Bab 13 : Ancaman

10 3 0
                                        

Dengan langkah tergesa dan hati yang gelisah, kelompok mereka meninggalkan area camp tanpa menoleh sekali pun. Tidak ada yang berani berhenti, bahkan sekadar menarik napas panjang. Mereka terus berjalan sampai kabut mulai menipis dan langit perlahan berubah lebih terang.

Namun rasa dingin di tubuh mereka tidak ikut menghilang.

Mereka terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Suara dari HT yang mereka temukan tadi terus berputar di kepala, seperti rekaman rusak yang tidak bisa dimatikan.

Freya menggenggam tasnya lebih erat, seolah bisa menyalurkan seluruh kegelisahan lewat jemarinya. Sesekali ia melirik wajah teman-temannya satu per satu.

Pucat. Gelisah. Kelelahan.

Tiga hal yang tak bisa dibantah.

Mereka kembali menyusuri jalan besar sebelumnya. Lampu jalan di sepanjang sisi trotoar berkedip-kedip tidak stabil, membuat beberapa detik berubah menjadi kegelapan absolut sebelum kembali menyala.

Setiap kali lampu padam, jantung Freya ikut terhenti.

Ashel sedari tadi beberapa kali menoleh ke arah Freya. Ada sesuatu di benaknya yang jelas mengganggu. Bibirnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata itu selalu tertahan.

Sampai akhirnya ia menyerah pada pikirannya sendiri.

"Frey..." suaranya pelan, ragu. "Gimana kalau kita cari orang yang di camp tadi?"

"Nggak."

Bukan Freya yang menjawab.

Azizi langsung menolak tanpa jeda.

Ashel menatapnya, jelas tidak puas.

"Bukan berarti kita gak punya hati," lanjut Azizi, suaranya tegas. "Tapi nyawa kita lebih penting."

"Tapi mereka juga penyintas kayak kita," bantah Ashel. "Apa bedanya?"

"Karena kita gak kenal mereka," Azizi tetap dengan pendiriannya. "Kita juga gak tahu mereka kelompok apa. Bisa aja itu jebakan."

Freya akhirnya ikut bicara, suaranya lebih tenang, tapi ada tekanan di dalamnya.

"Dan kalau pesan itu bener... kalau emang ada yang ngawasin kita... gue rasa Azizi bener."

Ashel menarik napas panjang. Matanya menatap kosong ke jalanan yang retak. Ia tidak lagi bernegosiasi.

Tidak terasa, hampir satu jam berlalu sejak mereka meninggalkan camp itu. Dan tubuh mereka benar-benar sampai di batasnya.

Langkah mereka melambat. Bukan karena mereka ingin, tapi karena kaki mereka sudah terlalu berat untuk dipaksa berjalan lebih jauh.

Bahkan sejak obrolan terakhir Flora dan Adel yang membagi sebatang cokelat dan seteguk air, tak ada lagi percakapan yang terdengar di antara mereka.

Hanya langkah. Dan napas.

Azizi mempercepat langkah sedikit, menyusuaikan posisinya dengan Freya di depan. "Kita harus cepet cari tempat buat istirahat malam ini," katanya pelan.

Freya mengangguk setuju. Matanya memindai sekitar, mencari apa pun yang bisa mereka jadikan tempat berlindung.

Lalu ia melihatnya.

Sebuah ruko kosong berdiri tidak jauh dari mereka, pintu rolling door-nya setengah terbuka, kacanya pecah, tapi bangunannya masih kokoh dibanding reruntuhan lain.

Freya menunjuk pelan.

"Kayaknya... di sana aman."

Azizi menatap bangunan itu beberapa detik. Ia tidak langsung mengiyakan. Di dunia seperti ini, kata "aman" sudah kehilangan maknanya. Tapi ruko itu punya satu hal yang mereka butuhkan sekarang: dinding.

RUN AND HIDECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang