November Rain

84 11 1
                                        

If we could take the time to lay it on the line

I could rest my head just knowin' that you were mine

All mine

So if you want to love me

Then darlin' don'r refrain

Or I'l just end up walkin'

In the Cold November Rain

Suara sengau lelaki itu memenuhi mobil, membersamai suara Axl Rose, menyelami lirik-lirik indah yang dibawakan oleh band tahun 80'an itu. Mencoba membunuh waktu dalam riuhnya kendaraan yang tidak juga bergerak dihadapannya.

Lelaki itu berpindah tempat, setelah mengahbiskan paginya untuk menemui kliennya di penjara. Membahas pledoi pada persidangan esok lusa setealh putusan tuntutan seminggu yang lalu keluar. Kini, ia mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, tempat akhir-akhir ini menjadi tempat yang paling sering ia kunjungi.

Macet Jakarta sudah menjadi bagian yang harus ia terima setiap harinya, berbeda sekali saat lelaki itu hidup di Australia beberapa tahun terakhir. Namun di tempat inilah, ia menemukan tempatnya pulang. Bukan hanya apartemen mewahnya di lantai lima belas itu, atau rumah gedong orang tuanya di Jakarta Selatan, namun sebuah pelukan hangat wanita berkacamatanya.

Ponselnya berdering. Lelaki itu tersenyum lebar melihat nama seseorang muncul di layar.

"Hallo, Sal."

Suara wanita di seberang sana memenuhi telinganya, membuat senyum lebarnya tak henti bermekar.

"Masih di jalan, sayang. Sabar ya, macet banget."

"Nasi bebek? Kamu nggak bosen, ya? Takut banget kalau kebanyakan, lama-lama kamu suka baris."

Terdengar wanitanya mengomel di ujung telepon, membuat lelaki itu puas menggodanya.

"Iya-iya. Yaudah, aku jalan dulu, ya." ucap Renjana saat melihat kemacetan mulai memudar, satu per satu kendaraan bergerak.

Lelaki itu menutup teleponnya, sesaat sebelum suara di ujung sana membuatnya senyum-senyum sendiri seperti orang gila.

"Hati-hati ya. Bebeknya nggak ada nggak apa-apa. Yang penting kamunya ada."

**

Nabila telah selesai menghabiskan sebungkus nasi bebek dan teh tarik yang dibawakan oleh Renjana. Begitu juga Rahman, yang baru saja kembali dari toilet setelah mencuci tangannya dari sisa-sisa sambal hitam madura. Sementara Renjana dan Salsa yang sudah menghabiskan makanannya terlebih dulu, kini sudah asyik berbincang berdua.

"Jadi, orang yang ngeroyok kamu nggak ketemu?" tanya Salsa, terduduk di atas bangsal.

Renjana menggeleng. "Mereka pakai plat mobil palsu."

"Kamu fokus aja ke persidangan kamu. Semua dokumen yang gue cek, hasilnya udah aku kirim ke email kamu. Karena aku nggak mungkin bisa ikut dateng. Semoga bisa ngebantu buat besuk, ya." ucap wanita itu hangat.

Sementara lelaki itu mentaapnya begitu teduh. "Thanks, Sal."

"Berkat checking dokumen yang kamu cek sebelum kecelakaan, aku udah nemuin satu saksi yang kemungkinan akan jadi tersangka yang sesunguhnya, orang dari dalem perusahan mister Chong sendiri."

Lelaki itu mengambil nafas panjang. "Minimal, bisa jadi pertimbangan untuk keringanan putusan. Menurutku mister Chong bener-bener nggak tahu. Tapi, ngelihat hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini, aku takut kalau semua yang udah aku lakuin nggak sesuai ekspektasi. Aku takut gagal."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SUNSHINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang