Happy Reading
Qually menghela napas dalam-dalam, menatap langit sore yang mulai berubah jingga. Ia berdiri di dekat gerbang belakang sekolah, menunggu seseorang. Di sampingnya ada gadis cantik yang bersembunyi tampak malu-malu. Melihat itu membuat Qually tersenyum gemas. Tak lama kemudian, sosok tinggi dengan rambut ungu muncul dari kejauhan.
"Yo, Qually. Ada apa manggil ku dadakan begini?" sapa Fang dengan nada santai.
Qually tersenyum tipis. "Ada yang pengen ketemu sama kamu Fang."
Fang mengerutkan alis. "Siapa?"
Sebelum Qually sempat menjawab, Lea muncul dari balik tubuh Qually dengan wajah memerah. Ia menunduk sejenak, mencoba menenangkan degup jantungnya.
"A-Aku... aku yang pengen ngomong sama kamu, Bang Fang."
Fang menoleh, sedikit terkejut. "Lea? Kamu mau ngomongin soal apa?"
Lea menelan ludah. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap mata Fang. "Aku suka sama Abang ... Sejak pertama kali bertemu di perpustakaan dan nyelamatin aku saat aku hampir kejatuhan buku-buku itu, aku sudah jatuh cinta sama kamu!" Ujar Lea sambil menyodorkan sup lobak merah pada Fang.
Qually melirik Fang, mencoba membaca ekspresinya. Tapi Fang hanya diam beberapa detik, lalu menghela napas. Dia tersenyum, menerima sup lobak merah itu. "Lea... makasih udah jujur dan buatin sup lobak merah ini. Tapi ... maaf, aku gak bisa balas perasaan kamu."
Lea menunduk dalam-dalam. "Ahh ... i—iya, aku mengerti."
Fang menggaruk belakang kepalanya canggung. "Kamu anak baik. Tapi aku sungguh minta maaf, aku sudah menyukai orang lain dan aku ingin dia jadi pacarku."
Lea memaksakan senyum. "Gapapa kok ... makasih udah dengerin, dan semoga berhasil pacaran sama dia."
Qually menepuk bahu Lea pelan. "Kamu hebat udah berani ngomong. Ayo, aku anter pulang."
Lea mengangguk, dan mereka pun berjalan menjauh, meninggalkan Fang di sana yang masih menunduk mencicip sedikit sup lobak merah tersebut.
Dalam perjalanan pulang, suasana hening diantara mereka berdua. Qually sesekali melirik ke arah Lea yang terus menunduk, menggenggam ujung roknya erat-erat. Air mata menumpuk di sudut mata indahnya.
"Lea ... Kamu udah bagus banget hari ini. Gak semua orang loh berani ungkapin perasaannya langsung kayak gitu," ucap Qually lembut.
Tapi Lea tak menjawab. Beberapa langkah kemudian, ia berhenti tepat di bawah pohon besar di pinggir jalan. Qually pun ikut memberhentikan langkahnya.
"Qually ...." panggilnya lirih.
"Hm?"
"Aku jelek ya?"
Qually tertegun. "Hah? Kok nanya gitu?"
Lea mendongak, matanya berkaca-kaca. "Soalnya ... kalau aku cantik, pasti Kak Fang gak nolak aku. Kalau aku menarik, pasti ada yang suka sama aku... Kenapa aku tidak cantik? Kenapa aku tidak menarik? Kenapa aku tidak seksi? Kenapa aku adalah diriku?"
Qually merasa dadanya melihat Lea seperti itu. "Lea ... itu gak benar."
Lea menggigit bibir. "Gadis yang disukai bang Fang kak Ying kan?"
"Aku, juga kurang tau soal itu."
"Dia sangat cantik, sangat manis, dan punya segalanya, kenapa aku bukan dia ya? Pasti beruntung banget bisa disukai cowok populer kayak bang Fang."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐘 𝐋𝐄𝐓𝐓𝐄𝐑𝐒 | 𝙂𝙤𝙥𝙖𝙡 𝙭 𝙍𝙚𝙖𝙙𝙚𝙧
Random𝙈𝘼𝙎𝙄𝙃 𝘿𝘼𝙇𝘼𝙈 𝙋𝙍𝙊𝙎𝙀𝙎 𝙍𝙀𝙑𝙄𝙎𝙄 ɪɴᴅᴏɴᴇꜱɪᴀɴ ʟᴀɴɢᴜᴀɢᴇ✨ ✩°𓏲⋆🌿. ⋆⸜ 🍵✮˚ 𝖣𝗂𝗌𝖼𝗅𝖺𝗂𝗆𝖾𝗋 : 𝖢𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺 𝗂𝗇𝗂 𝗆𝖾𝗋𝗎𝗉𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺 𝖿𝖺𝗇𝖿𝗂𝖼𝗍𝗂𝗈𝗇 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝖺𝗇𝗂𝗆𝖺𝗌𝗂 𝖡𝗈�...
