Jakarta, 12 April
"Flo, kayaknya kita kebanyakan bawa snack deh," ujar Freya.
Saat itu mereka sedang menjarah sebuah supermarket yang berada di area pom bensin. Rak-raknya tak sepenuhnya kosong, tapi jelas sudah lebih dulu didahului orang lain.
Setelah pertemuan mereka dengan Ashel dan Adel, keempatnya sepakat membentuk aliansi sementara. Dalam situasi seperti ini, semakin banyak orang berarti semakin besar peluang bertahan hidup-setidaknya itulah yang mereka yakini.
"Gapapa," jawab Flora santai sambil terus memilah snack di rak.
"Kita juga nggak tahu ke depannya masih bisa nemu supermarket atau nggak."
Freya mengangguk kecil.
Tiiit...
Suara klakson terdengar dari luar minimarket.
Freya dan Flora saling menoleh.
"Ada apa?" tanya Flora.
Freya tak menjawab. Ia langsung menggenggam lengan Flora dan menariknya keluar.
Di luar, Adel sudah berdiri di samping mobil, mengisyaratkan agar mereka segera masuk.
"Flo, kamu bareng mereka," ujar Freya cepat. "Aku naik motor sendiri."
Nada suaranya bukan permintaan-melainkan perintah.
"Tapi, Frey-"
Freya sudah berjalan ke arah motornya.
"Flo, cepet. Nggak ada waktu," seru Ashel dari dalam mobil.
Mau tak mau, Flora masuk ke dalam mobil.
"Ayo, Del," ujar Ashel.
Mesin mobil meraung, disusul dengungan piston motor Freya. Mereka meninggalkan pom bensin itu hampir bersamaan.
"Del, kita mau ke mana?" tanya Freya dari samping mobil sambil tetap fokus ke jalan.
"Sebisa mungkin hindari area keramaian," jawab Adel. "Pusat kota, tempat wisata-semua rawan."
"Kalau ke Bandung gimana?" usul Ashel. "Mungkin di sana nggak separah Jakarta."
Adel berpikir sejenak.
"Oke. Kita coba ke sana."
---
Bogor, 12 April
Karena akses tol tak bisa dilewati, mereka terpaksa memutar lewat jalur Puncak. Waktu tempuh jadi lebih lama, belum lagi beberapa kali mereka harus mengubah arah karena berpapasan dengan gerombolan mayat berjalan.
"Frey," ujar Adel dari balik kemudi. "Kayaknya kita perlu cari tempat buat kemah malam ini."
Ia melirik ke belakang. Flora dan Ashel tertidur di kursi belakang, tubuh mereka bersandar satu sama lain.
"Mereka udah kecapekan."
Freya mengangguk.
"Oke. Gue duluan. Biar gue cek kondisi jalan di depan."
Ia memacu motornya, mendahului mobil Adel.
---
Sret...
Sebuah tenda kecil berkapasitas empat orang yang mereka dapat dari supermaket sebelumnya, akhirnya berdiri di area yang cukup tersembunyi.
"Silakan," ujar Freya sambil tersenyum, gaya bicaranya seperti pegawai hotel.
Flora dan Ashel masuk lebih dulu. Freya dan Adel menyiapkan api unggun kecil di depan tenda.
"Del," kata Freya pelan. "Kayaknya nggak aman kalau kita tidur semua. Gimana kalau giliran jaga? Empat jam sekali."
"Lu duluan aja," jawab Adel santai sambil melempar ranting ke api. "Gue masih seger."
Freya mengangguk. Ia berdiri sambil menepuk-nepuk celananya dari tanah.
"Gue duluan, ya."
---
Di dalam tenda, Flora dan Ashel sudah tertidur pulas. Hari yang mereka lalui terlalu panjang untuk dihadapi dengan mata terbuka lebih lama.
Freya menatap Flora sejenak. Mulut gadis itu sedikit terbuka, napasnya teratur.
"Apapun yang terjadi," gumam Freya pelan,
"gue bakal lindungi lo semampu gue... bahkan kalau harus ngorbanin nyawa gue sendiri."
Ia berbaring di sisi mereka, perlahan memejamkan mata.
---
Cahaya matahari pagi merayap masuk lewat celah-celah tenda.
"Sheesh... cepet banget pagi," keluh Adel pelan.
Ia menoleh ke Ashel yang masih terlelap dalam dekapannya.
"Shel," panggilnya lembut.
Ashel merengek kecil. "Hmm... udah pagi?"
Matanya terbuka perlahan. Wajah Adel yang tersenyum adalah hal pertama yang ia lihat.
"Gimana tidurnya?" tanya Adel.
Ashel tersenyum kecil. "Nyenyak. Kan ada kamu."
Saat Ashel hendak bangkit, Adel menahannya.
"Pelan-pelan. Jangan buru-buru," katanya sambil terkekeh.
"Kita juga nggak kelas hari ini."
Ashel mendesah pelan.
"kampus kita juga udah nggak berbentuk, Del."
Nada suaranya merendah.
"Ngomong-ngomong... gimana ya teman-teman kita?"
Adel terdiam sejenak.
Beberapa temannya juga sudah hilang kontak sejak dua hari lalu.
"Jangan mikirin dulu," ucapnya akhirnya.
"Aku yakin mereka baik-baik aja. Kita pasti ketemu lagi."
Kalimat terakhir itu ia simpan sendiri.
---
Bogor, 13 April
Untuk pertama kalinya, mereka berempat sarapan bersama.
"Del, kenapa lu nggak bangunin gue tadi malam?" tanya Freya merasa bersalah.
"Gapapa," jawab Adel santai.
"Gue sempet muter buat mastiin sekitar aman. Tempat ini lumayan terisolasi."
Ia menyendok bubur instan.
"Oh ya, ada kabar baik. Nggak jauh dari sini ada pom bensin. Kita bisa isi bahan bakar."
"Kalau gitu kita lanjut jalan," putus Freya.
"Jangan kelamaan. Perjalanan kita masih jauh."
Ketiganya mengangguk setuju.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN AND HIDE
FanfictionBercerita tentang beberapa gadis yang berusaha bertahan hidup dari kiamat Zombie. Mereka dituntut untuk terus bergerak dan bersembunyi karena musuh mereka bukan hanya para mayat hidup tapi beberapa survivor lain yang saling membunuh untuk mengambil...
