Suara langkah yang dipijak tak beraturan terus menggema sepanjang lorong gelap itu. Napas semakin tidak teratur, dada mereka naik turun seperti dipaksa berlomba dengan waktu. Mereka hanya berenam. Namun dinding dingin dan lembap itu seolah mempunyai mata, menatap mereka dari celah-celah retakan beton.
Udara di sana tidak segar, lebih seperti bau ruang bawah tanah yang sudah lama terkunci. Campuran karat, tanah basah, dan sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan. Bau yang membuat tenggorokan terasa kering.
"Gue ngerasa jalur kita udah disiapin..." gumam Flora pelan. Napasnya tersengal, suaranya nyaris hilang tertelan gema lorong. Matanya terus menatap sekitar, seolah takut ada tangan yang tiba-tiba menariknya dari balik kegelapan.
Tak ada yang menjawab, tapi semuanya setuju dengan opini Flora.
Mereka sudah merasakannya sejak tadi. Terlalu rapi. Terlalu mulus. Lorong ini seperti sengaja dibuat untuk menuntun, bukan sekadar tempat untuk lewat.
Di balik atap, salah satu sosok tersenyum tipis. Pupil matanya menatap layar kecil di tangan, memperhatikan enam titik bergerak yang mendekat. "Mereka udah sadar, tapi gak ada pilihan."
Sosok lainnya mengangguk setuju. "Lumayan juga. Kita ga bisa gegabah lagi." suaranya datar, tapi tetap tegas. Ia mengusap pelipisnya pelan, lalu menatap ke bawah lewat celah sempit di lantai beton yang retak. Dari sana, hanya terlihat bayangan-bayangan yang bergerak cepat.
Di bawah, Freya mulai menyorotkan cahaya senternya secara acak. Berkas cahaya itu menyapu dinding lembap, memperlihatkan coretan-coretan cat pudar, bekas telapak tangan, dan noda hitam yang seperti sudah menempel selama bertahun-tahun. Ia berusaha mencari jalan lain.
Hal yang sama dilakukan oleh Azizi. Ia menahan napas sejenak, mencoba mengingat rute yang sedang mereka lewati. Jika ini daerah Cibiru lama seharusnya ia tahu tempat ini. Ia tumbuh dengan jalan-jalan kecil Bandung Timur, gang sempit, jalur tikus yang dulu jadi pelarian dari macet.
Tapi nihil.
Ia seperti asing dengan daerah ini.
Lorong itu terasa lebih panjang daripada seharusnya. Sudut-sudutnya terlalu banyak, belokannya terlalu sering, seperti labirin yang menolak memberi ujung.
"Sial, gue belum pernah lewat sini. Tapi harusnya ini ga terlalu jauh dari rute sebelumnya." gerutunya.
Matanya kembali melihat acak bangunan di sekitarnya. Beberapa pintu rumah warga terlihat roboh, dindingnya berlubang, seolah pernah dihantam sesuatu. Ada kabel-kabel putus menggantung seperti akar hitam yang menjuntai dari langit-langit.
Ritme langkahnya tetap sama, tapi pikirannya kacau. Nihil tak ada satu pun yang bisa ia gunakan sebagai petunjuk.
Namun ia belum menyerah.
Kepalanya mendongak ke atas.
Di sela bangunan runtuh dan lorong yang terbuka sedikit, langit biru gelap terlihat jelas, dipenuhi bintang-bintang yang terasa terlalu indah untuk dunia yang sedang mati.
Azizi tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya sejak mereka berlari tanpa tujuan, ia merasa punya pegangan. Kini matanya mulai mengamati satu per satu, mencari salah satu bintang bernama Polaris. Bintang yang katanya selalu menunjuk utara, selalu setia, tidak pernah berubah posisi.
Dan ketika ia menemukannya, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
"Ketemu! Frey, kita cari jalan ke utara." instruksinya dari belakang.
Freya menoleh sebentar, wajahnya diterangi cahaya senter yang bergetar di tangannya. "Gimana caranya? kita ga punya kompas."
Azizi mendekat sedikit, menatap jalur di depan yang bercabang samar. "Udah, kita lurus terus buat sekarang. Kalo lu nemu jalan cabang lu ambil kanan."
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN AND HIDE
FanfictionBercerita tentang beberapa gadis yang berusaha bertahan hidup dari kiamat Zombie. Mereka dituntut untuk terus bergerak dan bersembunyi karena musuh mereka bukan hanya para mayat hidup tapi beberapa survivor lain yang saling membunuh untuk mengambil...
