Bab 8 : Tanda dan perkenalan

34 6 1
                                        

Bandung, 15 April

Azizi terbangun dengan perasaan yang salah.

Bukan karena mimpi buruk, bukan pula karena suara aneh. Justru karena rumah itu terlalu sunyi. Sunyi yang rapi, seolah malam tadi berjalan tanpa kesalahan—padahal Azizi tahu, dunia seperti ini tak pernah rapi tanpa alasan.

Cahaya pagi merambat masuk dari celah tirai, menyentuh lantai dan dinding yang semalam hanya diterangi nyala lilin. Lilin-lilin itu kini telah mengeras, membentuk genangan beku seperti sisa waktu yang tertinggal.

Azizi mengedarkan pandangan. Napasnya tertahan.

Ada yang berubah.

"Frey," bisiknya pelan. "Bangun."

Freya menggeliat malas, mengucek mata. "Kenapa sih..."

Azizi sudah berdiri sebelum Freya sepenuhnya sadar. Freya dengan enggan mengekor dibelakang, Azizi melangkah ke pintu depan, memeriksa gagang, engsel, dan kunci. Tidak rusak. Tidak dipaksa.

"Mereka masuk tadi malam," ucapnya dingin.

Freya berhenti bergerak. "Masuk... gimana?"

"Kita kecolongan."

"Apa?" Freya refleks menaikkan suara, lalu menurunkannya lagi. "Lu serius?"

Azizi mengangguk. "Dan jangan bilang ke yang lain dulu."

Freya menoleh ke arah empat tubuh yang masih terlelap. Wajah-wajah yang belum tahu kalau rasa aman itu ternyata bisa hilang tanpa suara.
"Mereka cepet banget," gumamnya.

"Bantu gue cek logistik. Bangunin Ashel."

Freya bergerak otomatis. Saat menepuk pipi Ashel, detak jantungnya masih belum tenang.

"Shel. Bangun."

Ashel mengerang, lalu membuka mata. "Kenapa?"

"Mereka masuk rumah ini."

Kalimat itu cukup. Ashel langsung duduk.

Azizi sudah membongkar tas logistik. Makanan, obat-obatan, peralatan—semuanya dikeluarkan dan dicek satu per satu. Terlalu rapi. Terlalu utuh.

"Nggak ada yang hilang," katanya pelan.

Justru itu yang membuat dada Freya terasa makin sesak.

"Terus ngapain mereka ke sini?" tanya Ashel lirih.

Freya hendak menjawab, tapi pandangannya tertarik ke arah jendela. Di salah satu kaca, menempel sebuah simbol hitam. Bersih. Sederhana. Sengaja.

"Itu apa...?" tunjuknya.

Mereka mendekat. Azizi menatap simbol itu lama, seolah sedang membaca sesuatu yang tak tertulis.

"Oke," katanya akhirnya. "Sekarang gue ngerti."

"Nger­ti apa?" tanya Ashel.

"Mereka nggak mau nyuri. Mereka mau nunjukin kalau mereka bisa masuk kapan aja."

Freya mengusap wajahnya. "Jadi ini warning?"

"Bukan," Azizi menggeleng pelan. "Ini perkenalan."

Ruangan terasa mengecil.

"Kita cabut hari ini," kata Freya cepat. "Nggak ada nunggu, sampe besok."

Azizi menoleh ke Ashel.
Ashel mengangguk. "Setuju. Semakin lama kita di sini, semakin gampang kita dibaca."

"Bangunin yang lain," putus Azizi. "Kita makan cepat."

Dentang sendok beradu terdengar jelas di pagi yang dingin. Suara sederhana itu terasa mahal—terlalu normal untuk dunia yang sudah runtuh.

RUN AND HIDECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang