.
.
.
.
.
.
( ・ั﹏・ั)
Muak. Sungguh. Larissa menghembuskan nafas kasar, ia memutarkan matanya malas. Sudah 3 jam lamanya dirinya di sini. Sedari tadi ia masih berada di ruangan antah berantah yang tidak jelas apa gunanya.
Hanya untuk melihat Gaffar bermain Handphone! Iya, apa tidak menyebalkan menurut Larissa?
Ingin mengeluarkan suara pun rasanya sia-sia, jadi, hanya bisa menghela nafas, sesekali melirik wajah arogan itu dengan tatapan kesal.
"Apa lihat-lihat?" Ujar Gaffar sambil masih fokus memainkan benda pintar itu di tangannya. Sedari tadi memang ia menyadari bahwa perempuan yang sedang duduk di bawahnya ini menatap dirinya terus-terus an. Ditambah, gerak-geriknya perempuan itu sungguh kelihatan di matanya.
"Ga." Larissa langsung menundukkan kepalanya, berpura-pura memainkan Handphone nya. Rada malu sedikit, tapi, tak apa lah. Biarkan saja, Larissa ingin memberitahu secara tidak langsung kalau ia merasa bosan disini. Apa-apaan pria ini?
"Bosan? Mau keluar?" Ujar Gaffar, sambil meletakkan Handphone nya di saku. Ia bersedekap dada menatap si mungil dengan wajah pongah. Ia melirik ke beberapa bagian tubuh Larissa. "Ngomong aja, jangan takut. Gua ga gigit."
Larissa, memutarkan matanya malas. "Tidak menggigit? Jangan takut?" Larissa mendongakkan kepalanya menatap Gaffar, ia berbicaralah sinis namun masih terdengar lembut secara terpaksa.
"Bosan kak. Aku mau keluar. Sedari tadi aku ga masuk kelas, bolos. Nanti di cariin guru." Ujar Larissa memelas. Ia menyatukan kedua tangannya memohon.
Seumur hidupnya, ia tak pernah membolos pembelajaran di sekolah nya. Satu kali pun tak pernah. Karena dulu, sang ibu mengajarkan nya memang seperti itu. Kata beliau, tidak boleh menganggap remeh pendidikan sekecil apapun, karena itu, pasti' berguna sampai kapanpun. Selagi tidak ada kesibukan, sang ibu juga kadangkala mengajarkannya nya membaca buku apapun.
Maka dari itu lah, ia cukup khawatir karena membolos untuk pertama' kali nya. Ia juga merasa cemas, takut dihukum guru. Larissa gugup setengah mati, takut-takut juga di labrak disini, kan, sedari tadi ia hanya berdua dengan pria. Seorang Gaffar lagi.
Apa kata orang nanti?
"Terlanjur. Lagipun, udah setengah hari lo disini. Kelas juga udah pasti selesai. " Ujar Gaffar santai. Ia membungkukkan badannya kebawah, menatap wajah si mungil yang memerah. Ia tersenyum samar, "Selagi ada gua nilai lo aman."
"Maksudnya aman? Kakak kan bukan guru yang menjamin nilai ku aman?" Larissa mengerutkan keningnya bingung, ia terdiam sejenak, "Kak, aku bisa kemanapun yang kakak mau. Tapi, kalau sampai membolos pelajaran gini, aku ga bisa. Aku ga pernah bolos, kak."
"Jadi, aku pengen keluar. Sebentar lagi, mau istirahat. Aku ga mau ketinggalan pembelajaran lagi setelah istirahat nanti."
"Jadi?" Gaffar, menatap lekat wajah Larissa, alisnya terangkat satu, masih sambil bersedekap dada. Bahkan, ia juga menyilangkan kedua kakinya.
Larissa yang melihat itu seketika bingung, maksudnya? Bukankah ia sudah memberi tahu alasannya tadi? Kenapa bertanya lagi? Belum mengeluarkan suara lagi, Larissa terdiam ketika melihat Gaffar mendekatkan wajahnya pada nya.
