Let Go

101 5 0
                                        

Senja mulai menyingsing, langit orange yang tadinya indah menyinari kini berganti gelap.

Kinan berdiri menatap langit dalam diam. Entah apa yang Kinan pikirkan. Tubuhnya tetap diam walau diterpa dinginnya angin malam.

Anak rambutnya bergerak mengikuti angin bergerak, Kinan kemudian mengeha napas pelan. Ia bahkan tidak sadar dengan sosok yang kini sudah berdiri di belakangnya.

"Sayang," panggil Enggi, langkahnya pelan mendekati Kinan, gadis yang ia pacari selama delapan bulan belakang ini.

Kinan menoleh, senyum manisnya terukir cerah.

Walau hanya dengan cahaya rembulan, Enggi dapat melihat indahnya senyum manis pacarnya itu.

"Sayang, kapan datang?" Kinan melangkah mendekat, tangannya yang semula terayun bebas kini memeluk erat lengan Enggi dengan manja.

Enggi balas memeluk pinggang Kinan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk mengelus pipi Kinan sayang.

"Baru aja, kamu mikir apa sih sampai serius gitu?"

Hati Kinan berdesir hebat. Merasa telah melakukan dosa besar. Matanya menatap Enggi dalam, berusaha menyembunyikan segalanya.

"Engga ada, lagi pengen ngelamun aja." Kinan menuntun Enggi untuk masuk. "Ayo masuk, aku lapar."

Enggi mengikuti langkah Kinan. Ia tidak bertanya lebih lanjut, karna jika Enggi tahu, mungkin ia akan merasakan sakit hati nantinya.

"Mau makan apa, Sayang," Enggi bertanya begitu mereka sudah duduk di sofa.

Kinan berpikir sejenak, "Sushi?"

Enggi mengangguk, "Oke, aku pesan ya."

"Makasih, Sayang. Aku ke kamar bentar ya." Kinan beranjak dari Sofa, tangannya sempat mengelus lengan Enggi pelan.

Langkahnya pelan namun begitu masuk ke dalam kamarnya, Kinan menutup pintu dan bersandar dengan degup jantung yang terasa akan meledak.

Kinan mencoba menahan air matanya. Ia merasa sangat bersalah pada Enggi, padahal pria itu sudah sangat baik padanya.

Kinan dan Enggi sudah pacaran selama delapan bulan. Bagi orang lain mungkin itu sudah termasuk lama, apalagi jika melihat bagaimana mereka bersikap. Kinan dan Enggi benar-benar bersikap seperti pasangan paling sempurna. Hampir tidak pernah ada pertengkaran. Jika pun ada, Enggi yang lebih banyak mengalah. Pria itu terlalu sabar, hingga Kinan merasa tak pantas.

Sejujurnya, Kinan tidak menyukai Enggi. Mereka berkenalan saat Kinan menjadi MC di sebuah acara seminar, yang mana saat itu Enggi menjadi pembicaranya.

Saat itu Kinan sudah punya pacar. Mereka sudah pacaran selama 11 tahun, saat Kinan masih berasa di bangku sekolah.

Enggi yang tahu hal itu mengurungkan niatnya untuk mendekat, karna mungkin ia pikir hubungan Kinan sudah sangat serius. Karna itu yang semua orang pikirkan saat melihat Kinan dan Bima.

Namun tiba-tiba, berita Kinan dan Bima putus membuat semua orang heran. Karna sebelumnya sudah ada berita yang beredar jika mereka akan tunangan.

Kinan juga bingung, sebenarnya apa yang terjadi. Kinan dan Bima baik-baik saja, mereka banyak bertengkar tapi hubungan mereka tidak hancur. Tidak ada orang ketiga, tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kesalahpahaman.

Yang ada, rasa bosan? mungkin.

Kinan tidak tau apa pastinya, 11 tahun bersama membuat ia merasa mereka sudah sedekat itu, sudah tahu segalanya. Tapi tiba-tiba semua terasa hambar.

Mereka terasa jauh, notifikasi dari Bima sudah tidak semenarik itu. Mereka berdua sama-sama sibuk, tapi jika bertemu tidak ada yg di obrolkan. Diam seakan sudah paham satu sama lain. Kinan merasa Bima berbeda, dan Bima juga merasa hal yang sama.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 02, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Forgive MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang