Video Call

105 17 1
                                        

Perlahan, Renjana membuka pintu ruangan serba putih itu yang hanya disambut oleh sentuhan dingin AC dan riuhnya keheningan. Ia melihat Rahman yang sudah terlelap di sofa, dan Salsa yang terpejam di atas bangsal, dibalik selimutnya.

Lelaki itu melepas jaketnya, lalu meningalkannya di sofa, tepat di samping Rahman yang sedang meringkuk dalam mimpinya. Ia kemudian mendekat, ke arah wanita yang kini sedang terbaring di tempat yang sama sejak beberapa waktu lalu.

Ia mengamati wajah wanita di hadapanya, sesenti demi sesenti. Jidatnya yang terkurung manis oleh kerudung, alisnya yang rapi, bulu mata lentik dan bibirnya yang mungil seolah menjadi satu kesatuan yang mempesona seperti tak ada cela. Entah sejak kapan, ia menjadi begitu sempurna di mata lelaki itu. Di mata seorang Renjana.

Tanpa suara, ia mendudukkan dirinya di kursi, tepat di samping wanita yang kini tertidur lelap. Ia memandangi paras cantik itu, sembari menyadari bahwa ia begitu rindu.

Wanita itu bergerak, membuat selimutnya tak lagi menutup tubuhnya dengan sempurna. Dengan sabar, lelaki itu memperbaiki kembali selimutnya, sesaat sebelum dua mata indah itu menangkap dirinya.

"Ren?" ucap Salsa kaget.

Renjana tersenyum. "Sorry, ganggu tidur lu, ya?"

Lelaki itu menarik selimutnya sampai menutup dada Salsa. Membiarkan kain itu memeluk wanita di hadapanya dengan kehangatan.

"Udah, sekarang lu bisa lanjut tidur lagi." tambah Renjana kembali menatap sepasang mata yang tidak juga pergi.

"Kok lu di sini? Kapan dateng?"

Lagi-lagi lelaki itu tersenyum. "Barusan."

Salsa mengecek ponselnya. Pukul setengah dua belas malam.

"Ren, ini udah hampir tengah malem." Wanita itu kembali pada Renjana. "Kenapa lu nggak balik appart aja, sih?"

Lelaki itu terus tersenyum, tak menjawab apapun.

"Lu udah makan?" tanya Salsa lagi.

"Udah, Sal."

Wanita itu mengangguk pelan. "Capek, ya?"
Kini giliran Renjana yang menganguk.

"Yaudah, pulang gih, istirahat." ucap wanita itu, galak, seperti biasanya. "Kan lu bisa kesini besuk."

"Gue udah kangen."

Hening. Tidak ada suara lagi. Yang ada hanyalah tatapan rindu dan senyuman manis lelaki di hadapannya.

"Dih." dengus Salsa salang tingkah.

"Lu nggak kangen?" kini tangan lelaki itu sudah mengelus pucuk kepalanya, singkat namun begitu lembut.

Suluruh tubuhnya berdesir. "Anjir." batin wanita itu.

Lelaki itu masih menatapnya, namun Salsa masih saja membeku. Bingung, tak tahu harus menjawab apa.

"Yaudah, lu tidur lagi gih. Gue temenin di sini ngak apa-apa kan?"

"Ngapain?" Lu istirahat aja Ren, di sofa sama bang Aman." perintah Salsa, namun sia-sia.

"Gue masih mau deket lu, sampai kangen gue hilang."

Deg.

Desir dalam dadanya semakin kencang ketika Renjana meraih tangannya dan menempelkannya pada pipi lelaki itu. Sementara kepala Renjana ia sandarkan di sisi bangsal tepat disamping Salsa. Wajah lelah itu kini memejam, dalam duduknya.

"Ren, lu yakin mau tidur begini? Kasihan badan lu."

"Sal, gue kangen banget sama lu." Renjana mengabaikan perkataan Salsa. Ia terjebak dalam kerinduannya sendiri kepada wanita itu.

SUNSHINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang