⚠️ Perhatian! | Bab ini mungkin mengandung adegan yang membuat sebagian pembaca merasa kurang nyaman.
Begitu memasuki ruang makan, pandangan tercuri pada sebuah meja makan yang membentang panjang, hampir memenuhi seluruh ruangam.
Terbuat dari kayu berwarna gelap dengan permukaan yang dipoles mengilap. Meja itu di kelilingi deretan kursi berlapis beludru pada kedua sisinya, tertata rapi dari ujung ke ujung.
Di atasnya, sebuah lampu Chandelier kristal menggantung megah di langit-langit tinggi ruangan. Kilauan cahayanya memantul lembut, menyiram semua yang berada di bawahnya, termasuk orang-orang yang tengah duduk di sana.
Membuat seluruh tempay itu memancarkan kesan mewah namun tetap terasa hangat untuk sebuah makan malam keluarga.
Suara langkah kaki Yuliana terdengar pelan, melangkah memasuki ruangan. Berbalut gaun santai, berpadu serasi dengan jepit bunga yang bertengger indah pada rambutnya yang terurai.
Membuat penampilannya tampak anggun meskipun tanpa aksesoris berlebihan, berjalan sembari menggendong seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Zayyan. Siap menyambut makan malam.
Di belakangnya, Sam dengan setia membuntuti, berjaga jika ada sesuatu yang diperlukan.
"Hai Zay," sapa sang kakak.
"Kakak!" Girangnya berkelandutan, masih dalam gendongan Yuliana. Mirip sekali dengan seekor koala yang tengah hinggap pada dekapan induknya.
"Bawa kemari Sayang." Pinta Damar, membatangkan tangan. Masih dengan setelan jas kerja, sepertinya ia belum sempat berganti pakaian tadi.
Zayyan berpindah dari Yuliana beralih ke pelukan sang papa. Begitu duduk di pangkuan, Damar mendekapnya agak lama. Terasa jelas, tubuh itu telah berkurang ukurannya, juga terasa lebih ringan.
Zayyan balas memeluk erat, aroma khas Damar yang begitu familiar samar-samar menguar. Zayyan suka aroma itu. Hangat dan menenangkan. Seolah ketakutan yang mengikat dadanya tadi perlahan mengendur, berganti rasa nyaman.
Sebenernya ia tadi sempat agak ragu, bertemu dengan papa beserta saudaranya yang lebih tua. Di tengah perjalanan saat akan menuju ruang makan, ia baru tersadar. Kesadarannya kemudian berubah menjadi rasa takut.
Mengetahui sifat mereka seperti apa. Pastinya Zayyan akan mendapatkan setidaknya sedikit ceramah kecil dan yang paling buruknya aturan baru akan ditambah. Mengingat ia telah melakukan kesalahan.
Namun, semua kegelisahan itu perlahan sirna begitu tubuhnya berada dalam pelukan hangat Damar.
Untuk sesaat, ia merasa aman.
"Pa, setelah ini gantian berikan dia padaku," celetuk Valent, ia sedari tadi sangat ingin bertemu adiknya.
"Kau nanti, ambilah nomor antrian."
"Nomor antrianku dua, setelah ini," ia membalas candaan Damar.
"Sayang sekali nomormu telah hangus dan milikku tidak memiliki masa habis."
"..."
Valent terdiam, berdecak kesal menghadapi guyonan Damar yang tak lucu baginya.
"Papa rasa suhu tubuhmu lebih rendah dari biasanya," terang Damar, memandang serius.
"Padahal sudah Mama pakaikan pakaian tambahan."
Punggung tangan Damar menyentuh leher putranya. Zayyan bergidik, merasa geli karena kulitnya yang disentuh tiba-tiba.
"Kamu dingin," ucap Damar.
Yuliana ikut melakukan hal yang sama seperti suaminya.
"Benar, seharusnya aku memilih pakaian yang lebih tebal," ucapnya agak menyesal, Yuliana merasa lalai dengan kondisi Zayyan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZAYYAN
RomanceZayyan, seorang remaja yang selalu dikekang oleh keluarganya Selama 16 tahun dirinya tidak pernah merasakan yang namanya kebebasan. Dikekang,diatur, sudah biasa Zayyan rasakan. walau demikian, keluarganya sangat menyayangi Zayyan,putra bungsu keluar...
