Sinar remang-remang dari cahaya bulan menjadi penerangan utama di atas atap tempat mereka bersembunyi.
Langit gelap tanpa bintang.
Angin malam menusuk kulit, membawa bau busuk dari bawah. Bau darah, daging basi, dan aroma yang membuat perut terasa mual.
Di bawah mereka...
keadaan benar-benar hancur.
Lautan mayat hidup menjadi pemandangan paling mengerikan yang pernah mereka lihat sejauh ini.
Jalanan di depan minimarket sudah bukan jalanan. Mobil-mobil terbalik menjadi penghalang yang tidak berguna, dan trotoar tertutup oleh tubuh-tubuh yang bergerak. Mereka menumpuk, merayap, saling dorong, jatuh, lalu bangkit lagi.
Mulut mereka terbuka.
Erangan mereka menyatu.
Seolah kota itu bernapas melalui tenggorokan para mayat.
Marsha berdiri kaku. Tangannya mengepal tanpa sadar.
Ashel menatap ke bawah tanpa berkedip. Matanya bergerak pelan, mengamati pola gerombolan itu, seperti sedang mencari celah yang bahkan tidak ada.
Adel mondar-mandir pendek di atap sempit itu. Sesekali ia menginjak kerikil kecil sampai berbunyi, lalu buru-buru menahan diri.
"Sial..." gumamnya, setengah berbisik. "Sial... sial..."
Freya berdiri diam.
Tidak menangis keras.
Tidak berteriak.
Namun matanya kosong, seolah pikirannya tertinggal di minimarket tadi.
Tatapannya terpaku pada satu hal.
Jejak darah.
Garis merah samar di gang sempit yang tidak jauh dari minimarket.
Tidak terlalu panjang.
Tidak terlalu jelas.
Tapi cukup untuk membuat dada Freya sesak.
Azizi berdiri paling depan, dekat pinggiran atap. Matanya menyapu sekitar, mencari rute keluar. Setiap sudut ia perhatikan, setiap jalan ia hitung. Kepalanya seperti bekerja lebih cepat daripada tubuhnya sendiri.
Keheningan menggantung di antara mereka.
Namun bukan karena tidak ada suara.
Suara dari bawah terlalu banyak.
Dan suara itu membuat mereka semakin sadar...
mereka benar-benar sendirian.
Freya akhirnya memutus semuanya.
"Kita harus turun."
Suaranya pelan.
Serak.
Namun jelas.
Adel langsung menoleh, wajahnya memerah.
"Turun? Lu mau turun ke situ? Lu mau mati?"
Freya tidak menoleh.
Tatapannya masih tertuju ke jejak darah.
"Gue harus liat."
Marsha mendekat selangkah, napasnya tertahan.
"Frey..."
Freya mengusap pipinya kasar. Seolah ia sedang mencoba menghapus sesuatu yang lebih dari sekadar air mata.
"Dia gak pernah sendirian," bisiknya.
Kalimat itu tidak terdengar seperti permintaan.
Lebih seperti fakta yang menolak untuk diterima.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN AND HIDE
FanfictionBercerita tentang beberapa gadis yang berusaha bertahan hidup dari kiamat Zombie. Mereka dituntut untuk terus bergerak dan bersembunyi karena musuh mereka bukan hanya para mayat hidup tapi beberapa survivor lain yang saling membunuh untuk mengambil...
