Siang itu suasana di depan gedung agensi tidak terlalu ramai. Lily baru saja turun dari mobil dan melihat seseorang berdiri di dekat pintu masuk.
"Jeno? Ngapain kau di situ... kayak satpam yang berjaga saja," ucap Lily sambil terkekeh kecil.
Jeno melirik sekilas, tangannya disimpan di saku hoodie.
"Ani, aku sedang menunggu manajer."
"Ohhh... ya sudah, aku masuk dulu ya," jawab Lily sambil melangkah masuk ke gedung.
"Hm," sahut Jeno singkat, tapi matanya tetap mengikuti langkah Lily sampai menghilang di balik pintu.
---
Beberapa jam kemudian, Lily keluar dari agensi sambil merenggangkan bahu. Betapa terkejutnya dia saat melihat Jeno masih berdiri di tempat yang sama.
"Loh? Kau masih di situ? Sudah sejam lebih!" seru Lily tak percaya.
Jeno hanya tersenyum tipis. "Aku sengaja menunggumu."
"Waeyo? Mana Manager Lim? Bukannya tadi kau bilang menunggunya?"
"Dia sudah pergi tadi. Aku mau kita pulang bersama," ucap Jeno santai, seolah itu hal paling wajar.
Lily mengerjapkan mata, tidak yakin harus merasa senang atau bingung.
"Nde? Kau tadi ke sini naik apa memangnya?"
"Diantar sama bodyguard," jawab Jeno santai.
"Aah..." Lily mengangguk-angguk pelan. "Tapi aku masih ada kerjaan, aku mau beli perlengkapan medis dulu."
"Aku ikut," kata Jeno cepat tanpa pikir panjang.
Lily menatapnya heran, bibirnya setengah senyum.
"Umm... terserah mu saja. Aku mau pesan taksi, ya."
Jeno mengangguk mantap. "Oke, aku ikut naik."
Lily hanya bisa menghela napas kecil. Dalam hati, ia bertanya-tanya kenapa Jeno repot-repot menunggunya selama itu hanya untuk sekadar pulang bersama. Ada sesuatu yang aneh, tapi juga membuat dadanya hangat.
Lily memesan taksi lewat ponselnya, sementara Jeno berdiri santai di sampingnya. Udara sore terasa sejuk.
Tak lama kemudian, taksi mereka tiba. Jeno mendahului membuka pintu dan menunduk sedikit.
"Masuk dulu," ucapnya sopan.
Lily mengangguk kecil, masuk lebih dulu lalu Jeno menyusul duduk di sampingnya. Begitu pintu tertutup, suasana di dalam mobil jadi hening.
Lily melirik sekilas, mendapati Jeno duduk dengan bahu sedikit menempel ke pintu, menatap keluar jendela.
"Kau tidak lelah? Berdiri selama itu..." Lily memecah keheningan.
Jeno menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis.
"Sedikit. Tapi tidak apa-apa. Aku memang ingin menunggumu."
Lily mengerutkan dahi. "Waeyo? Bisa kan kau pulang duluan..."
"Aku cuma... ingin memastikan kau pulang dengan aman." Suara Jeno terdengar pelan tapi jelas.
Kata-kata itu membuat Lily terdiam sejenak. Pipi hangatnya mulai terasa memerah.
"Padahal aku hanya mau ke toko alat medis," gumamnya.
"Ya, makanya aku ikut. Biar kau tidak sendirian." Jeno menoleh menatapnya sejenak sebelum kembali melihat keluar.
Keheningan kembali menyelimuti, tapi kali ini terasa berbeda-lebih hangat. Lily menggenggam tasnya erat-erat.
"Gomawo," ucap Lily akhirnya, suaranya pelan.
Jeno tersenyum, kali ini lebih lebar. "Kau tidak perlu berterima kasih. Aku yang mau melakukannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
NCT DREAM - MY DREAMS IMAGINE
FanfictionCome on, be happy 😊 Jinjja...Inspired by my random dream ✌️😂 ft. Lily as Assistant (health nurse)/ Staff Medis NCT DREAM 🐯🐶🐻🐹🦊🐰🐬 Kalau mau lebih tau Lily itu siapa, kalian lebih awal baca cerita "Work Mate" 🤗 Vote★ Comment 📝
