Part 18

1.3K 82 11
                                        

Suara alat monitor detak jantung berdenting di tengah kesunyian, seorang gadis cantik berbaring lemah dengan berbagai alat penopang hidup, satu jam yang lalu dokter menyatakan kemungkinan bertahan hidupnya kecil. Seluruh anggota keluarga Kala menangis sejadi-jadinya, mereka bahkan bingung apa alasan Kala nekat terjun ke lautan luas itu di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya, moment yang paling ia nantikan dan selalu ia tagih-tagih pada Danzel dan Meisya.

Namun tak pernah terpikirkan dalam benak Meisya sekalipun, anak kesayanganya, buah hati tercintanya akan mengalami hal ini, berjuang antara hidup dan mati.

"Nak ayo bangun. Jangan tinggalin Mami sayang..hiks.." tangis Meisya dengan suara bergetar.

Make up Meisya telah luntur berganti dengan wajah yang amat sangat pucat, tatapannya kosong. Matanya bengkak. Tak melepaskan sedetikpun genggaman pada tangan putrinya. Ia kecup berkali-kali tangan mungil itu.

Sudah 24 jam terhitung gadis itu tak sadarkan diri.

"Mami janji sayang, setelah Kala sadar nanti mami akan menuruti semua kemauan Kala.. tapi please... sadar ya sayang hikss..."

Danzel yang ada di belakang tubuh Meisya, mengusap lembut surai istrinya, tak jauh beda dengan Meisya Danzel pun berantakan luar biasa, ketakutan dalam dirinya sangat besar, ia takut kehilangan putrinya.

"Kala akan sembuh." Ucap Danzel denial.

"Dokter bilang kemungkinan bertahannya kecil" pekik Meisya kalut. Tangisnya semangin kencang.

Danzel sendiri termenung. Memejam matanya erat hingga setetes air mata menetes jatuh ke pipinya.

"Tuhan. Tukar nyawaku saja jangan nyawa putriku" batin Danzel dengan sesak di dadanya.

~Figuran Bar-Bar~

Hugo menundukan kepalanya, ia saat ini sedang duduk di depan ruang ICU Kala. Ia yang telah menyelamatkan Kala. Ia tidak tau mengapa, tapi reflek tubuh dan otaknya benar-benar menyuruhnya untuk menolong gadis itu.

Apa ia tidak rela gadis itu meninggal, ah mungkin itu karena ia masih belum puas menyiksa gadis itu, aiss masih banyak penderitaan yang telah ia siapan untuk gadis itu. Tapi mengapa dadanya sesak tadi saat melihat Kala terbaring lemah di atas brankar. Ia mengusak rambutnya frustasi.

Di sampingnya terdapat Kelvin yang tengah terisak-isak menangisi Kala. Ia menatap sinis pemuda dingin itu. Tak menyangka melihat seorang Kelvin yang selama ini dingin dengan wajah datar tiba-tiba hari ini ia lihat menangis dengan ingus bertebaran. Menjijikan. Yah tak bisa ia pungkiri itu adalah ikatan batin seorang saudara kembar. Jadi ia coba maklumi.

Tapi bagaimana jika ia benar-benar kehilangan gadis menjengkelkan itu. Apakah hidupnya akan sepi tanpa diganggu gadis itu. Hatinya sejak tadi tak nyaman.. Hugo tidak tau rasa apa ini. Terjadi perperangan batin

"Gue ga tau kenapa gue daritadi ga berhenti hiks, nangis." Ujar Kelvin tiba-tiba dengan isakan.

Hugo hanya melirik ke samping tanpa berniat menangapi, sejak dulu mereka memang tidak sedekat itu. Mengingat Kelvin adalah sahabat dari Raja musuh bebuyutannya.

Kembali Hugo ingat saat ia meraih tubuh mungil Yuki di antara terumbu karang, cukup sulit dan itu mempertaruhkan nyawanya sendiri, ia bisa ikut mati jika kehabisan nafas. Tapi saat itu ia benar-benar mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk mengeluarkan tubuh gadis itu. Bahkan setelah sampai di daratan hal yang pertama kali ia lakukan adalah memberikan CPR pada gadis itu, ia bahkan memberikan nafas buatan untuk Kala. Tadi dadanya tiba-tiba sesak saat melihat tubuh Kala diangkat tak berdaya lalu dibawa ke ambulance.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 30, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

FIGURAN BAR-BARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang