Bab 9 : Bayang-bayang

31 6 2
                                        

Bangunan-bangunan tinggi mulai menyambut langkah mereka. Jalur yang sebelumnya dibatasi deretan pinus kini berubah menjadi lorong beton—gedung-gedung kosong berdiri bisu, jendelanya menganga seperti mata mati yang mengawasi.

"Aduh, sepatu gue kena darah." gerutu Adel sambil menatap kakinya dengan ekspresi sebal.

Marsha melirik sekilas, lalu mendengus santai. "Yaudah sih. Emang sebelum itu baunya wangi?"

"Woy! Mulut lu dijaga dikit," sewot Adel.

Marsha terkekeh. "Bercanda, Bang."

"Bang-bang. Gue ini cewek tulen dari lahir," balas Adel tak mau kalah.

Perdebatan kecil itu—sepele, nyaris konyol—sedikit mencairkan sisa ketegangan yang masih menggantung sejak mereka menemukan mayat tadi. Setidaknya, tawa tipis itu berhasil menarik Flora keluar dari diamnya. Sudut bibirnya terangkat samar, meski matanya masih menyimpan bayangan yang sama.

———

"Di depan, kita ambil gang kanan," perintah Azizi.

Ashel mengernyit heran, tapi memilih tak bertanya. Ia sudah mulai terbiasa mengikuti insting Azizi.

Beberapa langkah kemudian, Azizi memperlambat lajunya dan menoleh ke Freya. "Lu pimpin depan. Gue ambil posisi belakang."

Freya mengangguk singkat. Tanpa banyak kata, mereka bertukar posisi.

Hampir satu jam mereka berjalan. Nafas mulai berat, langkah kian melambat. Di antara mereka semua, Flora yang paling terlihat kewalahan. Bahunya naik turun, keringat menempel di pelipisnya.

Ashel melirik ke samping. "Lu udah capek banget?"

Flora menggeleng cepat, mencoba tersenyum. "Nggak. Masih kuat. Lanjut aja."
Nada suaranya terdengar lebih seperti permohonan daripada jawaban.

Ashel tak memaksa. Ia justru berbalik sedikit, menatap Azizi yang berada tepat di belakangnya. "Kita rest dulu. Udah jauh."

Azizi menimbang sejenak, lalu mengangguk. "Oke. Tapi keluarin dulu dari gang ini. Tinggal beberapa belokan."

Tak lama kemudian, gang sempit itu berakhir. Jalan raya terbuka di depan mereka—sunyi, penuh retakan aspal, dan dipagari bangunan-bangunan tua.

"Kanan apa kiri?" tanya Freya dari depan.

"Kanan. Ada ruko-ruko. Kita berhenti di sana," jawab Azizi.

Freya melangkah lebih dulu, tubuhnya menghilang di balik tikungan. Namun begitu melihat deretan ruko yang dimaksud, langkahnya terhenti sesaat.

Di salah satu dinding—sedikit tersembunyi di balik bayangan—terdapat simbol hitam yang familiar. Bentuknya sama seperti yang ia lihat sebelumnya. Namun kali ini, garisnya kasar. Tak rapi. Seolah digambar terburu-buru... lalu ditinggalkan.

Freya menelan ludah. Ia memilih diam.

Satu per satu teman-temannya muncul di belakangnya.

"Akhirnya istirahat," ujar Adel lega, nyaris menjatuhkan ranselnya.

Flora ikut menghembuskan napas panjang. Dalam hati, ia bersyukur akhirnya ada jeda. Ia tak tahu apakah kakinya sanggup berjalan lebih jauh lagi.

Sementara yang lain sudah bergerak menuju ruko, Freya sengaja memperlambat langkah. Ia menunggu Azizi sejajar dengannya.

"Coba liat itu," bisiknya nyaris tak terdengar, memberi isyarat ke dinding.

Azizi melirik cepat. Matanya menyipit. "Nggak selesai," gumamnya. "Mereka buru-buru."

RUN AND HIDECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang