Pelita itu, masih bersama
••• HAPPY READING •••
Di musim peralihan yang sulit untuk diprediksi, Leonard dan Ratih di landa tanda tanya yang besar. Bumi seperti sedang berhenti pada satu titik; sebuah harap. Pagi buta yang masih di hiasi oleh sisa-sisa cahaya dari lampu yang kini mulai di ganti oleh arunika di ujung timur yang menunjukkan keindahannya. Mobil Leonard berjalan cepat membelah apa saja yang ada hadapannya. Setelah mendapatkan kabar bahwa seseorang telah menemukan Kay di perairan Batam, saat itu juga keduanya langsung berangkat ke lokasi.
Di sepanjang perjalanan, Leonard tidak berhenti mengucap syukur kepada sang maha kuasa. Begitu baik zat maha pengasih dan bahwa penyayang. Meksipun ia tidak sebaik itu sebagai seorang hamba, tapi Allah memberikan ia kesempatan sekali lagi. Jika Kay selamat, Leonard akan berjanji bahwa ia akan melupakan semua masalalu; tentang Kay, tentang bagaimana ia hadir di bumi, atau tentang kisah ia bersama ibu kandung Kay. Leonard akan menerima apa yang sudah Allah tentukan. Ia akan mencintai Ratih, ia akan berusaha memberi kebahagiaan untuk Kay dan Ratih. Ia akan menerima Kay tanpa melihat masalalu yang ada. Namun jika ternyata Kay tidak selamat, maka ia akan memakamkan dengan layak dan baik.
Sebuah panggilan mampu menambah kegundahan Leonard. Di layar ponselnya, terpampang nama sang kakak, Anggeline Hudson. Dahinya mengernyit saat nomor itu aktif kembali. Sebelum benar-benar mengangkat nya, hati Leonard di landa kegundahan yang besar. Sang kakak? Apa sang kakak juga di temukan? Ia menarik tombol hijau ke atas. Membawa ponsel itu ke dekat telinga.
"Papa?"
Tubuh Leonard menegang, tangan kerasnya itu menoleh pada Ratih. Sang puan membulat kan matanya, seolah bertanya ada apa? Wajahnya tidak bisa berbohong bahwa ada banyak kekhwatiran yang penuh tanda tanya.
"Troy berhenti." Perintah Leonard tanpa memperdulikan panggilannya.
Troy melirik sang tuan dari spion, raut keheranan terlihat jelas di sana. Hati Troy yang ikut bergemuruh itu, hanya bisa menuruti perintah. Ia menepi ke sisi jalan.
"Mas."
Ratih melirik Leonard yang masih duduk kaku di sampingnya. Dan di saat itulah, untuk kesekian kalinya, Ratih melihat pelupuk mata Leonard berlinang. Derasnya turun begitu saja, bahkan tangan yang memegang ponsel itu terasa lemas sampai-sampai benda pipih milik Leonard terlepas. Jatuh di antara sang puan dan istrinya.
Dengan tangan gemetar serta tangis yang tidak tahu penyebabnya. Ratih menerima pelukan Leonard saat pria itu menubruk Ratih, mencurah sesuatu yang Ratih tidak bisa mengerti. Namun, satu hal dalam benaknya.
"Ada sesuatu yang terjadi pada Kay?" Tanya Ratih. Berusaha untuk tenang, meskipun ada nada khawatir di sana.
Namun, kekhawatiran dan kegelisahan Ratih hilang saat merasakan gelengan lembut dari Leonard.
Sesaat, Leonard melepaskan pelukannya. Ia menatap Ratih lalu menghapus air matanya dan tersenyum haru. Leonard merasa lega, seolah beban di dadanya hilang seketika, meskipun timbul banyak pertanyaan di kepalanya. Ia kembali tersenyum saat melihat wajah Ratih penuh dengan kepanikan.
"Kau kenapa?" Ratih bertanya lagi. Ia memegang kedua rahang Leonard. Seolah mencari tahu apa yang membuat sang puan melakukan demikian.
"Kay."
"Ada apa dengan Kay?"
"Dia, selamat." Ungkap Leonard.
Ratih, Troy, keduanya terdiam saat mendengar jawaban dari Leonard. Ratih menutup mulutnya tidak percaya, tapi merasa bahagia secara bersamaan. Troy yang di depan, ia melirik sang tuan penuh tanda tanya besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serayu|Proses Revisi
Fiction GénéraleSegudang luka yang di alami seorang gadis berusia 20 tahun. Saat nenek dan kakek yang mengurus nya sejak lima tahun lalu ketika orang tuanya pergi untuk selamanya, membicarakan keinginannya untuk menjodohkan ia dengan cucu sang nenek, di sanalah pen...
