Bab 7 : Atap yang sama

41 7 2
                                        

Udara khas dataran tinggi Bandung turun perlahan, dinginnya menempel di kulit keenam gadis itu seperti peringatan yang tak pernah benar-benar pergi. Angin malam menyusup lewat celah rumah, membawa bau tanah basah dan sunyi yang terlalu dalam untuk diabaikan.

Ashel sibuk mencatat dan memilah logistik mereka.
"Stok logistik kita cukup buat beberapa hari ke depan." katanya.

"Obat-obatan juga lumayan. Kita cuma kekurangan senjata, biar jadi urusan gue." timpal Azizi.

Mereka mengangguk. Ketegangan yang sempat mengikat pertemuan awal kini mulai melonggar, meski tak sepenuhnya hilang.

Marsha sudah merebahkan diri di atas sofa, tubuhnya tampak santai, namun sikapnya tertutup. Ia jelas tak mengizinkan siapa pun untuk bergabung.
Freya sesekali mengecek kondisi luar, matanya awas, seolah gelap di luar sana bisa sewaktu-waktu bergerak.

Flora hanya memeluk lututnya sendiri. Trauma masih berdiam di sana, diam namun berat.

Berbeda dengan Adel. Ia dengan santai menikmati cokelat yang ia bawa dari minimarket sebelumnya.
"Flo, nih makan. Biar good mood lagi," tawarnya. "Ya seenggaknya, bisa bantu dikit lah."

Flora menoleh, lalu menerima sebatang cokelat yang disodorkan Adel.
"Makasih."

Freya bergerak gelisah, pikirannya berputar tanpa arah yang jelas.

"Frey, lu kenapa?" tanya Ashel penasaran.

"Motor kesayangan gue Shel, kayaknya kita harus balik lagi ke rumah itu deh," keluhnya.

Namun Azizi kembali bersuara, "Rumah itu udah ditandain, sama kelompok mereka." katanya santai. "Saran gue mending lupain motor lu kalo tetep mau hidup."

Freya menggeleng.
"Gabisa, itu motor kesayangan gue, satu-satunya peninggalan dari bokap gue."

"Terserah, kalo lu mau mati setidaknya jangan ajak kita," timpal Marsha.

Freya mendesah pelan. Ia memilih diam, tak ingin memperpanjang perdebatan.

Cahaya remang-remang dari lilin menjadi satu-satunya penerangan malam itu. Bayangan mereka memanjang di dinding, bergerak seiring api kecil yang terus berjuang bertahan.

Azizi, Freya, dan Ashel duduk mengelilingi meja kecil, membentangkan peta kusam yang telah banyak kehilangan warna.

"Ini teritorial mereka, sebisa mungkin kita hindari area-area ini," kata Azizi sambil menunjuk peta.

Freya mengernyit penasaran.
"Sebenernya mereka siapa? dan sebanyak apa?"

"Mereka nyebut kelompok mereka sebagai Veil," jawab Azizi. "Untuk anggota gue gatau pasti jumlahnya."

"Veil? artinya tirai-kan?" tebak Ashel.

Azizi mengangguk.
"Ya, sesuatu yang menutupi. Entah kebenaran atau kesalahan, mereka punya slogan. Kami melihat sebelum dunia sadar."

Freya bergidik.
"Artinya mereka beranggapan, kalo mereka selalu selangkah lebih maju?"

Ashel dan Azizi tak menjawab. Pertanyaan itu dibiarkan menggantung, menyatu dengan angin malam yang menyusup ke dalam rumah.

Ketegangan perlahan pecah ketika tiga gadis lainnya muncul dari salah satu ruangan.

"Hi, guys waktunya makan malem!"

Lengan mereka penuh dengan piring dan mangkuk berisi mi instan dan frozen food hasil jarahan minimarket.

"Hati-hati Flo," kata Ashel memperingatkan.

RUN AND HIDECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang