17. Haidar pindah.

459 41 12
                                        

Haidar pindah. Bukan pindah sekolah apalagi pindah negara hanya saja Haidar pindah kos sebab masalah yang pernah ia singgung beberapa hari lalu kalau uang sakunya di kurangi.

Haidar mencoba untuk mengirit biaya hidup yang terasa akan semakin seret kedepannya. Ya, tidak masalah sebenarnya, Haidar juga bisa liat kondisi.

Haidar belum sempat memberitahu Damar apalagi mencari kos karena biasanya kos lebih murah sudah penuh kalau di pertengahan waktu seperti ini, apalagi yang dekat sekolah, sudah pasti penuh dengan anak sekolah, biasanya kosong kalau di akhir tahun menjelang kelulusan dan pendaftaran siswa baru.

Haidar pusing di buatnya, ada saja masalah yang perlu di coba.

sambil menunggu Damar pulang, biasa, main futsal, Haidar menghabiskan sisa sayur yang hampir layu di kulkas untuk di masak. Sayang kalau di buang.

Sebenarnya Damar juga sudah mengajaknya ikut dari Minggu yang sudah-sudah tapi Haidarnya saja yang tidak mau, alasannya hanya satu, Haidar tidak suka olahraga. Dari SD hingga sekarang kebiasaan nya itu tidak pernah hilang.

Bagi Haidar mending tidur daripada harus mengeluarkan keringat. Ia tak suka rasa lengket di tubuhnya.

Ia menghabiskan waktu di dapur, mencampur semua sayur jadi satu dan memasaknya dengan santan, sebut saja sayur lodeh, enak atau tidaknya urusan belakangan, toh, ini bukan untuk dirinya. Kalau sampai Damar keracunan salahkan saja perut Damar yang lemah.

Sekitar jam 4 sore, Damar pulang ke kos. Bajunya basah seperti habis diguyur hujan padahal hari ini panasnya bukan main.

Bau kecut keringat di tambah kaus kaki membuat Haidar yang mencium merenggut. Sebelum sempat Damar masuk kamar Haidar sudah kepalang ribut.

"Eh, eh, si anjir! Jangan masuk ke kamar lo, baju lo udah kayak gitu langsung cuci aja sekalian mandi, ntar yang ada bikin kamar bau"

Damar hanya meringis bersalah, "Lo lupa kalo gue gak bisa nyuci?"

Memang. Haidar lupa. Pokoknya semua disini Haidar yang repot, dari mencuci baju, bersih-bersih, masak, pasang gas, semua Haidar yang urus bahkan celana dalam Damar saja, Haidar yang cuci. Ia sampai hafal ukuran berapa celana dalam Damar. Kecuali untuk mencuci piring itu bagian Damar selebihnya ya, Haidar.

"Ya, udah, bilas aja dulu ntar gua cuci di luar sekalian baju kotor yang dikeranjang"

Haidar menyahut handuk hitam di belakang pintu untuk Damar dan langsung saja Damar berlari ke kamar mandi.

Kadang Haidar jadi merasa kalau ia adalah duda anak satu tanpa pernah menikah.

Bosan menunggu Damar selesai mandi, Haidar duduk jongkok di depan pintu kamar sambil memainkan HP. Mendengar pintu kamar mandi terbuka ia langsung menoleh.

"Anjir! Cok, itu bajunya netes-netes!"omel Haidar, ia mengantongi HP nya dan dengan gesit mengambil keranjang baju kotor lalu langsung menyambar baju basah di tangan Damar.

"Di peres dulu bego! Lap tuh lantainya yang basah"

Haidar langsung keluar kos dengan jengkel sekian kali, meninggalkan Damar yang cengengesan seperti tak merasa bersalah.

Sore itu waktunya ia habiskan untuk mencuci baju mereka berdua yang kotor, di tambah kaus kaki bau dan jersey futsal.

Malamnya setelah Damar menghabiskan dua piring nasi dengan sayur lodeh yang Haidar masak sore tadi, akhirnya Haidar bertanya.

"Enak?"

Damar hanya mengangguk singkat dan menatap Haidar, sedangkan si pelaku cuma senyum-senyum cengengesan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Just FriendsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang