“Calls Between Two Timezones”
Langit Jakarta masih dibalut mendung tipis ketika Nagen melangkah keluar dari ruang rapat. Jas biru tuanya tampak sedikit longgar di bahu, tapi ekspresi matanya tak lagi seperti remaja SMA yang dulu suka nyempil di balik tiang panggung saat Cofa tampil. Kini, matanya tajam dan serius. Wajahnya lelah, namun tekun.
Di tangannya, berkas presentasi masih tergenggam erat, lengkap dengan coretan margin berisi catatan tangan Pak Jamal—ayahnya. Ia baru saja menyelesaikan pitching proposal ekspansi cabang ke Surabaya, dan meskipun napasnya belum teratur, senyum bangga mulai naik ke wajahnya.
Di mobil, ia membuka laptop sambil menerima panggilan lain dari Pak Jamal yang masih di dalam gedung:
“Jangan lupa cek ulang timeline pengiriman ke warehouse pusat ya, nak.”
“Siap, Dad. Mas kirim laporan detailnya malam ini.”
“Bagus. Kamu cepat belajar.”
Nagen menutup telpon, lalu menatap ke luar jendela. Rambutnya sedikit berantakan karena terburu-buru, tapi ia tidak peduli. Sejak memutuskan masuk jurusan Manajemen Bisnis Internasional, hari-harinya nyaris penuh dengan kuliah, magang internal, dan tugas lapangan bersama sang ayah.
Dan setiap kali malam turun, ia terkadang duduk sendiri, menatap pesan-pesan lama… terutama satu nama yang masih sering muncul di notifikasinya: Jerico.
Di Melbourne, matahari baru saja tenggelam. Jerico duduk bersandar di rerumputan kampus bersama beberapa teman barunya—dua dari Sydney, satu dari Perth.
“Oi Jer,” panggil Liam, temannya yang tinggi jangkung dan selalu bawa skateboard ke mana-mana. “You’re comin’ to the gig Friday, yeah?”
Jerico mengangguk, mengangkat kaleng soda ke arah Liam. “’Course, mate. Wouldn’t miss it.”
“Sweet as, bro. You’re one of us now.”
Mereka semua tertawa. Jerico memang cepat akrab. Namun, saat tawa mereda, ia melirik layar ponselnya. Foto wallpaper-nya masih sama: gambar dia dan Nagen di peron stasiun waktu perpisahan dulu.
Beberapa menit kemudian, teman-temannya pergi lebih dulu. Jerico tetap tinggal, duduk sendiri sambil menatap langit malam selatan. Angin musim gugur mulai menggigit, tapi ada sesuatu yang lebih dingin dari udara yang menusuknya: rindu.
Ia menekan nama yang sudah tak asing di layar:
📞 NAGEN – calling...
Panggilan itu bersambung. Suara berat Nagen menyapa dari seberang:
“Halo?”
“Hey... ini aku.”
“Jerico?”
“Aku kangen, kamu.”
“...Aku juga.”
***
Jam menunjukkan pukul satu siang ketika Vije melangkah santai ke dalam Kafé 21, tempat yang dulunya hanyalah mimpi di pojok catatannya saat SMA. Sekarang, kafe itu berdiri manis di dekat kampus tempat Vije kuliah, lengkap dengan interior kayu hangat, gantungan lampu bohemian, dan mural penuh warna hasil kolaborasinya dengan beberapa seniman lokal.
Vije menenteng tas kampus dan meneguk kopi sisa dari termos pribadinya.
“Yoa! Gue balik!” serunya pada sahabat sekaligus rekan kerja yang sedang bersandar di kasir.
“Duh, tumben cepet. Gak nyasar?”
“Lu ngatain gue nyasar tuh menghina sistem orientasi ruang gue.”
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐂𝐨𝐟𝐀√
Teen Fiction{𝐉𝐚𝐤𝐞𝐬𝐞𝐮𝐧𝐠, 𝐉𝐚𝐲𝐡𝐨𝐨𝐧, 𝐒𝐮𝐧𝐰𝐨𝐧} 𝐇𝐞𝐞𝐬𝐞𝐮𝐧𝐠/𝐍𝐚𝐠𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 : 𝐝𝐨𝐦 𝐨𝐫 𝐬𝐮𝐛 𝐉𝐚𝐤𝐞/𝐉𝐞𝐫𝐢𝐜𝐨 : 𝐝𝐨𝐦 𝐉𝐚𝐲/𝐕𝐢𝐣𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 : 𝐝𝐨𝐦 𝐒𝐮𝐧𝐠𝐡𝐨𝐨𝐧/𝐃𝐚𝐧𝐚𝐝𝐲𝐚𝐤𝐬𝐚 : 𝐬𝐮𝐛 𝐒𝐮𝐧𝐨𝐨/𝐍𝐚𝐥𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 : 𝐝...