"Hm..." Gaffar terdiam sejenak sebelum berbicara kembali', "Jadi, lo ga pernah membolos gitu, seumur hidup? Ga pernah?" Ujar nya bertanya berturut-turut, seakan tak percaya apa yang di ucapkan oleh gadis di depannya ini.
"I-iya. Aku emang ga pernah bolos kak." Larissa mengangguk dua kali.
Gaffar, yang melihat itu, langsung berdiri dari duduknya nya. Sambil menepuk-nepuk celananya yang terkena debu. Dengan santainya ia berjalan menuju keluar ruangan. Tanpa menoleh kebelakang ia berbicara pada Larissa.
"Ayo cepet. Katanya mau keluar. Sebelum gua berubah pikiran, gua kunciin lo disini sampe pulangan, mau?"
Larissa yang melihat hal itu seketika langsung bangkit cepat menyusul Gaffar yang sudah berjalan meninggalkannya nya, ia berdecak kecil, tak bisakah pria itu sabar sedikit?
"Iya." Gaffar tersenyum samar, ia melirik Larissa yang mengekor di belakangnya, terlihat menekuk wajahnya, kesal, mungkin. Gaffar mengendikan bahu acuh.
"Iya aja, nih?" Ujarnya nakal. Ia bahkan dengan sengaja berhenti berjalan. Menoleh kebelakang menatap mata Larissa tajam. "Kurang kalimat lo itu."
Larissa kelabakan, ia menganggukkan kepalanya cepat, ia memilin rok nya gugup. "Iya Bos." Larissa tersenyum kaku. Matanya bergerak liar agar tak menatap mata Gaffar yang menurutnya suram itu.
Gaffar hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia kemudian mengisyaratkan Larissa untuk pergi, "Sana." Ujarnya tak berperasaan. Sudah membuat anak orang takut, di usir lagi.
Larissa hanya bisa tersenyum pasrah, ia pun dengan cepat serta tergesa-gesa segerala melarikan diri, ia bahkan tak menoleh kebelakang lagi. Terlalu takut untuk menoleh bahkan melihat lagi. Ia bergidik ngeri.
"Demi apapun. Aku lebih baik ketemu hantu dari pada dia." Ujar Larissa semakin berlari meninggalkan koridor yang sepi itu.
Gaffar, berdiam diri, menatap kepergian gadis itu dengan pandangan tak di mengerti. Ia menghembuskan nafasnya yang entah kenapa sedikit berat.
"Ini belum seberapa, Sa. Ini masih permulaan." Matanya berkilat marah selintas. Kemudian ia menggeleng pelan, ia terkekeh geli, semakin lama semakin terdengar nyaring. Menggema di antara dinding-dinding koridor yang berdebu.
Ada rasa yang aneh menggumpal di dadanya. Perasaan aneh yang Gaffar saja tidak tahu apa itu. Ia ingin menyangkal, namun, ia juga tidak bisa.
Yang ia tahu, ia hanya ingin melihat Larissa menangis. Hanya itu. Gaffar hanya perlu itu.
Gaffar, suka menindas perempuan itu saat ini, bukan karena semata-mata dia orang susah. Hanya saja, ia suka kesenangan ini. Bukan berarti dia jahat. Mungkin, iya.
Hanya ingin melihatnya menangis. Ini kesenangan nya. Ya. Hanya itu. Gaffar suka melihatnya menangis.
Karena..
Larissa cantik saat sedang menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARIS | GAFFAR & LARISSA
أدب المراهقينKatanya, Garis kehidupan sudah ditentukan oleh Tuhan. Tapi, sebagian besar, semua orang memilih melenceng dari tujuan hidup. Karena, tidak sesuai dengan kemauan mereka. Namun, ada seseorang yang memilih untuk tetap mengikuti alur yang sudah ditetapk...
