Langit yang sejak siang tampak kusam kini berubah menjadi jingga pucat. Matahari perlahan tenggelam di balik bangunan-bangunan tua, meninggalkan sisa cahaya yang redup dan dingin. Udara menusuk kulit, seperti peringatan bahwa malam akan datang tanpa ampun.
Gerombolan burung gagak bertengger di kabel-kabel listrik yang menjuntai, diam—terlalu diam. Mata mereka mengikuti setiap langkah keenam gadis itu, menambah kesan muram seperti potongan film apocalypse yang tak pernah ingin ditonton ulang.
Ashel berjalan paling depan bersama Freya. Azizi tetap memilih posisi belakang, menjaga jarak yang cukup untuk melihat semuanya—dan merasakan hal-hal yang tak terlihat. Adel dan Marsha sesekali masih melontarkan komentar ringan, seolah bercanda bisa menahan runtuhnya dunia. Flora berjalan di tengah, lebih banyak diam. Matanya sibuk mengamati sekitar—jalanan ini terasa... terlalu kosong.
"Sepi banget," gumam Flora, nyaris hanya untuk dirinya sendiri. "Kayak... kebanyakan kosong."
Azizi merasakan hal yang sama. Terlalu sunyi. Tidak ada suara langkah lain, tidak ada bayangan bergerak. Dan justru itulah yang membuat tengkuknya meremang.
Freya memperlambat langkahnya, menatap bangunan-bangunan di depan. Polanya terasa familiar. Terlalu familiar.
"Ini... kita muter doang, ya?" tanyanya akhirnya.
Ashel menoleh sekilas. "Nggak. Kota lama emang gini. Banyak bangunan peninggalan Belanda, bentuknya mirip semua."
Azizi ikut menimpali tanpa menoleh. "Jalan aja. Kalo kita berhenti kebanyakan mikir, malah makin kesasar."
Tak ada yang membantah. Mereka memilih percaya—atau setidaknya berpura-pura.
———
Kegelapan akhirnya jatuh sepenuhnya. Malam menyelimuti kota seperti kain basah yang berat. Satu-satunya penerangan hanya senter kecil di tangan Freya, cahayanya memantul lemah di dinding-dinding kusam.
Adel, Marsha, dan Flora otomatis merapatkan barisan. Azizi tetap di belakang, langkahnya santai tapi matanya waspada. Sesekali ia menoleh ke belakang—bukan karena melihat sesuatu, tapi karena merasa seharusnya ada sesuatu di sana.
Beberapa ratus meter kemudian, suasana berubah.
Udara terasa lebih dingin. Angin yang menyapu lorong sempit menciptakan gema aneh, membuat suara langkah mereka terdengar berlapis—seolah ada langkah lain yang menyatu, lalu menghilang.
Adel menggosok lengannya. "Sumpah, gue ngerasa ada yang merhatiin kita."
"Perasaan lu doang," sahut Marsha cepat. Namun suaranya tak seenteng biasanya.
Sepi.
Sunyi.
Dingin.
Tak ada siapa-siapa. Dan justru itu yang salah.
Freya menyorotkan senter ke tembok-tembok sekitar. Bersih. Tak ada coretan, tak ada tanda apa pun. Padahal sebelumnya, simbol-simbol itu seperti muncul di mana-mana. Janggal.
Azizi merasakan hal yang sama. Rute ini... melenceng. Tapi tak satu pun dari mereka membuka suara.
———
Di atas atap bangunan tinggi, dua sosok berpakaian serba hitam berdiri diam.
Tak ada percakapan panjang. Hanya pengamatan.
Salah satu dari mereka merunduk, memperhatikan enam orang yang berjalan di bawah sana.
"Jalurnya sesuai," gumamnya.
Sosok satunya mengangguk pelan. "Masih rapi."
Mereka mencatat setiap gerak, setiap jeda, setiap perubahan langkah. Sosok pertama mengeluarkan alat komunikasi kecil, jarinya nyaris menekan tombol—namun tangan lainnya segera menahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN AND HIDE
FanfictionBercerita tentang beberapa gadis yang berusaha bertahan hidup dari kiamat Zombie. Mereka dituntut untuk terus bergerak dan bersembunyi karena musuh mereka bukan hanya para mayat hidup tapi beberapa survivor lain yang saling membunuh untuk mengambil...
