Bogor, 13 April
Petualangan mereka berempat resmi dimulai hari ini—perjalanan yang dipenuhi tantangan, ketegangan, dan ketidakpastian.
Derit ban yang bergesekan dengan aspal lembap berpadu dengan deru mesin motor dan mobil yang mereka kendarai. Suara itu menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di sepanjang jalan.
Tak ada suara kehidupan lain.
Tak ada burung.
Tak ada binatang.
Bahkan gerombolan mayat berjalan pun tak terlihat.
Keheningan itu justru terasa mengerikan.
Freya sedikit menarik gas motornya, menyamakan kecepatan dengan mobil yang dikendarai Adel.
"Del!" teriaknya, suaranya hampir tenggelam oleh angin.
"Gue nggak asing sama jalanan ini. Kayaknya dulu gue pernah lewat sini. Kalau gue nggak salah inget, di depan ada belokan—bisa kita pakai buat motong jalan!"
Adel menoleh sekilas, lalu mengangkat lengannya, membentuk gesture huruf O.
"Lu duluan aja!" balasnya keras-keras.
"Biar gue ikutin lu!"
Freya mengangguk. Tanpa ragu, ia memutar gas dan melesat mendahului mobil.
Sebenarnya, kecepatan Freya masih tergolong wajar. Namun entah kenapa, dari kursi belakang mobil, Flora merasa dadanya menghangat oleh rasa kesal.
"Cih," gerutunya pelan.
"Mentang-mentang sendirian, sok gaya banget kebut-kebutan."
Ashel yang duduk di sebelahnya tertawa kecil.
"Ahaha, santai aja. Sahabat lu nggak bakal kenapa-kenapa, kok."
Flora tak menanggapi. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Pepohonan tinggi berdiri rapat di sisi jalan, seakan mengurung mereka dalam lorong hijau yang sunyi.
Namun suara Ashel kembali menarik perhatiannya.
"Eh, by the way," ucap Ashel santai.
"Kalian emang udah berapa taun sahabatan?"
Flora menoleh cepat, mengernyit.
"Dari kecil, dari gue tk."
"Kenapa emang?"
"Ohh." Ashel hanya ber oh ria saja menanggapi jawaban.
Alis Flora berkerut.
"Gajelas lu."
Ashel hanya tersenyum kecil dan menggeleng.5
Tak ada jawaban lagi dari Flora.
Hanya keheningan yang kembali menyelimuti perjalanan mereka.
---
Bandung, 13 April
Kondisi Bandung jauh dari kata normal.
Langit gelap menyelimuti kota—bukan karena malam atau hujan, melainkan kepulan asap tebal yang menjulang tinggi, menutup cahaya matahari.
Mereka kini telah tiba di pinggiran kota. Meski pusat kota masih berjarak beberapa kilometer, satu hal sudah jelas: Bandung tak jauh berbeda dari Jakarta atau Bogor.
"Sial," desah Adel, wajahnya menegang.
"Beneran nggak ada kota aman sekarang."
Freya mengusap wajahnya gusar.
"Mau gimana lagi? Kita butuh air sama tempat berlindung."
"Badan kita juga udah capek. Kita nggak mungkin balik."
Sebelum ada yang sempat menanggapi, suara lain terdengar dari kejauhan.
Geraman.
Derap langkah kaki yang tak beraturan.
Keempatnya langsung waspada.
Dari kejauhan, terlihat segerombolan mayat hidup tengah mengejar sekelompok orang. Jaraknya cukup jauh, tapi cukup jelas untuk membuat jantung mereka berdegup kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN AND HIDE
FanfictionBercerita tentang beberapa gadis yang berusaha bertahan hidup dari kiamat Zombie. Mereka dituntut untuk terus bergerak dan bersembunyi karena musuh mereka bukan hanya para mayat hidup tapi beberapa survivor lain yang saling membunuh untuk mengambil...
