***
Rutinitas setiap pagi di hari Sabtu dan Minggu Aden sekarang udah bukan tidur sampai jam dua siang lagi, tapi jogging bareng Langgar.
Lebih ke dipaksa sih aslinya. Soalnya Langgar tiap pagi pasti dateng kerumah Aden dan maksa dia untuk lari pagi meskipun cuma bentaran aja.
Katanya. "Biar sehat. Kamu senin sampe jumat udah tidur terus, engga ada jalan kakinya meskipun sebentar," soalnya Langgar notis akhir-akhir ini Aden lesu banget, kaya kurang olahraga.
"Gue males banget sumpah, masih ngantuk!" keluh Aden, menggaruk pipinya malas.
"Ya nanti kalau lari kan jadinya engga ngantuk." Langgar merapihkan rambut Aden yang berantakan dengan cara disibak ke belakang. "Sekarang cuci muka dulu sana, aku tungguin." Langgar lipat lengan baju Aden yang panjang sampai se siku. "Engga usah mandi, pulangnya aja baru mandi."
Aden gak jawab. Dia nguap sekali, habis itu mulai jalan ke arah kamar mandi buat cuci muka.
Langgar yang sudah standby dan ready dengan kaos dan juga celana training pun akhirnya memilih untuk duduk dikasur, menunggu sang pacar kembali dari kamar mandi.
Sekarang masih pukul setengah enam pagi, dan dia sudah bertamu. Sejujurnya dia rada gak enak sama Bundanya Aden, tapi ternyata beliau sudah bangun dari jam empat tadi dan sedang menyiapkan sarapan. "Enggak ganggu kok, Bunda sudah bangun dari tadi. Malah bagus Adennya diajak jogging, biar sehat." Bahkan Bunda bilang ingin menyiapkan susu untuk mereka nanti.
Tak butuh waktu lama, Aden sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh dan segar. Meskipun masih ngantuk dikit.
Anduk kecil dilehernya dia lempar ke Langgar terus dia sendiri mulai buka lemarinya buat cari pakaian.
Langgar terkekeh, terus mendekat. Mencium pipi Aden yang baru saja dicuci dengan face wash itu. Sekitar rambut Aden masih basah dibeberapa bagian, bekas cuci muka. "Nah gini kan wangi,"
"Bacot" Aden melengos berkali-kali menghindari kecupan Langgar, wajahnya juga masih enggan menoleh ke arah cowo itu. Tapi dia tetep ambil celana training dan juga kaos yang menurut dia cukup menyerap keringat untuk dipakai lari.
"Minggir! Gue mau ganti baju," usir Aden, memberikan tatapan sinis ke Langgar satu detik, terus habis itu melengos lagi.
Langgar makin ketawa. Namun menuruti, kali ini dia munduran dan meletakkan handuk bekas Aden tadi ke pundaknya. Tangannya dia letakkan dipinggang. "Yaudah ganti aja, aku kan gak ngapa-ngapain,"
"Ya lu keluar dulu lah botak,"
"Harus banget?"
"Ya masa gue ganti baju depan muka lu?"
"Kaya sama siapa aja,"
Aden makin kesel. Dia mendecak sekali. "Buru,"
"Aku madep belakang aja," Langgar langsung hadap belakang begitu ngomong, tapi Aden engga sepenuhnya percaya. Bisa aja kan Langgar tiba-tiba puter balik?
Jadi dia maju dan iket handuk bekas dia tadi di mata Langgar dengan kencang. Awalnya Langgar mau menolak tapi dia akhirnya mengalah sambil ketawa-ketawa. "Aku ga akan ngintip, ya ampun," katanya, berbalik untuk menghadap Aden.
Meskipun matanya ditutup oleh Aden, Langgar tetap meletakkan tangannya di pinggang Aden setelah meraba dari atas pundak. "Kaya lagi main kucing-kucingan tau,"
"Bodo amat," respon Aden cuek. "Awas ya dibuka," peringatnya.
Langgar mengangguk-angguk. Tersenyum penuh arti, soalnya dalam hati berpikir kalau Aden bisa aja ganti baju didalam kamar mandi, tapi pacarnya itu justru lebih milih untuk menutup matanya. Lucu banget.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stranger Chat
Novela Juvenil[BL STORY] Tentang Adenandra yang gabut dan iseng ngetik nomor asal lewat WhatsApp dan ngechat random yang berujung sambat karena nomor itu ngga pernah ngebales pesannya satupun padahal ceklis dua. WARNING: Mengandung kata-kata kasar.
