Kelima lelaki itu sudah memasuki lobby Bhumi Consultant, ketika hari mulai menggelap. Ada beberapa hal yang harus kembali mereka bedah dan telaah, bersama Pak Ali, sebelum wanita yang baru saja keluar dari lift itu membuat Renjana terkejut sesaat.
"Hei Sal, mau pulang?" sapa Nayl, yang baru saja akan melangkahkan kaki kanannya memasuki lift.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. "Iya, Bang. Gimana sidangnya? Sukses?"
"Aman. Leader timnya udah teruji." jawab Nayl, disahut tawa kecil dari Daniel dan Dimansyah, yang kini sudah mendahuluinya masuk ke dalam lift. Membuat wanita itu melirik ke arah Renjana, yang masih berdiam diri di samping pintu lift, yang sialnya juga sedang menatap persis ke arahnya.
"Ayo, Ren." ajak Paul, menyusul ketiga temannya, sesaat setelah ia sempat menonyor ringan lengan sahabat wanitanya itu, membuat Salsa mencibir kecil.
"Duluan aja." ucap Renjana, yang dibalas dengan dehaman-dehaman jahil yang saling bergantian, tepat sebelum pintu lift itu tertutup sempurna menyisakan dua orang yang saling melempar hening.
"Sal, gue mau ngomong sebentar." ucap lelaki itu serius.
Wanita itu menatapnya. "Ya tinggal ngomong aja sih, Ren."
"Sorry buat yang kemarin."
Salsa hanya diam di tempatnya. Menanti kata-kata apa lagi yang akan keluar dari mulut lelaki itu. Meskipun hasilnya nihil.
"Buat apa?" suara Salsa terdengar mengintimidasi, ada nada kekesalan yang sedikit mendominasi.
Tatapan lelaki itu semakin dalam, sedikit membuat wanita itu tak nyaman. "Gue salah, Sal. Harusnya gue nggak plin-plan waktu itu."
Wanita berkacamata itu diam sebentar, menerawang jauh ke dalam sorot mata yang meresahkan itu. Seperti telah mendapat jawaban, ia lantas mengangguk.
"Lu maafin gue?" tanya Renjana, bersemangat. Wajahnya yang letih, seakan terhapus oleh sorot matanya yang tiba-tiba berbinar.
Wanita dihadapannya mengernyit. "Lu kenapa, sih?"
Lelaki itu tersenyum, lega. Ia sendiri tak bisa memahami mengapa hatinya sedamai itu sekarang.
"Sal, gue boleh ajak lu jalan?" ucapan itu begitu saja keluar dari mulut lelaki itu.
Deg.
Tiba-tiba hati wanita itu merasa sesuatu yang aneh. Kesal namun ada kupu-kupu kecil dalam dadanya menyerang, tubuhnya seperti diterjang dopamin.
"Lu baru minta maaf, Ren." jawab Salsa menggeleng-gelengkan kepalanya, heran dengan kenekatan lelaki didepannya itu. "Nekat banget udah bikin janji lagi."
Lelaki itu tersenyum tipis. "Nanti malem, ya? Gue jemput lu di appart."
"Kenapa harus malem ini banget, sih?" tanya wanita itu, galak yang entah kapan telah menjadi favorit Renjana, seperti biasanya.
"Gue kangen."
**
Lelaki tampan yang sudah kembali bersemangat itu lantas menaiki lift menuju lantai lima, ke dalam ruangan Pak Ali yang telah dipenuhi oleh keempat rekannya. Empat pasang mata itu kompak melirik ke arah Renjana, tepat ketika pintu itu terbuka.
"Udah kelar urusan asmara lu?" tembak Paul, sarkas tanpa basa-basi. Membuat ketiga lelaki di dekatnya sibuk menahan tawa.
"Bacot." ucap Renjana selirih mungkin, menghindari perhatian Pak Ali yang untungnya masih sibuk di depan layar komputer di mejanya. Menyiapkan materi untuk evaluasi tim hari ini.
Lelaki itu kemudian membawa tubuhnya disamping Paul, berhadapan dengan Nayl dan Dimasnyah. Sementara Daniel duduk pada single sofa persis di sisi kiri Renjana.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNSHINE
RomansaTerkadang, takdir adalah satu-satunya alasan kita percaya bahwa segala sesuatu telah diatur dengan sempurna. Renjana Arulian terjebak dalam perasaan cinta pada Sherina Salsabila, wanita yang hanya ia jadikan sebagai pembuktian ego diri nya. Bagaiman...
