22: Pilihan

434 20 6
                                        


Hari ini adalah hari ketiga Shasa di rumah sakit. Saat membuka mata, ia hanya mendapati ruangannya kosong. Tidak ada suara, tidak ada siapa pun, hanya ada dirinya sendiri.

Pagi itu, sesuatu dalam diri Shasa terasa berbeda. Ada bagian dari jiwanya yang seolah hilang, membuatnya tak tahu lagi harus melangkah ke mana setelah semua ini. Hidupnya tiba-tiba terasa seperti jalan panjang tanpa arah. Perasaan ini terasa begitu familiar bagi Shasa, seolah ia kembali ke masa kecilnya masa ketika sunyi menjadi satu-satunya teman dan kesepian adalah bayangan yang selalu menempel.

Lalu, pada saat itu, Kenneth hadir seperti cahaya. Ia menarik Shasa dengan hangat, membawanya perlahan keluar dari kegelapan menuju awal yang lebih terang.

Kini, apakah Kenneth akan kembali menariknya dari kegelapan? Shasa bertanya sekali lagi dalam hati. Apakah ia dan Kenneth sudah benar-benar berakhir?

Shasa harus berbuat apa? Fakta menyakitkan datang bertubi-tubi. Fakta bahwa ternyata ayahnya pun telah lama menderita membuatnya sangat terpukul.

Bibi Shinta bilang, Richard selama ini sakit. Ia sengaja menjauhi Shasa karena tidak ingin putrinya menyayanginya, apalagi sampai bergantung padanya. Richard takut jika suatu hari dirinya pergi dan tak pernah kembali untuk selama-lamanya, Shasa akan sedih. Ia tak suka melihat putrinya menangis.

Bibi Shinta juga bilang bahwa Kenneth dan Richard bukanlah sebuah pilihan. Shasa memang seharusnya bersama ayahnya. Bagaimanapun juga, Richard adalah satu-satunya keluarga yang ia punya. Jika Kenneth mencintai Shasa, ia harus menerima kenyataan itu.

Shasa menoleh ketika melihat Jeff datang membawa sarapan bersama suster. Ia sontak bangun dari tidurnya.

“Jeff, mana Papah?”

Jeffry menunduk

“Beliau sedang ada urusan pekerjaan, Nona. Jika sudah selesai, nanti langsung menemui Nona.”

Shasa menggeleng

“Jeff bohong. Tolong jujur sama aku. Bibi Shinta sudah cerita semuanya tentang Papah.”

Sebelum menjawab, Jeffry menyuruh suster yang datang bersamanya untuk pergi.

“Maaf, Nona…”

“Jeff mau lihat aku marah?”

Jeffry menghela napas

“Baiklah, tapi Nona tenang dulu. Tuan Richard sedang menjalani pengobatan. Beliau akan kembali setelah kondisinya membaik.”

Jadi, selama ini Papah pergi bukan karena mementingkan pekerjaannya seperti yang Shasa kira. Ayahnya juga sedang berjuang untuk hidupnya sendiri.

“Papah sakit apa?”

Jeffry kembali terdiam.

“Jeff!”

“Leukemia…” Jeffry memejamkan mata sejenak sebelum melanjutkan, “Stadium akhir.”

Leukemia?

Tidak mungkin. Ayahnya kemarin masih terlihat sehat, masih bisa tertawa. Shasa menunduk, jarinya meremas ujung bajunya sendiri. Ia terisak keras.

“P-Papah bisa sembuh, kan, Jeff?” tanya Shasa penuh harap.

“Tentu,” jawab Jeffry dengan senyum meyakinkan, walaupun ia tahu betul kemungkinan tuannya untuk sembuh sangat kecil. Dalam kondisi separah ini, pengobatan dan kemoterapi hanya meredakan gejala dan memperpanjang hidup bukan benar-benar menyembuhkan.

“P-Papah…” ucapnya lirih.

Shasa meminta maaf karena ayahnya harus berjuang sendirian selama ini. Kini ia berjanji akan selalu berada di samping Richard, apa pun kondisinya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

KENNETH [Possesive boyfriend]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang