---
Pinggiran Kota Bandung, 14 April
Pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menggantung di antara bangunan-bangunan kosong ketika keempatnya bersiap untuk merestock logistik. Setelah berdiskusi singkat, mereka sepakat membagi diri menjadi dua tim. Adel dan Flora bertugas mengumpulkan air, sementara Freya dan Ashel mencari makanan.
"Yaps, sampai ketemu lagi," ujar Adel sambil mengangkat tangannya sedikit sebelum mereka berpisah.
Mereka sepakat untuk tidak mencari terlalu jauh. Cukup beberapa blok dari rumah persembunyian mereka saja. Terlalu berisiko jika bertindak gegabah di wilayah yang belum benar-benar mereka kenali.
Adel dan Flora bergerak ke arah timur, sedangkan Ashel dan Freya ke arah utara. Pembagian ini bukan sekadar ide spontan. Di kondisi seperti sekarang, mereka sadar betul bahwa kerja sama dan chemistry adalah hal yang bisa menentukan hidup atau mati.
"Oy, Flo," panggil Adel sambil melirik ke samping. "Lu kenapa? Dari tadi kelihatan gelisah banget."
Flora menghela napas pelan. Langkahnya sedikit melambat.
"Gatau... tapi gue ngerasa ada yang nggak beres," ujarnya jujur. "Kayak ada yang merhatiin kita."
Adel langsung menghentikan langkahnya sesaat, mengedarkan pandangan ke segala arah. Tubuhnya refleks menegang, mode waspada aktif sepenuhnya. Namun tak ada apa-apa. Jalanan kosong, bangunan sunyi. Tak terlihat mayat berjalan, apalagi manusia.
"Kayaknya cuma perasaan lu aja," katanya, mencoba terdengar santai. "Udah, ayo. Kita cek rumah itu."
Flora mengangguk pelan. Ia tahu betul perasaannya jarang meleset, tapi ia memilih untuk diam. Ia tak ingin membebani Adel dengan kecemasannya sendiri.
---
Di sisi lain, Freya dan Ashel bergerak jauh lebih hati-hati. Mereka berjalan mengendap-endap setelah suara tembakan terdengar dari kejauhan.
"Pst... Shel," bisik Freya. "Mau coba cek? Siapa tahu kita dapet sesuatu yang berguna."
Ashel berhenti melangkah. Ia terdiam beberapa detik, mempertimbangkan risikonya.
"Oke," ujarnya akhirnya. "Tapi kita jaga jarak. Begitu nggak kondusif, kita langsung cabut."
Keputusan aman-mencari informasi tanpa mencari masalah.
Mereka bergerak perlahan, memanfaatkan bayangan dan bangunan sebagai pelindung. Tak lama kemudian, beberapa sosok manusia mulai terlihat. Jumlahnya tak banyak, tapi aura berbahaya langsung terasa. Hampir semuanya memegang senjata laras panjang. Di depan mereka, beberapa mayat tergeletak tak berdaya, darahnya masih terlihat segar.
"Cukup," bisik Ashel cepat saat Freya hendak melangkah lebih dekat. "Jangan keburu nafsu."
Mereka bersembunyi di balik semak-semak yang cukup rimbun. Meski tak bisa mendengar jelas percakapan kelompok itu, apa yang mereka lihat sudah lebih dari cukup untuk membuat jantung berdegup lebih cepat.
Freya menyipitkan mata. "Shel... kayaknya mereka yang kemarin, ya?"
Ashel mengangguk pelan. "Kayaknya. Tanda di rompi mereka mirip. Warnanya juga."
Setelah beberapa saat mengamati, kelompok itu mulai bergerak meninggalkan lokasi. Namun sialnya, arah mereka justru menuju ke tempat Freya dan Ashel bersembunyi.
"Shit, Shel... mereka ke sini."
"Diam," perintah Ashel dengan suara nyaris tak terdengar. "Jangan gerak. Atur napas."
Semak-semak itu cukup rapat. Selama tak ada yang terlalu jeli, mereka masih aman.
Semakin dekat jaraknya, suara percakapan mulai terdengar jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN AND HIDE
FanfictionBercerita tentang beberapa gadis yang berusaha bertahan hidup dari kiamat Zombie. Mereka dituntut untuk terus bergerak dan bersembunyi karena musuh mereka bukan hanya para mayat hidup tapi beberapa survivor lain yang saling membunuh untuk mengambil...
