Bab 12 : Putus asa

17 3 0
                                        

Tiap sudut kota seolah punya mata dan telinga sendiri. Malam semakin larut, udara dingin makin menusuk kulit, seperti sengaja ingin mengikis sisa tenaga yang mereka punya.

Musuh mereka kini bukan hanya mayat hidup, atau para penyintas lain yang sama-sama lapar dan putus asa.

Ada musuh lain yang lebih nyata.

Kelelahan.

Tubuh manusia punya batas yang tidak bisa dilawan. Dan malam ini, batas itu terus mereka dorong, langkah demi langkah, tanpa tahu kapan akhirnya pecah.

Azizi berjalan paling belakang. Matanya mengamati satu per satu teman-temannya. Ritme napas mereka kompak, bahu naik turun cepat. Tidak ada yang berbicara, karena bicara pun terasa seperti pemborosan tenaga.

Mereka semua sudah terlalu lelah.

Pandangan Azizi kemudian beralih ke salah satu bangunan tinggi di sisi jalan. Matanya menyipit, seolah memindai sesuatu di antara gelap.

Ada sesuatu yang janggal di sana.

Siluet manusia.

Dengan cepat ia menginstruksikan teman-temannya untuk berhenti. "Stop. Kita istirahat bentar, ambil napas di sini."

Mereka menoleh ke arah Azizi, raut heran terlihat jelas. Tapi tak ada yang bertanya. Lagi pula, berhenti sejenak adalah sesuatu yang diam-diam mereka tunggu sejak tadi.

Keheningan menyelimuti keenamnya.

Tak ada pembicaraan. Hanya suara napas yang bersahutan, berat, patah-patah. Seperti mereka berebut oksigen satu sama lain.

Sampai akhirnya Freya sengaja menatap Azizi.

Rasa penasaran di kepalanya terlalu gaduh untuk ditahan. Ia ingin tahu alasan Azizi tiba-tiba menghentikan mereka. Azizi bukan tipe orang yang menyuruh berhenti tanpa alasan. Apalagi di tempat seperti ini.

Azizi yang paham maksud tatapan itu hanya memberi isyarat kecil dengan matanya, mengarah ke bangunan yang ia perhatikan sejak tadi.

Freya mengerti.

Ia berpura-pura melakukan peregangan, mengangkat kedua lengannya, seolah sedang melenturkan tubuh yang kaku. Tapi matanya diam-diam mengarah ke tempat yang dimaksud.

Tubuhnya menegang seketika.

Siluet itu masih ada.

Diam. Tak bergerak.

Dan justru itu yang membuatnya terasa mengganggu. Seolah seseorang sedang mengawasi mereka tanpa rasa takut, tanpa usaha untuk bersembunyi.

Freya kembali melakukan kontak mata dengan Azizi. Matanya seolah bertanya: Sekarang apa?

Azizi tidak langsung menjawab. Otaknya mulai bekerja cepat, merancang rencana baru. Ia menilai sekitar. Bangunan-bangunan retak. Kaca toko pecah. Lampu jalan berkedip pelan, seakan hampir mati. Kabut tipis menggantung rendah, menyusup di antara kaki mereka seperti asap.

"Kita ubah tempo jalan," ucapnya akhirnya, suaranya rendah tapi tegas. "Sedikit lebih cepat."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

"Di depan, kita cari minimarket atau ruko kosong buat kita bermalam."

Sebenarnya, ada kalimat lain yang hampir keluar dari mulutnya. Tentang siluet itu. Tentang rasa tidak enak yang menempel di tengkuknya sejak tadi. Tentang perasaan bahwa mereka sedang dilihat dari tempat yang lebih tinggi.

Namun instingnya menahan.

Belum saatnya.

Tak ada yang protes. Mereka mengangguk patuh. Bukan karena mereka ingin, tapi karena mereka tidak punya pilihan lain. Hanya Azizi yang benar-benar membaca situasi malam ini.

RUN AND HIDECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang