.
.
.
.
ᕙ༼◕ ᴥ ◕༽ᕗ
Langkah kaki itu terdengar mantap, dengan pandangan datar lurus ke depan. Wajahnya yang terlihat tak ber eskpresi itu terlihat mengagumkan namun, sialnya juga terlihat menakutkan.
Jaket kebanggaan nya yang selalu ia banggakan sudah terpasang apik di tubuh kekarnya. Dengan tas hitam terlampir di bahu kanannya, berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah ramai akan para murid.
Bisikan-bisikan terdengar, bahkan teriakan-teriakan yang memekakkan telinga, juga terdengar jelas di telinga nya.
Gaffar tak peduli. Walaupun terlihat santai, di dalam hatinya, ia sedang menunggu sesuatu.
Dimana asisten mungil nya itu?
Pandangannya mengedar menatap sekeliling, tidak ada tanda-tanda gadis yang ia maksud.
Namun, bukan Gaffar namanya kalau tak jeli. Lihat saja, hanya beberapa saat, ia sudah menemukan apa yang ia cari.
Di ujung sana..
Si mungil itu, terlihat sedang mencari sesuatu di loker nya. Wajahnya terlihat santai. Bibirnya terangkat sedikit, siap menemukan sarapan enak pagi ini. Kakinya melangkah lebih cepat dari biasanya, lalu...
BRAK!!
Tubuh kecil itu terlonjak kaget, tangan nya yang mungil itu terlihat' memegangi dadanya yang tadi terkejut. Larissa, menoleh patah-patah kearah kiri tubuhnya.
Gaffar, sedang berdiri tegak di sampingnya, dengan tangan yang menahan pintu lokernya, ia juga yang dengan kasar menutup nya tadi.
Jantungnya berdetak kencang, apa lagi setelah ini? Larissa, menundukkan kepalanya sedikit, tangannya tak sadar bergerak mencengkram erat rok nya,
Rasa takut mulai melingkupinya. Bukan apa. Di koridor, banyak sekali siswa-siswi yang baru saja berdatangan, ada juga yang memang berdiri disana. Larissa takut, ia menarik nafasnya, bibirnya terbuka ingin berbicara sebelum sebuah suara berat lebih dulu terdengar,
"Kenapa ga jemput gua di gerbang tadi, lupa?" Ujar Gaffar, menatap tajam penuh penekanan kearah Larissa, ia dengan kasar melempar tas yang sedari tadi terlampir apik di bahunya.
Larissa dengan cepat menangkap tas yang mahal itu. Ia ingin marah diperlakukan seperti ini sebenarnya, namun, ia tak mampu. "Maaf, Kak." Hanya itu saja yang keluar dari mulut nya.
"Maaf, maaf, maaf. Bosen gua dengernya." Ujar Gaffar, terdiam sejenak menatap lekat Larissa yang semakin menundukkan kepalanya, Ia tersenyum samar. Bukan senyuman baik, tapi senyuman yang menyimpan hal menakutkan menurut Larissa.
Lalu tangannya menengadah, dengan satu tangannya masuk kedalam saku celana.
"Mana bekel buat gua?"
DUARR!!
Seperti petir di siang bolong, Larissa lupa. Lupa bahwa ia harus menyiapkan bekal untuk orang didepannya ini. Bagaimana ini? Sial, ia lupa.
Bibirnya ia gigit kuat, semakin tak berani mengeluarkan suara, ia terlalu takut. Sangat takut. Jantungnya semakin berdegup kencang
KAMU SEDANG MEMBACA
GARIS | GAFFAR & LARISSA
Fiksi RemajaKatanya, Garis kehidupan sudah ditentukan oleh Tuhan. Tapi, sebagian besar, semua orang memilih melenceng dari tujuan hidup. Karena, tidak sesuai dengan kemauan mereka. Namun, ada seseorang yang memilih untuk tetap mengikuti alur yang sudah ditetapk...
