Lelaki berkemeja putih dengan celana dan sepatu pantofel coklat gelap itu masih sibuk menikmati rokoknya, sembari menunggu kedatangan rekan timnya yang masih dalam perjalanan. Beberapa kali terlihat ia memainkan asap rokok yang keluar dari mulutnya ke arah langit-langit sambil menelaah kembali file dalam ponsel yang dikirim oleh Paul semalam. Tak dapat dipungkiri, beberapa hari terakhir pikiran lelaki itu terasa begitu penuh. Banyak hal terjadi diluar dugaan yang menyita seluruh energi yang ia punya. Ia tahu betul, perkara yang ia tangani kali ini akan mengancam keselamatannya atau bahkan keselamatan orang-orang terdekatnya.
Lamunan lelaki itu membuyar, ketika seorang wanita cantik mendekat kearahnya.
"Li?"
Wanita itu berhambur kepada tubuh lelaki yang menopang pada kap mobil putih milik ayahnya. Ia hanya sontak terdiam melihat tubuhnya yang kini sudah berada dalam pelukan Livana.
"Lu sibuk banget sih, Ren? Sampai telfon gue nggak pernah diangkat." protes wanita itu, masih memeluk tubuhnya, erat.
"Lu ngapain disini, Li?" tanya Renjana, mencoba melonggarkan dekapan.
Alih-alih melepaskan tubuhnya, wanita itu justru mempererat pelukannya. "Gue nggak akan lepasin, sebelum lu janji kalau lu nggak akan ngacangin Whatsaap gue lagi."
Renjana hanya tertawa kecil. "Okey Li, okey."
Kini wanita cantik itu melepaskan pelukannya, bersaman dengan dehaman-dehaman kecil dari segerombolan laki-laki yang baru saja turun dari mobil dan mendekat ke arah mereka.
"Aduh, sorry banget nih ganggu." ucap Daniel dengan tatapan jahil.
"Bacot." umpat Renjana enteng. Ia melempar sisa rokoknya yang tinggal setengah ke lantai, lalu menginjaknya kasar.
Sementara Livana, kini sibuk menyapa teman-teman Renjana sekaligus memperkenalkan diri. Celana waist jeans dipadu dengan crop top warna lavender, membuat penampilan Livana terlihat fresh dan begitu cantik.
Kita tunggu lu di lobby, Ren." kata Nayl, sambil berlalu bersama ketiga temannya. Meninggalkan sepasang muda-mudi itu di basement.
Ia memandang punggung-punggung yang mulai menjauh, sebelum salah satu diantara mereka memalingkan wajah ke arahnya.
"Jangan lama-lama." teriak Paul dengan nada ketus.
Renjana mengabaikannya. Ia kembali pada wanita di hadapannya.
"Lu ngapain disini?" tanya Renjana kedua kalinya.
"Gue ada urusan sama temen." jawab Livana singkat. "Gue beneran nggak nyangka bakal ketemu lu disini hari ini, Ren."
"Lu lagi nggak kena kasus apa-apa kan?" selidik Renjana.
Livana tertawa lebar. Gigi gingsulnya yang tak sempurna justru membuat tawanya menjadi begitu manis.
"Enggak lah." jawabnya enteng. "Lagian kalau misal gue kena kasus, gue pasti udah booking pengacara si Renjana Arulian itu."
Renjana terkekeh. "Bisa aja lu."
"You wanna go?" tanya Renjana dibalas sebuah anggukan kecil dari wanita itu.
"Lu udah mau gabung sama temen-temen lu, ya?"
"Iya. Gue ada sidang bentar lagi."
Livana mengangguk mengerti. "Okey, good luck ya."
"Thanks." Renjana menegakkan tubuhnya, menjauh dari kap mobil. "Lu bawa mobil? Kalau nggak bawa gue pesenin taksi online."
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNSHINE
RomansaTerkadang, takdir adalah satu-satunya alasan kita percaya bahwa segala sesuatu telah diatur dengan sempurna. Renjana Arulian terjebak dalam perasaan cinta pada Sherina Salsabila, wanita yang hanya ia jadikan sebagai pembuktian ego diri nya. Bagaiman...
