Kabut perlahan mulai terbuka.
Dua sosok misterius yang dilihat Azizi dan Freya... sudah tak berada lagi di sana.
Hilang.
Bukan seperti orang yang pergi.
Lebih seperti bayangan yang ditarik mundur oleh malam.
Freya tidak merasa lega.
Justru dadanya semakin sempit.
Ada sesuatu yang mengendap di dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan, tapi cukup untuk membuat tubuhnya menggigil meski angin tidak terlalu kencang.
Azizi pun sama.
Karena dengan mereka menampakkan diri, semua dugaan yang selama ini hanya jadi bisikan di kepalanya... kini berubah jadi kenyataan.
Mereka bukan rumor.
Mereka bukan cerita.
Mereka ada.
Dan mereka melihat.
"Kita harus cepet cari Flora." suara Freya bergetar. Bukan hanya karena dingin, tapi karena ia mencoba menahan pikirannya sendiri agar tidak runtuh.
Ashel mendekat, menepuk bahu Freya pelan.
"Frey, gue tau lu khawatir. Tapi lu harus mikirin kondisi diri lu sendiri."
Freya menelan ludah. Matanya masih menatap kosong ke arah atap seberang, tempat dua orang itu tadi berdiri, melambaikan tangan seperti menyapa teman lama.
"Tapi, gimana kalo Flor-"
"Kita istirahat dulu." Azizi memotong ucapan Freya.
Suara Azizi tidak keras.
Tapi berat.
Seperti palu yang memaksa semua orang diam.
"Kita mulai gerak lagi kalo matahari udah terbit. Kalo kita maksa jalan sekarang... kita mati."
Freya mengusap wajahnya kasar.
Pikirannya kacau.
Yang Azizi bilang benar. Terlalu benar. Tapi membiarkan Flora di luar sana semalaman terasa seperti mengkhianati sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertemanan.
Azizi menarik napas.
"Gue tau lu pasti ga terima keputusan gue." Azizi menatap Freya tanpa ragu. "Tapi kita ga bisa gegabah sekarang. Mereka udah nunjukin diri."
Marsha ikut mendekat, suaranya pelan, seolah takut kalimatnya sendiri bisa memancing sesuatu.
"Frey, kita cari bareng-bareng, oke. Flora juga temen kita... gue yakin Flora baik-baik aja."
Freya menatap Marsha lama.
Tatapan itu bukan tatapan minta diyakinkan.
Itu tatapan orang yang hampir putus, mencoba mencari satu alasan kecil untuk tetap berdiri.
Lalu mata Freya bergeser ke Azizi.
Tatapannya kosong.
Lelah.
Dan ada amarah tipis di sana, bukan pada Azizi, tapi pada kenyataan yang memaksa mereka memilih.
"Oke..." suaranya keluar pelan.
Bergetar.
Bukan karena ia setuju.
Tapi karena ia tidak punya pilihan lain.
Azizi melirik jam tangannya.
"Kita kurang lebih punya waktu tiga jam sebelum matahari bener-bener muncul."
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN AND HIDE
Fiksi PenggemarBercerita tentang beberapa gadis yang berusaha bertahan hidup dari kiamat Zombie. Mereka dituntut untuk terus bergerak dan bersembunyi karena musuh mereka bukan hanya para mayat hidup tapi beberapa survivor lain yang saling membunuh untuk mengambil...
