. Ia berjalan menuju kerumunan orang-orang di depan panggung, menyusup di antara tubuh-tubuh yang berdiri, mencari tempat yang pas untuk melihat lebih jelas.

𝐂𝐨𝐟𝐀√Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang