30. ░▒

579 62 7
                                        

Hari ini panas, tapi kepala Jaeve lebih panas. Ujian udah kelar, tapi satu hal belum kelar: Nalen.

Sudah berhari-hari cowok itu menghilang seperti uap. Telepon nggak dijawab, chat cuma dibaca doang. Bahkan selama ujian, Jaeve merasa seperti hantu—gak kelihatan, gak didengar. Dan sekarang, ujian udah selesai, semua anak COFA mulai sibuk ngomongin festival sekolah. Tapi Jaeve?

Jaeve duduk di bangku kantin seperti orang hilang arah. Pipinya disenderin ke tangan, matanya kosong menatap plastik bekas es teh. Hatinya? Bikin festival kecil-kecilan sendiri di dalam dada: pesta kecewa, karnaval bingung, dan parade rasa nggak dihargai.

“Gue tuh harusnya senang, kan. Ujian udah selesai. Festival sekolah tinggal bentar lagi. Tapi kenapa malah ngerasa sendirian gini?”

Sebuah suara memecah lamunannya.

“Woy, jangan liatin gue begitu napa,”

ucap Willy dengan ekspresi dramatis, bola matanya sengaja dibelalakin kayak setan lucu.

“Lo kenapa sih? Kek orang mau nyakar siapa gitu. Nih ya, bentar lagi festival sekolah. Semangat dong! Mudah-mudahan stan kita rame pembelinya.”

Jaeve nggak jawab. Dia cuma menghela napas, pelan banget, kayak napas terakhir harapan.

Willy menatapnya, lalu membuka kantong jaketnya dan menyerahkan permen rasa anggur.

“Nih, biar manis dikit hidup lo. Jangan asem terus, nanti orang kira lo ngambek sama takdir.”

Jaeve ambil permennya, dikunyah pelan. Manis, tapi nggak cukup. Nggak bisa gantiin rasa sepi dan canggung yang numpuk di dadanya.

Matanya menyapu ruangan. Di pojok, dia lihat Jeriko dan Nagen duduk berseberangan. Ngena banget vibes awkward-nya. Mereka pacaran lagi atau belum? Entahlah. Lalu Dana dan Vije? Mereka lagi duduk bareng sambil nonton video lucu. Ngobrol intens. Ketawa pelan. Kalau bukan pacaran, itu minimal sahabatan versi romantis.

Terus... Jaeve?

Dia mencelos.

“Kok gue kayak ngambang, ya? Gak pacaran, gak sahabatan. Cuma... nunggu. Tapi bahkan gak tau lagi nunggu siapa.”

“Nalen ke mana sih?” gumamnya akhirnya keluar juga.

Willy langsung noleh.

“Loh lo gak tau? Nalen sekarang lomba sama anak teater. Masuk YouTube loh. Live lagi!”

Jaeve kaget.

“Hah? Serius?”

“Serius. Nih gue cari link-nya.”

Willy bantu buka YouTube, ngetik channel sekolah, dan...

Boom.

Wajah Nalen muncul di layar. Dia ada di atas panggung kecil, ikut lomba teater antar-SMA. Kamera menyorot wajahnya yang santai, senyumnya lepas, ekspresinya hidup. Dia bahkan sempat melucu di tengah adegan, bikin penonton tertawa.

Jaeve terkesiap.

“Dia... kelihatan bahagia.”

Tiba-tiba, salah satu guru datang dan menyalakan TV besar di kantin.

“Anak-anak, ini siaran langsung lomba dari SMA kita. Dukung teman kalian ya!”

Seketika, kantin heboh.

“Weh, adek gue masuk tipi!” teriak Vije.

“Adek gue itu!” balas Nagen, langsung nyamber.

“Adek kalian berdua itu,” Dana memotong dengan malas.

Tapi semua tertawa. Semua bangga. Semua mendukung.

𝐂𝐨𝐟𝐀√Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang