.
.
.
.
(ʘᴗʘ✿)
Sebenarnya, Gaffar tidak sejahat dan seburuk itu. Ia hanya 'Memperlakukan' sebagian orang-orang yang memang meminta di 'Perlakukan' seperti itu olehnya.
Sekali, dua kali, bahkan kesekian kalinya. Gaffar mendapatkan banyak hal tentang 'Perlakuannya' terhadap sebagian orang.
Ia... hanya tak suka diusik. Dibuat kesal, dibuat marah. Ia tak suka.
Ia, Tempramental, juga Bipolar. Benar, dia seperti itu.
Bukan keinginan nya. Namun, memang nyata ada nya seperti ini. Menjadi orang yang seperti itu, seringkali membuat Gaffar lelah. Lelah mengerti, lelah mengerti setiap keadaannya, kapan pun, dan dimana pun.
Gaffar, tak pernah mempunyai emosi yang baik sedari kecil. Yang hanya ia tahu, kata Ayahnya. Ia tak boleh banyak mengeluh dan menangis, tak boleh banyak menunjukkan apa yang di rasakan nya.
Ayahnya hanya terus mengajarkan nya menjadi seorang Pria yang tak pernah tumbang, yang tidak pernah jatuh. Yang harus selalu kuat berdiri di saat apapun.
Dimana, tekanan-tekanan yang semakin hari bertambah itu, membuat Gaffar, kehilangan kesempatan untuk mengerti diri nya sendiri.
Seingatnya, di masa kecilnya. Ia sudah mempelajari banyak hal di hidupnya. Di ajarkan bagaimana bersikap selayaknya bakti seorang anak kepada orang tuanya.
Mengikuti segala perintah sang Ayah, dan juga sang Ibu. Sehingga ia tumbuh menjadi seperti ini. Tanggung jawab yang ia tanggung begitu besar, beban di pundaknya tak terkira banyaknya.
Ia anak Tunggal. Kesepian sudah menjadi teman bagi Gaffar. Di umurnya yang sekarang, ia ketinggalan banyak hal, meskipun ia terlihat seperti anak remaja pada umurnya, sungguh, ia tak seperti itu.
Meskipun ia terlihat' mempunyai banyak teman. Tak dipungkiri, ia tetap tak punya rumah untuk pulang. Ia mempunyai teman dekat, namun, ia tak sebegitu bisa nya untuk terbuka kepada mereka.
Seperti sekarang ini, disaat ia mempunyai keinginan, ia akan mendapatkan nya. Sedari dulu, keinginan nya tak pernah di tolak. Tak pernah di tolak. Ia selalu, selalu, selalu, mendapatkan apa yang ia inginkan.
Gaffar, terlihatnya keras, terlihatnya seperti orang yang tak tersentuh, terlihatnya, ia seperti orang yang hidup tanpa ambisi dan keinginan.
Gaffar tak seperti itu.
Orang-orang hanya tak tahu, seberapa besarnya dia menginginkan hal berharga di hidupnya yang terasa kosong ini.
Ada kalanya, ia kesepian, perlu teman. Perlu di perhatikan lebih lama. Bahkan hanya sekedar di peluk sambil bercerita sehari-hari,
Gaffar tetap ingin.
Ayah dan Bundanya, adalah orang yang sibuk, sangatlah sibuk. Setiap harinya, mereka pergi ke luar kota, bahkan keluar negeri, hanya untuk mengurus pekerjaan mereka.
Ayah, ayahnya adalah seorang pengusaha, pengusaha yang memang cukup terkenal. Dan Bunda nya, adalah seorang designer. Keduanya sering kali, memang pergi secara bersamaan. Di saat waktu bunda nya senggang, ayah nya meminta bunda nya untuk menemani sang ayah mengurus perusahaan.
Seperti itu terus berulang-ulang.
Seperti sekarang..
Tangan yang lembut nan hangat itu ia rasakan di kepalanya. Senyum manis itu, terbit dari bibir Bunda nya. Gaffar, menatap wajah sang ibu dengan pandangan berbinar yang tak bisa disembunyikan.
"Bunda ga akan lama." Ujar sang ibu, Reveka Aulika. Bunda Gaffar, tersenyum manis menatap putra tunggalnya itu. Ia akan menemani suaminya pergi keluar kota untuk beberapa minggu, padahal, ia baru saja dini hari ini, pulang dari luar negeri.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARIS | GAFFAR & LARISSA
Fiksi RemajaKatanya, Garis kehidupan sudah ditentukan oleh Tuhan. Tapi, sebagian besar, semua orang memilih melenceng dari tujuan hidup. Karena, tidak sesuai dengan kemauan mereka. Namun, ada seseorang yang memilih untuk tetap mengikuti alur yang sudah ditetapk...
