Bab 6 : Keluarga baru

61 7 3
                                        

---

Pinggiran Bandung, 14 April

Tak ada suara kehidupan.

Tak ada televisi menyala, tak ada teriakan anak-anak yang biasanya memantul di gang sempit, bahkan suara kendaraan pun telah lama menghilang. Sore itu hanya menyisakan kesunyian dan udara dingin khas dataran tinggi Bandung yang menempel di kulit.

Freya dan Ashel berjalan berdampingan, langkah mereka otomatis melambat.

"Shel," Freya menoleh ke depan, "kayaknya di ujung sana ada minimarket. Mau coba cari sesuatu di sana?"

Ashel mengikuti arah pandangnya. Sebuah bangunan kecil berdiri agak terpisah dari rumah-rumah sekitar. Warna merah dan kuningnya kusam, kaca depan retak di beberapa sisi, rolling door setengah tertutup-jelas pernah dibuka paksa.

"Boleh," jawab Ashel. "Siapa tahu masih ada yang bisa diambil."

Area parkirnya kosong, kecuali sebuah mobil tua tanpa satu roda. Karat memakan hampir seluruh bodinya. Sepertinya sudah ada sebelum wabah ini menyebar?

Di dalam, listrik mati. Rak-rak berantakan, sebagian besar kosong. Sunyi-namun bukan sunyi yang menenangkan.

-

Di dalam minimarket itu, Adel berdiri di dekat rak minuman. Tangannya bergerak pelan, memasukkan botol-botol yang masih tersegel ke dalam ransel.

Namun pandangannya terus kembali ke satu titik.

Meja kasir.

Flora duduk di sana, bahunya sedikit membungkuk. Wajahnya pucat, napasnya sudah stabil tapi matanya masih menyimpan sisa ketakutan.

Adel menutup ranselnya, lalu mengambil satu botol air dan berjalan mendekat.

"Oy, Flo," suaranya diturunkan, "gimana keadaan lu?"

Flora mendongak. "Gapapa. Udah jauh lebih baik."

Adel menyerahkan botol itu ke tangannya. "Minum dulu."

Flora menerimanya dengan kedua tangan. "Makasih."

Adel menghela napas pendek. "Gue hampir aja kehilangan lu," gumamnya lirih, lebih ke diri sendiri.

"Udah, Del," Flora menatapnya, "bukan salah lu. Lagipula ada mereka berdua yang nolongin gue."

-

Di sudut lain minimarket, dua gadis lainnya sibuk dengan urusannya masing-masing.

Gadis berkaus lusuh bertuliskan I Love Pizza sibuk memilah camilan tanpa rasa bersalah, sementara gadis berambut gelap dengan ekspresi datar fokus pada obat-obatan dan barang logistik kecil.

"Zee," gadis itu mengangkat dua bungkus keripik singkong, "menurut lu enakan yang mana?"

"Ambil dua-duanya," jawab gadis berambut gelap tanpa menoleh.

"Ck, dasar kulkas," gumamnya, tapi tetap memasukkan keduanya ke tas.

-

Kembali ke meja kasir, Adel dan Flora kini sama-sama memegang cokelat batangan.

"Kapan lagi," ujar Adel singkat sebelum menggigit cokelatnya.

Flora terkekeh kecil. "Kalo dunia masih normal, gue ga bakal beli cokelat mahal gini."

Saat Adel meraih tasnya lagi, sikunya tak sengaja menyenggol rak kecil.

Klang!

Satu kaleng jatuh, menggelinding di lantai.

RUN AND HIDECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang