Bab 16 : Bilik

14 6 1
                                        

Suara air yang menetes pelan menggema ke seluruh ruangan.

Tik... tik... tik...

Bau pengap dan anyir menusuk sampai ke dalam kepala, seperti ada sesuatu yang membusuk di balik dinding. Udara lembab menempel di kulit, dingin, berat, dan membuat napas terasa pendek.

Dinding di sekeliling dipenuhi cat yang terkelupas. Jamur hitam menjalar di sudut-sudutnya, meninggalkan noda seperti luka lama yang tidak pernah sembuh.

Gelap.

Bukan gelap yang menenangkan.

Gelap yang membuat tubuh otomatis siaga.

Di lantai dingin itu, seorang gadis terbaring miring, tubuhnya kaku. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya, dan napasnya terdengar tersengal kecil, seolah baru saja dikejar sesuatu.

Pelan-pelan, gadis itu membuka mata.

Matanya kosong beberapa detik.

Pikirannya seperti tersangkut di antara sadar dan tidak.

Namun begitu kesadarannya benar-benar kembali...

rasa sakit menyambar.

Panas menyengat dari lengannya membuat tubuhnya refleks menegang.

"Shessh..."

Ia mendesis, mencoba mengangkat tangan untuk menahan luka.

Tapi tangannya tidak bergerak.

Ia baru sadar.

Kedua tangannya terikat kuat di belakang tubuhnya.

Tali kasar menekan pergelangan sampai terasa seperti kulitnya akan robek. Setiap kali ia mencoba menggerakkan bahunya, rasa perih langsung menjalar dari pergelangan sampai punggung.

Flora menahan napas.

Jantungnya berdetak keras.

Terlalu keras.

Seolah ruangan itu bisa mendengarnya.

Ia memaksa duduk, punggungnya bersandar pada dinding lembab. Keringat dingin mengalir di pelipisnya meskipun udara di sini sangat dingin.

Kepalanya pusing.

Pandangannya kabur.

Ia mengedip beberapa kali, mencoba fokus.

Ruangan itu sempit.

Ada bau besi, bau darah, dan bau obat yang basi.

Di sudut ruangan, ada ember karat.

Di langit-langit, pipa bocor.

Dan dari situlah suara air menetes itu berasal.

Tik... tik... tik...

Flora menelan ludah.

Tenggorokannya kering.

Matanya bergerak cepat, mencoba mencari pintu.

Namun ruangan itu terlalu gelap untuk memastikan.

Ia mencoba menarik napas panjang, tapi bau anyir membuatnya hampir muntah.

Lalu pikirannya mulai bekerja.

Pelan.

Terputus-putus.

Kenapa dia ada di sini?

Siapa yang mengikatnya?

Apa yang terjadi setelah dia kabur?

Dan saat itu...

ingatan itu datang.

Bukan pelan.

Tapi seperti kilatan listrik yang menyetrum kepala.

RUN AND HIDECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang