She's Back

96 11 0
                                        

Malam itu Renjana menginap di rumah sakit, ditemani oleh Paul dan kekasih Novia, Nayl Baskara. Sementara Nabila, Syarla, Anggis dan Novia kembali ke apartemen setelah memastikan bahwa sahabatnya akan baik-baik saja bersama ketiga lelaki itu. 

Saat hari beralih menjadi hari esok, Renjana Arulian masih saja menatap langit-langit koridor rumah sakit, sementara kedua temannya telah tertidur pulas menyandarkan diri pada kursi panjang ruang tunggu pasien. Malam semakin malam, begitupun gelap semakin pekat memaksa tubuh untuk mengerdil dalam gigil. Dalam keheningan malam, pikirannya semaki berisik atas rasa bersalahnya kepada wanita itu. Wanita yang suaranya akhir-akhir ini menjadi alasannya untuk merasakan apa itu rindu.

Lelaki itu bangkit, mendekatkan dirinya pada pintu kamar ICU. Diamatinya wanita itu, lekat melewati jendela kaca. Ia melihat tubuh Salsa bergerak, wanita itu terbangun.

Renjana mendekat, duduk persis di samping wanita itu. Memberanikan diri menggenggam tangannya.

"Sal..." ucap lelaki itu, lirih.

Salsa tersenyum, tipis sekali. Matanya mulai terbuka perlahan, beradaptasi dengan cahaya lampu yang cukup mengganggu.

"Ren.."

Lelaki itu menggenggam tangannya, lebih erat. "Ya?"

"Gue sakit ya?"

Kini giliran Renjana yang tersenyum. "Lu pingsan, kebanyakan makan taichan"

Salsa tersenyum lagi, lebih lebar.

"Lu jangan kebanyakan omong, plis. Diem dulu." omel lelaki itu, membuat Salsa terus tersenyum di balik alat bantu pernapasannya.

Wanita itu memejam lagi. Namun ia merasakan genggaman hangat lelaki disampingnya, yang sedikitpun tak memberi celah pada angin untuk menyusup diantara tangan keduanya.

"Gue boleh kan genggam tangan lu?" suara berat itu mengganggunya, membuat desir itu kembali, bahkan saat seluruh tubuhnya terasa mati rasa.

Salsa menggeleng pelan. "Jangan, Ren."

Renjana melonggarkan genggamannya, mencoba memisahkan jari-jarinya yang masih bertaut.

"Jangan dilepas." ucap wanita itu, dibalik senyumnya, membuat dada lelaki itu membuncah tiada terkira.

"Sal, anjir." umpatnya, merekatkan kembali jari-jari miliknya dengan jari lentik Salsa. "Lu selalu bikin gue gila."

Hati lelaki itu berlinang sukacita, begitu penuh. Wanita itu telah kembali, ke sisinya.

"Sal, lu jangan kemana-mana, ya." bisik lelaki itu, dalam keheningan.

**

Lelaki rambut ikal itu melangkahkan kakinya terburu-buru. Pagi ini ia terbang dari Surabaya dengan hati yang cemas tidak terkira. Namun kabar dari Novia yang memberitahunya bahawa Salsa sudah kembali sadar, sedikit membantunya meraih lega. 

"Bang Aman." ucap Paul, ketika lelaki itu menghampirinya di depan kamar rawat inap. Dengan segera, ia memeluk Rahman, kakak sahabatnya yang dulu selalu meminjaminya sepeda saat lelaki itu masih tinggal di Jakarta.

"Salsa dimana?" tanya Rahman, sesaat setelah melepas pelukan lelaki yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

Paul menunjuk ruangan di belakangnya. "Ada di dalem bang. Pagi tadi baru keluar dari ICU."

Kedua lelaki itu lantas masuk ke dalam ruangan putih, berisi bangsal pasien dan beberapa sofa tunggu. Mata Rahman menangkap dua orang wanita yang sangat ia kenal, serta seorang lelaki yang kini sedang tertidur pulas di atas sofa.

"Bang!!" Gadis kecil itu berlari ke arahnya, memeluk lelaki yang matanya mulai berkaca-kaca melihat adik perempuannya terbaring, masih dengan alat bantu pernafasan dan juga infus yang terpasang pada lengan kirinya.

SUNSHINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang