Total sudah 20 menit lebih mereka masuk ke dalam bioskop, dan selama itu juga Yasa tak henti-hentinya mengajak Kaisar berbicara.
Genang—yang Aden kenal sebagai pacarnya Jordan (teman Abram dan juga Tama) sesekali melirik ke arah Yasa dan sesekali ke arah teman-temannya yang lain. Penasaran apakah si Yasa Yasa itu bisa dimatikan tombol on nya atau tidak.
Soalnya gak cuma Genang aja yang sedari tadi melirik, namun juga pengunjung lain. Berkali-kali bunyi suara ssshh terdenger setelah Yasa menyuarakan isi hatinya.
"Din, mereka beda agama?"
"Lucu banget aku pengen lihat candi juga!"
"Ini nanti ada yang meninggal gak?"
Kaisar sebagai pacarnya sudah berkali-kali menghentikan sesi tanya jawab yang dibuka oleh Yasa, namun tetap saja. "Engga ada yang meninggal Yasa."
"Kapan-kapan aku ajak kamu lihat Candi." Kaisar mengusap jemari Yasa. "Ngomongnya minta tolong pelan-pelan ya Sa? nanti yang lain denger,"
"Perasaan aku bisik-bisik ke kamu aja deh..."
Bisik-bisik tapi satu bioskop dengar..
"Iya bisik-bisik, tapi ruangannya lagi sepi, jadi suara kamu kedengeran sampe depan. Nanti yang lain terganggu. Kamu ngomongnya ditelinga aku aja ya?" beritahu Kaisar untuk kesekian kalinya, Yasa akhirnya mengulum bibirnya. Melirik ke arah teman-temannya yang lain—
Hanya Kaisar dan Genang yang menatapnya (itupun dia tak sengaja eye contact) sisanya fokus menonton.
Setelah tak sengaja eye contact dengan Genang, Yasa hanya bisa melihat laki-laki disamping Genang terkekeh ke arah Genang hingga sang empu terlihat mengulum bibirnya dengan wajah sedikit malu. Setelahnya mereka mengobrol ringan, namun Yasa tak mendengar percakapan mereka karena suara film didalam bioskop tersebut.
Abram dan Askar dipojok fokus menonton sambil sesekali mengunyah popcorn. Askar menyender ke kursi dengan tangan yang bergerak mengambil popcorn, sementara Abram sendiri masih sesekali melirik ke samping untuk sekedar mencuri pandang, sebelum kembali menatap layar didepan.
Tama juga sudah fokus menonton— atau lebih tepatnya fokus menonton karena menjadikan bahu Elio sebagai sandaran. Lebih lengket dari orang yang sudah pacaran mereka ini.
Sementara Aden sendiri justru sudah tak sadar akan sekitar dan fokus menonton sekaligus makan— soalnya Langgar sedari tadi tak henti-hentinya menyuapi Aden dengan Popcorn. Kalau Aden merengek sedikit, tangan Langgar sudah beralih men-switch popcorn tersebut dengan minuman. Bak raja sekali si Aden ini.
"Hehe," final Yasa. Menyatukan kedua tangannya didepan dan menyengir didepan Kaisar. "Minta maaf ya Udin, aku udah berisik,"
"Iya, dimaafin." Kaisar meraih tangan Yasa, lalu menciumnya. "Jangan diulangi lagi ya,"
Jari kelingking Yasa diangkat ke udara. "Iyaa. Janji."
***
"Seru nggak?"
Elio yang lagi fokus menonton ditanya kaya gitu langsung menoleh ke arah Tama dan angguk-angguk. "Seru!" ucap Elio excited. Tapi setelah itu dia langsung tutup mulutnya karena merasa suaranya terlalu besar. "Banget," katanya lagi.
Tama terkekeh sampai matanya ikut menghilang. "Suka nonton film romance?"
"Engga begitu sih, soalnya biasanya alurnya ketebak dan gitu-gitu aja menurut gue. Tapi ini bagus,"
"Bukan karena gue yang ajak nonton jadinya muji bagus?"
Elio tersenyum, maniknya berseri dalam gelap suasana bioskop. "Engga kok. Ini beneran seru. Thanks ya, Aldi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Stranger Chat
Novela Juvenil[BL STORY] Tentang Adenandra yang gabut dan iseng ngetik nomor asal lewat WhatsApp dan ngechat random yang berujung sambat karena nomor itu ngga pernah ngebales pesannya satupun padahal ceklis dua. WARNING: Mengandung kata-kata kasar.
