Bab 14 : Genting!

15 3 0
                                        

Suhu ruangan mendadak drop. Oksigen seperti mendadak menghilang.

Mereka yang baru saja sempat bernapas sejenak, kini harus kembali berpacu dengan adrenalin.

Bukan hanya soal kondisi tubuh mereka yang sudah kacau.

Kini jauh lebih buruk dari sebelumnya.

Sekarang... batas ambang kematian hanya berjarak tak lebih dari satu helai rambut.

Mayat di depan mereka mulai membuka mulutnya. Gerakannya kasar, kaku, namun penuh tenaga. Seperti mesin rusak yang dipaksa hidup kembali. Dari tenggorokannya keluar suara busuk yang membuat bulu kuduk meremang.

Lalu ia meraung, menerjang ke depan.

"GWAARRR...!"

Nasib apes kali ini jelas berpihak pada Adel.

Walau ia tidak berdiri tepat di jalur serangan, entah kenapa makhluk itu malah mengincarnya.

"Anjing!" Adel memaki sambil mundur panik.

Serangan nya meleset.

Keadaan semakin chaos ketika mulai terdengar langkah kaki berdatangan.

Bukan langkah yang teratur.

Tapi gemuruh dari segala penjuru, seperti badai yang tiba-tiba merobohkan sebuah gubuk kecil.

"Sialan... mereka kepancing sama suara dia." Marsha menggerutu. Wajahnya tegang, matanya liar.

Satu mayat hidup saja sudah jadi bencana.

Tapi kalau yang datang dari luar sebanyak yang terdengar...

itu bukan lagi bencana.

Itu kiamat.

Mayat itu kembali menerjang. Adel hampir jatuh saat berusaha menghindar, dan tepat ketika tangan makhluk itu nyaris meraih kerah bajunya...

Ashel reflek menghantam kepala mayat itu dengan besi panjang yang ia genggam.

PUNG!

Mayat itu tersungkur, menabrak rak-rak kosong.

Namun bukannya membuat keadaan aman...

itu malah menambah masalah.

Rak-rak yang ditabrak mulai berjatuhan seperti domino.

BRAK! BRAK! BRAK!

Dentuman keras menggema di dalam minimarket, memantul ke seluruh ruangan.

Dan suara itu...

seperti undangan.

Dari luar, erangan makin keras.

Makin dekat.

Bahkan rolling door yang menjadi benteng pertahanan mereka mulai mengeluarkan suara aneh. Besinya bergetar, seperti dipaksa mundur oleh kekuatan yang tidak masuk akal.

Dorongan dari luar makin brutal.

Rolling door itu terdorong sedikit demi sedikit ke dalam.

Itu membuat kepanikan semakin memuncak.

Satu masalah belum selesai, masalah lain sudah datang lebih dulu.

Azizi langsung mengambil keputusan cepat.

"Adel, Freya bantu gue nahan depan!"

"Ashel, Marsha, cepet habisin dia!"

Suara baritonnya terdengar jelas. Tidak ada ruang untuk debat. Tidak ada ruang untuk takut.

RUN AND HIDECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang